Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Reynaldi Oktino Sebut ESG Jadi Syarat Daya Saing Bisnis ASEAN di CAFEO 2026 Bandung

Bandung · Oleh ·

Insinyur ASEAN bertemu di CAFEO 2026 Bandung. Reynaldi Oktino menilai ESG kini jadi syarat daya saing bisnis, bukan sekadar kewajiban regulasi.

Reynaldi Oktino Sebut ESG Jadi Syarat Daya Saing Bisnis ASEAN di CAFEO 2026 Bandung

Ratusan insinyur dari negara-negara ASEAN berkumpul di Pullman Bandung International Convention Center pada 20-22 Oktober 2026. Di antara agenda mereka, ada satu topik yang makin menentukan nasib perusahaan di kawasan: cara memasukkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola ke dalam strategi bisnis, bukan sekadar mengejar kewajiban regulasi.

Standar persaingan di Asia Tenggara memang bergeser. Produk berkualitas, harga kompetitif, dan operasional efisien tidak lagi cukup. Kebijakan perdagangan global seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) menekan perusahaan untuk menghitung jejak karbon produknya. Di sisi lain, lembaga keuangan di ASEAN mulai menerapkan taksonomi keuangan berkelanjutan, sehingga akses pembiayaan ikut bergantung pada praktik bisnis yang bertanggung jawab.

Co-Founder sekaligus CIO Olahkarsa Group, Reynaldi Oktino, menilai integrasi Environmental, Social, and Governance (ESG) sudah menjadi bagian dari daya saing, bukan pelengkap laporan tahunan. Ia menyampaikan pandangan itu dalam forum Young Engineers Festival (YEF) 2026, rangkaian konferensi internasional 44th Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO 2026).

Baca Juga: Masjid Agung Paseh Cipaku Baru 50 Persen, Panitia Baru Kumpulkan Rp1,3 Miliar dan Butuh Rp700 Juta Lagi

"Integrasi ESG kini menjadi bagian penting dari daya saing bisnis di kawasan ASEAN. Perusahaan perlu melihat ESG bukan sekadar sebagai pemenuhan regulasi, tetapi sebagai bagian dari strategi bisnis untuk menghadapi perubahan standar perdagangan global, ekspektasi pasar, serta tuntutan investor," ujar Reynaldi.

Menurut Reynaldi, aspek lingkungan dan sosial perlu masuk ke proses pengambilan keputusan bisnis sehari-hari. Ia menilai langkah itu membantu perusahaan membangun daya saing yang lebih kuat sekaligus menjaga keberlanjutan usaha dalam jangka panjang. Materi yang ia bawakan berjudul "Embedding ESG into Business Strategy: Building Sustainable and Competitive ASEAN Enterprises".

Tekanan dari pasar dan investor

Bagi perusahaan di Jawa Barat, tekanan ini datang dari dua arah. Sejumlah pabrik di kawasan industri seperti Bekasi, Karawang, dan Purwakarta berorientasi ekspor, sehingga aturan karbon di negara tujuan langsung memengaruhi biaya dan daya saing produk mereka. Sementara di dalam negeri, bank dan investor makin selektif menyalurkan dana ke usaha yang punya rencana keberlanjutan yang jelas.

Baca Juga: Letkol Cpn Anumerta Dudi Firmansyah Gugur di Kalteng, Jenazah Tiba di Astanaanyar dan Dimakamkan Meninggalkan Istri dan Dua Anak

Isu transparansi dan kepatuhan perusahaan bukan hal baru di Jabar. Sepanjang 2026, sedikitnya 157 perusahaan di provinsi ini sempat diadukan terkait masalah tunjangan hari raya, seperti yang kami laporkan dalam artikel 157 perusahaan di Jabar diadukan masalah THR. Bagi pembaca muda yang baru masuk dunia kerja, standar baru ini berarti pertanyaan yang berbeda saat melamar: bukan hanya soal gaji, tapi juga bagaimana perusahaan memperlakukan pekerjanya dan lingkungan sekitarnya.

Kebutuhan tenaga kerja yang paham keberlanjutan juga merambah sektor lain di wilayah ini. Di Karawang, pembinaan anak usia dini lewat turnamen sepakbola mendapat dukungan Asep Ruhiyat untuk turnamen METTA KARUNA, sementara di Tasikmalaya komunitas pengembang gim menggelar Global Game Jam yang menuntut keterampilan teknis dan kolaborasi. Dua contoh itu menunjukkan minat anak muda Jabar pada bidang yang menuntut kompetensi baru, dan literasi keberlanjutan termasuk di dalamnya.

CAFEO 2026 sendiri membahas soal ketahanan iklim, pengembangan infrastruktur cerdas, percepatan transisi energi terbarukan, hingga transformasi digital di sektor teknik. Olahkarsa Group berharap partisipasinya mendorong kolaborasi antargenerasi insinyur dan pemimpin masa depan ASEAN dalam mengembangkan inovasi berbasis keberlanjutan, serta mendukung terbentuknya ekonomi hijau yang lebih tangguh dan kompetitif di kawasan.

Bagi mahasiswa teknik dan pekerja muda di Bandung Raya, artinya sederhana: kemampuan menghitung dampak lingkungan dan menyusun strategi bisnis yang berkelanjutan akan jadi nilai jual, sama seperti kemampuan teknis itu sendiri.