Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Bupati Bogor Rudy Susmanto Jadwalkan Tanam Sentra Buah Akhir November 2026 di Tiap Desa

Jabar · Oleh ·

Pemkab Bogor menjadwalkan tanam sentra buah akhir November sampai Desember 2026. Bibit mangga, rambutan, dan alpukat harus disertai peta desa dan rencana perawatan.

Bupati Bogor Rudy Susmanto Jadwalkan Tanam Sentra Buah Akhir November 2026 di Tiap Desa

Pengadaan bibit dan pupuk di Kabupaten Bogor harus disertai rencana lokasi tanam, cara distribusi, sampai petunjuk perawatan. Permintaan itu datang dari Bupati Bogor Rudy Susmanto dalam rapat evaluasi kegiatan 2026 dan penyusunan rencana kerja 2027 di Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Bogor, Selasa (3/11/2026).

Rudy menilai alokasi anggaran lewat APBD tidak cukup berhenti pada pengadaan barang. Setiap bibit yang dibeli harus punya tempat yang jelas dan penanggung jawab yang jelas sampai tanaman berbuah.

"Jangan hanya melihat hasilnya hari ini, tetapi lihat dua sampai tiga tahun ke depan. Kita ingin setiap desa memiliki sentra buah dengan komoditas unggulannya masing-masing. Selain memberikan manfaat lingkungan, hasilnya nanti juga bisa dirasakan langsung oleh masyarakat," ujar Rudy.

Mangga, rambutan, dan alpukat masuk dalam daftar komoditas yang akan dikembangkan. Pemkab akan memetakan desa yang berpotensi lebih dulu, lalu menyesuaikan jenis buah dengan karakteristik tiap wilayah. Bibit tidak dibagikan seragam, tetapi mengikuti kondisi tanah dan iklim setempat.

Baca Juga: Coca-Cola Pasang PLTS Atap 1,4 MW di Bekasi Plant 2 dan Tekan Emisi 1.180 Ton CO2 per Tahun

Penanaman ditargetkan berjalan akhir November hingga Desember 2026. Waktu itu dipilih untuk memanfaatkan musim hujan. Pemerintah desa dan kelompok tani akan dilibatkan dalam pelaksanaan di lapangan.

Keputusan ini penting bagi petani di Bogor dan sekitarnya karena pohon buah baru menghasilkan setelah dua sampai tiga tahun. Kesalahan memilih lokasi atau jenis bibit akan terlihat jauh setelah anggaran terlanjur keluar, sehingga peta desa menjadi penentu.

Selain sentra buah, penanaman direncanakan di 40 kecamatan lewat pengembangan hutan kota dan penghijauan di sejumlah ruas jalan utama. Rencana ini menyusul pemetaan harga pangan di wilayah lain Jawa Barat, seperti yang dilakukan Pemkab Sumedang menjelang 2026.

Baca Juga: Polres Ciamis Siagakan 450 Personel Hadapi Longsor dan Banjir Musim Hujan

Biaya panen dan irigasi ikut dibahas

Pembahasan pertanian 2027 juga menyentuh biaya yang dikeluarkan petani setelah panen. Pemkab menyiapkan pembangunan sejumlah penggilingan padi agar gabah diolah lebih dekat dengan sawah. Jarak yang lebih pendek diharapkan menekan biaya angkut dan pengolahan.

Rudy meminta Distanhorbun memperkuat irigasi dan pendampingan petani. Salah satu sasarannya, sawah tadah hujan bisa berproduksi dua kali setahun. Pemerintah daerah juga menyiapkan alat pertanian dan asuransi bagi petani yang gagal panen akibat kekeringan.

Untuk perkebunan, Pemkab ingin memperkuat pengembangan kopi robusta yang sudah tersebar di sejumlah wilayah. Pembagian bibit jeruk lemon dan pala turut disiapkan. Langkah ini sejalan dengan dorongan peningkatan mutu kopi yang dibahas di daerah lain, seperti upaya Pemkab Kuningan mendorong kualitas kopi untuk pasar ekspor.

Rudy meminta dinas yang menangani pertanian, perikanan dan peternakan, serta ketahanan pangan menyelaraskan lokasi dan waktu kegiatan. Dukungan yang sampai ke warga diharapkan saling melengkapi, bukan tumpang tindih di desa yang sama.

Kesiapan desa menjadi sorotan karena distribusi bibit dan pupuk akan melewati pemerintah desa dan kelompok tani. Sebelumnya, Pemkab Kuningan memaparkan strategi meningkatkan rata-rata lama sekolah ke seluruh pelosok desa, pola pendekatan yang juga menuntut kesiapan aparat desa di lapangan.