Mahasiswa Untirta Didorong Kawal Pupuk Bersubsidi, Baru 53 Persen Alokasi Banten Tersalur
Alokasi pupuk bersubsidi Banten 2026 baru tersalur 53 persen. Mahasiswa Untirta diminta mendampingi petani mengurus RDKK dan mengawasi penyaluran lewat koperasi desa.

Petani di Banten baru bisa menebus 71.472 ton dari alokasi pupuk bersubsidi 135.377 ton pada 2026. Angka itu setara 53 persen alokasi, terdiri atas 35.193 ton urea dan 35.765 ton NPK, dengan sisa stok 15.786 ton per 26 Oktober 2026. Di balik angka itu, mahasiswa diminta masuk ke lapangan.
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa menggelar Seminar Ketahanan Pangan bertema "Mewujudkan Pangan Berdaulat, Kontribusi Pemuda bagi Ketahanan Pangan" pada 28 Oktober 2026 di Ruang Student Centre 03, Kampus Utama Sindangsari, Kabupaten Serang. Forum itu mempertemukan akademisi, pelaku usaha lokal, dan mahasiswa. Isu yang dibahas menyentuh distribusi pangan, agribisnis, regenerasi petani, inovasi komoditas lokal, hingga penyaluran pupuk bersubsidi.
Pupuk Bukan Satu-satunya Penentu Panen
Ketua BEM Fakultas Pertanian Untirta 2026, Rafii Rizqi Ramadhan, menyebut petani di Banten masih bergantung pada pupuk bersubsidi. Ia menegaskan persoalan produktivitas tidak boleh disederhanakan menjadi urusan ketersediaan pupuk saja.
Baca Juga: Asep Surya Atmaja Buka Pelantikan PCNU Kabupaten Bekasi dan Janji Teken UHC Prioritas
"Petani di Banten masih membutuhkan pupuk bersubsidi untuk mendukung kegiatan pertanian," ujar Rafii.
Kegagalan panen, menurut Rafii, juga dipengaruhi perubahan cuaca, kualitas lahan, ketersediaan air, dan faktor teknis lain. Karena itu ia meminta pendekatan lintas sektor agar setiap fasilitas pertanian benar-benar berdampak pada produktivitas.
Rafii memaparkan tiga pilar ketahanan pangan, yakni ketersediaan fisik, aksesibilitas ekonomi, dan pemanfaatan pangan. Tantangannya ada pada sumber daya manusia. Sensus Pertanian 2023 mencatat petani milenial usia 19 sampai 39 tahun hanya 6,18 juta orang, atau sekitar 21,93 persen dari total petani Indonesia.
Baca Juga: Otoritas Spanyol Identifikasi 66 dari 69 Korban Tewas Kecelakaan Kereta Cepat di Urda
Seminar itu juga membahas pengalihan penyaluran pupuk bersubsidi ke Koperasi Desa Merah Putih sesuai Perpres Nomor 82 Tahun 2026. Bagi mahasiswa, ruang pengabdiannya ada di situ: mengedukasi mekanisme Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok, mendampingi administrasi petani, dan memantau pelaksanaan program koperasi desa. Syarat penebusan seperti kepemilikan KTP dan keterdaftaran dalam RDKK masih perlu dipahami warga tani.
Di tingkat nasional, hingga 27 Oktober 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi mencapai 7,41 juta ton atau sekitar 75 persen dari alokasi 9,8 juta ton. Kapasitas produksi Pupuk Indonesia tercatat 14,8 juta ton per tahun dengan stok 1,33 juta ton.
Gula Aren Rp20 Ribu Bisa Jadi Rp80 Ribu
Ketua Koperasi Anugerah Aren Banten Nusantara, Sarnata, mendorong anak muda melihat pertanian sebagai sektor ekonomi produktif, bukan pekerjaan konvensional. Banten punya komoditas aren dari Lebak, Serang, dan Pandeglang yang belum tergarap optimal karena masalah distribusi, daya tahan produk, dan akses pasar.
Gula aren mudah rusak, pecah, atau meleleh bila dikirim jarak jauh. Diversifikasi produk menjadi jalan untuk menambah nilai jual.
"Produk gula aren yang semula bernilai Rp20.000 dapat dikembangkan menjadi produk olahan dengan nilai jual hingga Rp80.000," jelas Sarnata.
Koperasi yang dipimpinnya kini membina sekitar 175 petani aren sebagai penyedia bahan baku. Sarnata menyebut dua tahun pertama sebagai periode penting untuk mengevaluasi kelayakan usaha dan mengukur efektivitas model bisnis. Ia juga menekankan pentingnya legalitas, standar keamanan pangan, dan kemitraan B2B agar produk menembus pasar antardaerah.
Soal Distribusi, Bukan Cuma Produksi
Dosen Teknologi Pangan Untirta, Rifqi Ahmad Riyanto, memaparkan ketahanan pangan sebagai persoalan multidimensional. Mengacu pada Global Food Security Index 2022, Indonesia berada di peringkat 63 dari 113 negara dengan skor 60,2. Keterjangkauan pangan relatif baik, tetapi dimensi keberlanjutan dan adaptasi masih tertinggal.
Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Nasional 2026 dari Badan Pangan Nasional masih menandai sejumlah wilayah di Banten sebagai rentan pangan. Sementara produksi beras nasional 2025 naik 13,29 persen menjadi 34,69 juta ton menurut data BPS.
"Peningkatan produksi beras perlu diiringi dengan pemerataan distribusi agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat," ungkap Rifqi.
Rifqi juga menyoroti prakiraan BMKG soal mundurnya awal musim hujan 2026/2027 di 529 zona musim, sekitar 61,08 persen wilayah daratan Indonesia. Persoalan lain adalah food waste yang diperkirakan 23 sampai 48 juta ton per tahun. Bagi warga, angka itu berbicara soal pola konsumsi rumah tangga, bukan hanya urusan pemerintah.
Persoalan yang dibahas di Serang ini dekat dengan apa yang terjadi di Jabar. Di Sumedang, polres setempat menggarap panen jagung 105 ton bersama petani, dan petani Ujungjaya menerima Rp12,5 miliar untuk penguatan usaha tani. Pola pendampingan serupa juga dipakai Polri lewat panen jagung petani di sejumlah daerah.
Rafii juga membuka peluang pemanfaatan program penyediaan air, termasuk operasi modifikasi cuaca dan Program Manunggal Air yang digagas TNI. Program itu bisa dijajaki bersama kelompok tani dan pemerintah daerah, terutama untuk lahan yang masih bergantung pada curah hujan. Bagi mahasiswa, kontribusinya baru berarti kalau keluar dari ruang seminar dan masuk ke pendampingan warga tani.