Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Masjid Agung Paseh Cipaku Baru 50 Persen, Panitia Baru Kumpulkan Rp1,3 Miliar dan Butuh Rp700 Juta Lagi

Bandung · Oleh ·

Pembangunan Masjid Agung Paseh Cipaku baru 50 persen setelah 6,5 bulan. Dana terealisasi Rp1,3 miliar, kurang Rp700 juta, dan bantuan Pemda Rp250 juta belum cair.

Masjid Agung Paseh Cipaku Baru 50 Persen, Panitia Baru Kumpulkan Rp1,3 Miliar dan Butuh Rp700 Juta Lagi

Pembangunan Masjid Agung Kecamatan Paseh Cipaku di Kabupaten Bandung baru mencapai sekitar 50 persen setelah berjalan sekitar enam setengah bulan. Kekurangan biaya masih jadi persoalan utama. Panitia sudah merealisasikan dana sekitar Rp1,3 miliar dan memperkirakan butuh sekitar Rp700 juta lagi agar bangunan bisa rampung.

Kebutuhan itu belum tertutup. Bantuan dari pemerintah daerah yang direncanakan sekitar Rp250 juta belum cair sama sekali. Dana yang sudah masuk dari jalur pejabat baru Rp50 juta, itupun berasal dari kantong pribadi Bupati Bandung Dadang Supriatna saat peletakan batu pertama.

"Baru Rp 50 juta dari kantong pribadi Bupati Bandung, yang Rp 250 juta sampai saat ini belum terealisasi sepeserpun," kata Ketua Panitia Pembangunan Masjid Besar Kecamatan Paseh KH Iing Solihin.

Iing menyebut capaian 50 persen itu murni dari sumbangan donatur. Menurutnya, pembangunan berjalan karena gotong royong warga, bukan karena anggaran pemerintah yang dijanjikan.

Baca Juga: Letkol Cpn Anumerta Dudi Firmansyah Gugur di Kalteng, Jenazah Tiba di Astanaanyar dan Dimakamkan Meninggalkan Istri dan Dua Anak

Donasi Warga Baru Terkumpul dari Lima RW

Di level desa, penggalangan dana berjalan bertahap. Kasie Kesra Desa Cipedes Cucu Suryana menyebut donasi tahap satu baru terkumpul dari lima RW dengan total nominal Rp3,2 juta. Panitia masih menyambangi RW lain untuk menghimpun sumbangan.

"Donasi dari masyarakat untuk tahap satu ini baru dari 5 RW dengan nominal uangnya terkumpul Rp 3,2 juta," ujarnya.

Cucu, yang menyerahkan bantuan warga secara simbolis mewakili kepala desa, menyampaikan terima kasih atas kontribusi warga. Ia berharap penggalangan dana berjalan sesuai harapan panitia. Selain dari warga, bantuan juga datang dari pemerintah desa-desa di Kecamatan Paseh.

Baca Juga: Letkol Cpn Anwar Dudi Gugur di Karhutla Kalteng, Rumah Duka di Astanaanyar Dipenuhi Karangan Bunga Petinggi TNI

Sertifikat Tanah Diserahkan di Awal

Masjid ini dibangun dari aspirasi warga yang menginginkan sarana ibadah representatif di lingkungan yang religius. Prosesnya dimulai lewat peletakan batu pertama oleh Bupati Bandung. Saat itu Dadang Supriatna menyerahkan sertifikat tanah resmi kepada Ketua Yayasan Masjid Besar Paseh Bersahaja, disertai sumbangan pribadi Rp50 juta.

Pola pembangunan masjid dengan dana warga dan sumbangan pejabat bukan hal baru di Bandung Raya. Sebelumnya, Masjid Agung Bandung juga menjalani penataan dengan konsep yang menempatkan masjid sebagai pusat pemberdayaan jamaah, seperti tercatat dalam laporan Konsep Kemakmuran Baru Masjid Agung Bandung.

Beban Donatur dan Harapan Panitia

Perbandingan angka memperlihatkan jarak yang lebar. Dengan kebutuhan yang tersisa sekitar Rp700 juta, sumbangan Rp3,2 juta dari lima RW di satu desa hanya menutup sebagian kecil. Panitia tetap mengandalkan donasi warga untuk menutup sisa pekerjaan.

Kasus ini juga menyentuh soal transparansi dana publik di tingkat kecamatan. Janji bantuan Rp250 juta yang belum terealisasi membuat panitia bergantung pada sumbangan sukarela. Warga yang ingin memastikan sumbangannya tercatat bisa menanyakan langsung ke panitia pembangunan di masing-masing desa.

Iing menutup dengan ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang membantu, tanpa membedakan besar kecilnya nilai sumbangan. Ia menyebut bantuan itu sebagai catatan amal ibadah. Panitia belum menyebut tenggat pasti kapan pembangunan bisa tuntas.

Perhatian pada tata kelola organisasi keagamaan dan pemerintahan juga pernah dibahas dalam laporan lain, yakni peluncuran buku tentang keluarga dan integritas jaksa oleh mantan Wakil Ketua Jaksa Agung.