PNM Tanam 5.850 Bibit Pohon Endemik di Tujuh Wilayah, Subang Jadi Satu Lokasinya
PNM menanam 5.850 bibit pohon endemik di tujuh wilayah, termasuk Subang, dengan pemantauan tiap enam bulan untuk memastikan tanaman tumbuh dan warga merasakan manfaatnya

Warga di sekitar kawasan penanaman di Subang akan menerima dampak langsung dari 5.850 bibit pohon endemik yang disalurkan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) melalui PNM Peduli. Bibit itu tersebar di tujuh wilayah: Malang, Semarang, Banyuwangi, Magelang, Banjarnegara, Aceh, dan Subang.
Jenis tanaman yang dipilih adalah pinus, cemara, edelweis, anggrek gunung, saninten, puspa, picis atau brasan, dan beringin. Pemilihan jenis endemik itu dimaksudkan menjaga keberagaman vegetasi lokal di tiap kawasan, bukan menyeragamkan tanaman di semua lokasi.
Program ini masuk dalam Green Impact, yang menyasar penghijauan, pelestarian vegetasi lokal, dan pemulihan ekosistem. Pelaksanaannya melibatkan komunitas lokal, pengelola kawasan, pemerintah desa, dan instansi terkait.
Baca Juga: Mahasiswa Untirta Didorong Kawal Pupuk Bersubsidi, Baru 53 Persen Alokasi Banten Tersalur
Pemantauan Jadi Penentu
Direktur Utama PNM Kindaris menilai jumlah bibit bukan ukuran keberhasilan. Menurutnya, penghijauan baru dianggap berhasil jika tanaman benar-benar tumbuh dan manfaatnya dirasakan masyarakat sekitar.
“Penghijauan baru berhasil bila tanaman tumbuh dan manfaatnya dirasakan masyarakat. Karena itu, kami memilih jenis tanaman endemik untuk menjaga keberagaman vegetasi lokal, bekerja bersama komunitas, pengelola kawasan, dan pemerintah desa, serta melakukan monitoring secara berkala,” ujar Kindaris.
Pemantauan dilakukan setiap enam bulan sekali di seluruh wilayah penanaman. PNM memeriksa perkembangan tanaman, mengevaluasi kondisi lapangan, dan memastikan program tetap berjalan.
Baca Juga: Asep Surya Atmaja Buka Pelantikan PCNU Kabupaten Bekasi dan Janji Teken UHC Prioritas
Di Banjarnegara, 500 bibit endemik ditanam di kawasan Gunung Prau melalui penanaman seremonial di Basecamp Dwarawati, Desa Dieng Kulon. Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup Kabupaten Banjarnegara Herrina Indri Hastuti menyebut pohon yang ditanam berperan menjaga ketersediaan air tanah, mencegah erosi, menyerap emisi karbon, dan menyediakan oksigen.
Ia juga menyatakan dampak penanaman baru terlihat beberapa tahun ke depan, sehingga perawatan dan pemantauan menjadi bagian yang tidak bisa dilewatkan.
Lereng Gunung dan Sumber Air
Di Banyuwangi, penanaman berlangsung di lereng Gunung Raung pada ketinggian 3.344 mdpl, tepatnya di Dusun Wonorejo, Desa Kalibaruwetan, Kecamatan Kalibaru. Sebanyak 1.000 bibit ditanam di sana, terdiri dari 500 bibit cemara, 200 bibit durian, dan 300 bibit alpukat.
Penanaman itu diarahkan untuk menjaga sumber air alami dan fungsi kawasan resapan air. Pohon durian dan alpukat diharapkan memberi nilai tambah bagi warga sekitar jika dikelola berkelanjutan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Green Impact 7 Summit Attack PNM 2026. Insan PNM mendaki sejumlah puncak tertinggi di Indonesia dan menanam bibit di lereng gunung yang didaki, disertai aksi pelestarian lingkungan di setiap lokasi.
Rekam Jejak Penghijauan di Jabar
Bagi pembaca di Bandung Raya dan Jawa Barat, penanaman di Subang menyambung sejumlah gerakan penghijauan yang sudah berjalan di wilayah ini. Sepanjang 2024, sebanyak 5,2 juta bibit pohon disalurkan dengan pelajar sebagai ujung tombaknya, seperti tercatat dalam liputan 5,2 juta bibit pohon dan pelajar sebagai kunci penghijauan Bandung.
Di Cianjur, penanaman 500 bibit mahoni di jalur utama juga pernah dilakukan oleh dinas lingkungan hidup setempat, sebagaimana diberitakan dalam artikel DLH Cianjur menanam 500 bibit mahoni di jalur utama. Pola yang sama terlihat: jumlah bibit mudah dicatat, tetapi yang menentukan adalah siapa yang merawatnya setelah tanam.
Pengalaman di Situ Jatijajar, Kota Depok, menunjukkan sisi lain. Penanaman 100 pohon produktif di sana dirangkai dengan kolaborasi kemanusiaan dan media, seperti diulas dalam 100 pohon produktif ditanam di Situ Jatijajar.
Selain menjaga tutupan vegetasi dan keanekaragaman hayati, program ini diharapkan menambah keterlibatan nasabah PNM dan warga dalam merawat lingkungan. Keterlibatan itu dibangun lewat penanaman bersama komunitas lokal dan pemerintah desa.
Yang belum terjawab dari skema ini adalah siapa yang mengurus tanaman pada tahun-tahun pertama, saat bibit paling rentan. Pemantauan enam bulan sekali menjadi janji yang harus dibuktikan di lapangan, termasuk di lokasi penanaman di Subang.