Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Coca-Cola Pasang PLTS Atap 1,4 MW di Bekasi Plant 2 dan Tekan Emisi 1.180 Ton CO2 per Tahun

Jabar · Oleh ·

Coca-Cola memasang PLTS atap 1,4 MW di Bekasi Plant 2 lewat kerja sama dengan Cikarang Listrindo, menekan emisi 1.180 ton CO2 per tahun.

Coca-Cola Pasang PLTS Atap 1,4 MW di Bekasi Plant 2 dan Tekan Emisi 1.180 Ton CO2 per Tahun

Pabrik Coca-Cola Indonesia di Bekasi Plant 2 kini mendapat pasokan listrik dari panel surya di atapnya sendiri. Kapasitasnya 1,4 megawatt dan emisi karbon yang ditekan mencapai 1.180 ton CO2 per tahun. Bagi kawasan industri Bekasi, angka itu menambah daftar beban listrik yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada jaringan PLN.

Customer Service & Supply Chain Director Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP) Linda Christina Daryanto menyebut energi sebagai bagian penting agar operasional pabrik berjalan andal dan efisien. Perusahaan juga mengakui proses manufaktur punya peran dalam upaya pengurangan emisi dan transisi menuju ekonomi rendah karbon.

"Sebagai perusahaan manufaktur, kami memahami bahwa energi merupakan bagian yang sangat penting dalam memastikan kegiatan operasional berjalan dengan andal dan efisien. Di sisi lain, kami juga menyadari bahwa proses manufaktur memiliki peran penting dalam mendukung upaya pengurangan emisi dan transisi menuju ekonomi rendah karbon," kata Linda dalam peresmian PLTS CCEP Bekasi Plant 2 di Jawa Barat, Rabu (4/11).

Pemasangan di Bekasi Plant 2 bukan yang pertama. Linda menyebut perusahaan sudah memasang solar panel di Bekasi 1, Mega DC Pasuruan, dan pabrik di Semarang. Fasilitas Bekasi Plant 2 menjadi lokasi keempat dalam rangkaian proyek yang sama.

Baca Juga: Polres Ciamis Siagakan 450 Personel Hadapi Longsor dan Banjir Musim Hujan

PLTS atap di Bekasi Plant 2 dikerjakan bersama PT Cikarang Listrindo. Perusahaan itu menyediakan teknologi dan infrastruktur agar energi terbarukan bisa dipakai untuk operasional pabrik. Kerja sama dengan penyedia listrik kawasan ini yang membedakan proyek Bekasi 2 dari pemasangan di lokasi lain.

Linda menilai transformasi energi bisa berjalan lebih cepat ketika pengguna energi, penyedia energi, pemerintah, dan pemangku kepentingan lain bekerja bersama. Pernyataan itu disampaikannya saat meresmikan fasilitas tersebut.

Bagi Jawa Barat, tambahan kapasitas 1,4 MW di satu pabrik memang kecil dibanding kebutuhan listrik kawasan industri secara keseluruhan. Tapi Bekasi dan Karawang menampung banyak pabrik besar yang menuntut pasokan listrik stabil sepanjang hari. Setiap megawatt yang diproduksi sendiri mengurangi tekanan pada jaringan dan menurunkan biaya energi per unit produksi.

Baca Juga: PNM Tanam 5.850 Bibit Pohon Endemik di Tujuh Wilayah, Subang Jadi Satu Lokasinya

Pola yang dipakai Coca-Cola meniru skema yang sudah berjalan di sejumlah proyek energi terbarukan lain di Indonesia, termasuk skema pendanaan PLTS komunitas yang memadukan hibah dan pinjaman. Bedanya, di sini pendananya perusahaan swasta dengan kebutuhan operasional harian yang jelas.

Langkah ini juga sejalan dengan gelombang investasi manufaktur yang masuk ke Jawa Barat dalam beberapa tahun terakhir. Pabrik BYD di Subang dan pabrik kulkas Midea di Karawang sama-sama menambah permintaan listrik di wilayah ini. Pemakaian energi terbarukan di atap pabrik menjadi salah satu cara menahan kenaikan beban itu tanpa menunggu pembangkit baru.

Dari sisi ketenagakerjaan, pemasangan PLTS atap menciptakan pekerjaan teknis yang berbeda dari lini produksi: instalasi panel, perawatan inverter, dan pemantauan output harian. Pekerjaan seperti ini menuntut keterampilan listrik yang tidak semua lulusan SMK di Bekasi dan Karawang miliki. Kesenjangan keterampilan itu yang menentukan apakah nilai tambah proyek semacam ini tinggal di daerah atau dibawa masuk dari luar.

Yang perlu dicatat, perusahaan tidak menyebut berapa nilai investasi pemasangan PLTS atap ini. Tanpa angka biaya, sulit menilai berapa lama penghematan listrik menutup belanja awal panel dan infrastrukturnya. Yang tersedia hanya angka pengurangan emisi, bukan hitungan rupiah.