Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Pemkab Kuningan Ungkap Strategi Tingkatkan RLS ke Seluruh Pelosok Desa

Jabar · Oleh Nayla Putri ·

Pemerintah Kabupaten Kuningan fokus tingkatkan rata-rata lama sekolah (RLS) ke seluruh pelosok desa melalui kolaborasi semua pemangku kepentingan dan pendataan ATS akurat.

Pemkab Kuningan Ungkap Strategi Tingkatkan RLS ke Seluruh Pelosok Desa

Pemerintah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, telah memfokuskan upaya peningkatan rata-rata lama sekolah (RLS) hingga ke seluruh pelosok desa. Upaya ini tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) semata, melainkan melibatkan seluruh pemangku kepentingan mulai dari tingkat kabupaten hingga desa untuk menangani anak tidak sekolah (ATS).

Latar Belakang Angka RLS Kuningan

Kepala Disdikbud Kabupaten Kuningan Carlan menjelaskan, saat ini rata-rata lama sekolah masyarakat di Kuningan mencapai sekitar 7,91 tahun, setara dengan tingkat pendidikan SMP kelas VIII. Angka ini masih di bawah rata-rata Provinsi Jawa Barat maupun nasional, sehingga perlu adanya langkah percepatan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di daerah tersebut.

Strategi Kolaborasi untuk Data ATS yang Akurat

Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menegaskan bahwa peningkatan RLS tidak dapat diserahkan hanya kepada Disdikbud. Ia menekankan bahwa persoalan ini harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan semua pihak.

"Persoalan ini tidak bisa hanya diserahkan kepada Disdikbud, tetapi harus menjadi gerakan bersama," ujarnya saat ditemui di Kuningan, Jumat lalu.

Untuk mencapai tujuan ini, Dian meminta para camat dan kepala desa untuk melakukan pendataan secara rinci melalui metode pemetaan mikro terhadap anak usia sekolah yang tidak bersekolah. Ia menegaskan bahwa data yang dikumpulkan harus jelas, mulai dari identitas lengkap, alamat, hingga dokumentasi pendukung. Dengan data yang akurat, pemerintah dapat menentukan intervensi yang tepat untuk setiap anak ATS.

Selain itu, data hasil pendataan ini harus diselaraskan dengan berbagai basis data pemerintah seperti Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Hal ini bertujuan agar program bantuan pendidikan dapat tepat sasaran dan tidak terdistribusi ke kelompok yang tidak membutuhkan.

Faktor Penyebab Anak Putus Sekolah di Kuningan

Dian juga mengungkapkan bahwa pemerintah desa harus mengidentifikasi penyebab anak putus sekolah di wilayah masing-masing. Menurutnya, faktor-faktor yang umum menyebabkan anak tidak sekolah antara lain:

Ia menambahkan bahwa tingginya angka pernikahan dini di Kabupaten Kuningan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong meningkatnya angka putus sekolah di daerah tersebut.

Program Pendidikan Kesetaraan Berbasis Desa

Untuk mengejar peningkatan RLS secara masif, Disdikbud Kuningan menyiapkan program pendidikan kesetaraan berbasis desa melalui pembukaan kelas jauh. Program ini akan diluncurkan pada tahun pelajaran 2026-2027.

Carlan menambahkan bahwa program tersebut juga akan melibatkan mahasiswa tingkat akhir dari berbagai perguruan tinggi di Kuningan. Mereka akan bertindak sebagai duta pendidikan non-formal untuk membantu proses pembelajaran warga belajar di desa masing-masing.

"Mahasiswa yang berasal dari desa-desa di Kuningan akan dilibatkan sebagai duta pendidikan non-formal untuk membantu proses pembelajaran warga belajar di desa masing-masing," jelas Carlan.

Menurutnya, keterlibatan mahasiswa ini diharapkan dapat mempermudah akses pendidikan bagi anak-anak di pelosok desa, karena mereka memahami kondisi lokal dan dapat berkomunikasi dengan warga dengan lebih mudah.

Upaya pemkab Kuningan untuk meningkatkan RLS ke seluruh pelosok desa diharapkan dapat mengurangi kesenjangan pendidikan di daerah ini, serta meningkatkan kualitas SDM Kuningan di masa depan. Dengan keterlibatan semua pemangku kepentingan, diharapkan angka RLS Kuningan dapat segera melebihi rata-rata provinsi dan nasional.