Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Polres Ciamis Siagakan 450 Personel Hadapi Longsor dan Banjir Musim Hujan

Jabar · Oleh ·

Polres Ciamis menyiagakan 450 personel dan TNI 60 personel menghadapi longsor, banjir, dan angin puting beliung di musim hujan, dengan 18 kejadian longsor tercatat.

Polres Ciamis Siagakan 450 Personel Hadapi Longsor dan Banjir Musim Hujan

Kesiapsiagaan Lintas Instansi

Sebanyak 450 personel Polres Ciamis disiagakan menghadapi musim hujan yang mulai berlangsung. Unsur TNI menambah sekitar 60 personel. BPBD, Satpol PP, pemadam kebakaran, dan relawan tanggap bencana ikut dalam barisan yang sama.

Pengecekan personel dan peralatan itu dilakukan lewat apel kesiapsiagaan bencana pada Rabu (4/11/2026). Apel menjadi titik awal pengecekan kesiapan personel, peralatan, serta koordinasi antarinstansi di Kabupaten Ciamis.

Baca Juga: PNM Tanam 5.850 Bibit Pohon Endemik di Tujuh Wilayah, Subang Jadi Satu Lokasinya

Kapolres Ciamis AKBP Eko Iskandar menyebut letak geografis wilayahnya punya tingkat kerawanan yang beragam. Ada kawasan perbukitan dengan struktur tanah yang berpotensi bergerak, ada pula wilayah di sekitar daerah aliran sungai.

"Potensi yang perlu kita waspadai saat ini adalah tanah longsor, banjir, dan angin puting beliung. Apalagi sekarang sudah memasuki musim hujan," kata Eko usai apel.

Ia menyebut potensi pergerakan tanah sudah terlihat di sejumlah lokasi. Salah satunya ditandai robohnya bagian dapur rumah warga yang diduga akibat pergeseran tanah. BPBD Ciamis memasang radar pemantau pergerakan tanah di beberapa titik rawan sebagai bagian dari deteksi dini.

Baca Juga: Mahasiswa Untirta Didorong Kawal Pupuk Bersubsidi, Baru 53 Persen Alokasi Banten Tersalur

Eko menilai sistem peringatan dini itu berperan ganda. Selain untuk pencegahan, alat tersebut dipakai memantau daerah yang rawan pergeseran tanah.

Enam Kecamatan Rawan Gerakan Tanah

Sekretaris Daerah Ciamis Andang Firman Triyadi memaparkan hasil pemetaan pemerintah daerah. Kawasan rawan pergerakan tanah tersebar di Sukamantri, Panumbangan, Panjalu, Panawangan, Rajadesa, dan Tambaksari. Potensi serupa ada di wilayah selatan, dari Pamarican hingga Banjaranyar.

"Kalau untuk gerakan tanah, mulai dari Kecamatan Sukamantri, Panumbangan, Panjalu, bergeser ke Panawangan, Rajadesa, Tambaksari. Kemudian di wilayah atas Pamarican sampai Banjaranyar," kata Andang.

Kawasan yang kerap dilanda banjir antara lain Purwadadi, Pamarican, dan Lakbok. Panumbangan sendiri beberapa kali mengalami longsor. Hingga kini tercatat 18 kejadian longsor di Kabupaten Ciamis, dan pergerakan tanah tetap terjadi meski wilayah itu sebelumnya dilanda kemarau.

Data Kajian Risiko Bencana Kabupaten Ciamis mencatat sembilan kecamatan masuk kategori rawan tanah longsor dengan risiko sedang hingga tinggi. Kesembilannya adalah Banjaranyar, Banjarsari, Cidolog, Cihaurbeuti, Panawangan, Panumbangan, Rancah, Sadananya, dan Tambaksari. Pemetaan itu menjadi acuan penentuan langkah mitigasi.

Catatan 18 kejadian longsor itu perlu dibaca bersama riwayat bencana di sekitar Ciamis. Wilayah Priangan timur berulang kali diterjang longsor dan banjir saat musim hujan, seperti yang kami laporkan dalam liputan bencana hidrometeorologi di Jabar.

Di sisi kesiapan warga, BPBD Ciamis melatih sekitar 135 desa lewat program Desa Tangguh Bencana (Destana). Pelatihan itu membekali masyarakat kemampuan dasar menghadapi situasi darurat. Andang juga mengajak warga kembali menggalakkan lubang biopori untuk menjaga cadangan air tanah, agar musim kemarau berikutnya tidak menyulitkan warga mendapatkan air.

Normalisasi Sungai Baru Sebagian Rampung

Untuk penanganan banjir, Pemkab Ciamis berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) soal normalisasi sejumlah sungai. Sebagian pekerjaan sudah rampung, titik lainnya masih dalam tahap pengusulan. Andang menilai normalisasi itu penting untuk menekan risiko banjir.

Eko menambahkan koordinasi lintas sektoral menjadi kunci penanganan bencana. Pengalaman penanganan kebakaran hutan dan lahan sebelumnya dinilai memperlihatkan pentingnya kerja sama antarlembaga. Ia berharap bencana tidak terjadi di Ciamis, tetapi potensi yang ada tetap tidak boleh diremehkan.

Warga yang membutuhkan bantuan kepolisian dapat menghubungi 110. Laporan tanggap darurat lewat pemerintah daerah bisa disampaikan ke 112.

Di sisi lain, Ciamis belum lama mengakhiri status siaga bencana hidrometeorologi, seperti tercatat dalam laporan BPBD Ciamis mengakhiri siaga bencana hidrometeorologi. Kini sikap siaga itu dihidupkan lagi menghadapi musim hujan.