Mesin Pengolah Sampah Taman Tegalega Mati Sejak 1 Januari, Sampah Menumpuk Tiga Meter di Ruang Publik
Mesin pengolah sampah di Taman Tegalega mati sejak 1 Januari 2026, membuat sampah menumpuk tiga meter di sudut taman dan mengganggu pengunjung.

Warga yang biasa berolahraga dan berjalan santai di Taman Tegalega, Kecamatan Regol, kini harus menutup hidung saat melintas. Sampah menggunung setinggi sekitar tiga meter di salah satu sudut taman pada Jumat (6/11/2026), bercampur plastik, sisa sayuran, sisa makanan, dan kayu. Aroma tidak sedap menyebar ke area yang selama ini jadi ruang terbuka hijau favorit warga Kota Bandung.
Penumpukan itu bukan kejadian sehari. Petugas kebersihan setempat, Heri Gunawan (40), menyebut aktivitas pembuangan sampah di sudut taman sudah berlangsung sekitar dua bulan terakhir. Ia mengaku hanya menjalankan perintah dan tidak tahu alasan pasti area tersebut dijadikan tempat penampungan sementara.
"Kalau saya mah pekerja. Ya suruh di sini, di sini. Suruh di sana, di sana. Ada lah dua bulanan."
Menurut Heri, sampah datang sekitar tiga kali sepekan. Ia tidak mengetahui asal pastinya karena tidak terlibat dalam pengaturan pengangkutan. Tumpukan itu baru diangkut dengan truk ke tempat pembuangan akhir setelah ada instruksi dari koordinator lapangan dan dinas terkait.
Akar masalahnya ada pada mesin pengolahan sampah di dalam kawasan taman. Heri menyebut mesin itu sudah tidak beroperasi sejak 1 Januari 2026. Sebelumnya, setiap truk yang datang langsung diolah di tempat dan menghasilkan produk, sehingga tidak ada sampah yang menginap di taman.
"Diolah, jadi enggak ada cara disimpan, langsung diolah. Datang satu truk, olah. Habis, datang lagi gitu. Jadi produk. Gara-gara ini mati, ini saja numpuk."
Selama hampir sepuluh bulan mesin mati, kata Heri, sampah yang terus berdatangan harus ditampung lebih dulu di sudut taman sambil menunggu jadwal pengangkutan. Ia berharap mesin bisa difungsikan lagi agar ruang publik tidak lagi dipakai sebagai penampungan sementara.
Gangguan paling langsung dirasakan pengunjung. Heti (36), warga yang rumahnya dekat taman, mengaku aktivitas jalan-jalannya terganggu. Selain kawasan terlihat kumuh, bau dari tumpukan sampah memaksa orang menutup hidung saat melintas. Ia menilai penampungan sampah seharusnya tidak ditempatkan di area taman meski sifatnya hanya sementara, dan berharap pemerintah segera mengangkut sampah tersebut.
Persoalan ini bersinggungan dengan rencana penguatan pengolahan sampah lokal yang sudah lama jadi sorotan warga Bandung. Pemerintah kota sebelumnya menargetkan pengoperasian puluhan mesin pengolah sampah pada 2026, seperti terangkum dalam laporan Bandung Siap Operasikan 40 Mesin Pengolah Sampah Terbaru di 2026. Rencana itu juga sempat dibahas dalam liputan Bandung Siaga Sampah 2026: 25 Mesin Baru & Ribuan Petugas Siap Beraksi.
Bagi pembaca muda di Bandung, Taman Tegalega bukan sekadar taman biasa. Kawasan ini jadi lokasi lari pagi, nongkrong sore, dan aktivitas komunitas sepeda maupun skatespot. Ketika satu sudutnya berubah jadi tempat penampungan sampah, ruang berkumpul yang murah dan terbuka itu ikut menyusut. Pilihan hiburan luar ruang di tengah kota jadi makin terbatas.
Kondisi ini juga memperlihatkan bahwa kapasitas pengolahan sampah Kota Bandung masih rapuh. Satu mesin berhenti beroperasi, dan aliran sampah harian langsung mencari tempat baru di ruang publik. Dalam pembahasan darurat sampah yang pernah kami liput, Bandung Siaga Darurat Sampah: Solusi Pengolahan Sampah Lokal Diperkuat?, penguatan fasilitas lokal disebut sebagai kunci. Kasus Tegalega menjadi contoh konkret apa yang terjadi saat fasilitas itu berhenti.