Bandung Siaga Darurat Sampah: Solusi Pengolahan Sampah Lokal Diperkuat?
Bandung bersiap menghadapi krisis sampah 2026 akibat pengurangan kuota TPA Sarimukti. Pemkot Bandung meluncurkan program 'Gaslah' dan memperkuat infrastruktur pengolahan sampah, menargetkan kemandirian pengelolaan dengan partisipasi aktif warga. Tantangan residu malam tahun baru menjadi cerminan urgensi masalah ini.

Bandung Menghadapi Krisis Sampah: Strategi Pengolahan Lokal Diperkuat
Bandung, [Tanggal Publikasi] – Pemerintah Kota Bandung secara transparan mengungkapkan ancaman serius potensi penumpukan sampah menyusul kebijakan pengurangan kuota pengiriman ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti yang akan berlaku mulai 12 Januari 2026. Prediksi menyebutkan, sekitar 200 ton sampah per hari harus ditangani secara mandiri di dalam kota, menuntut solusi inovatif dan partisipasi aktif masyarakat.
Dalam sebuah pernyataan, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan urgensi situasi ini. “Kami tidak ingin menyembunyikan fakta. Risiko penumpukan sampah ini nyata dan perlu kita hadapi bersama sebagai satu kesatuan,” ujar Farhan pada Senin (5/1).
Program 'Gaslah' sebagai Garda Terdepan
Sebagai respons cepat, Pemerintah Kota Bandung meluncurkan program Gaslah, sebuah inisiatif yang akan menempatkan petugas pemilah dan pengolah sampah di setiap Rukun Warga (RW).
- Dari total 1.597 RW di Bandung, setiap RW akan didampingi oleh petugas khusus.
- Petugas ini bertugas melakukan edukasi dan pendampingan langsung kepada warga.
- Pendekatan door-to-door akan diterapkan untuk memastikan pemilahan sampah dilakukan sejak dari sumbernya.
Peningkatan Infrastruktur dan Sumber Daya Manusia
Farhan juga menekankan peningkatan kapasitas dan sumber daya dalam pengelolaan sampah:
- Penambahan jumlah penyapu jalan dan penguatan program kebersihan lainnya akan dilakukan.
- Total petugas kebersihan yang didanai pemerintah diperkirakan mencapai 5.000 hingga 6.000 orang.
- Kapasitas pengolahan sampah berbasis Refuse Derived Fuel (RDF) akan ditingkatkan hingga lima kali lipat.
- Optimalisasi teknologi lain seperti biodigester dan insinerator juga terus dikebut, dengan tetap mematuhi regulasi lingkungan hidup.
"Tumpukan sampah seperti yang terjadi beberapa bulan lalu mudah-mudahan tidak terulang. Namun, kuncinya adalah partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat," tegas Farhan.
Residu Sampah Malam Tahun Baru: Sebuah Cerminan Tantangan
Tantangan pengelolaan sampah di Kota Kembang juga terlihat dari volume residu pada malam pergantian tahun yang mencapai 95 meter kubik. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung melakukan pembersihan intensif di titik-titik keramaian pusat kota sejak malam pergantian tahun.
Data Sub Wilayah Kota (SWK) menunjukkan:
- SWK Karees: Mencatat volume sampah terbesar dengan 57 meter kubik dari kawasan Asia Afrika, Alun-alun Bandung, dan Jalan Gatot Subroto.
- SWK Cibeunying: Mengangkut 23,5 meter kubik sampah dari kawasan Cihampelas, Braga, Balai Kota, dan Monumen Perjuangan.
- SWK Ubermanik: Mencatat 7,5 meter kubik dari seputaran Alun-alun Ujungberung dan Bundaran Cibiru.
- SWK Kordoba: Mencapai 7 meter kubik, mayoritas dari kawasan Jalan Terusan Buah Batu dan Pasar Kordon.
Upaya pengangkutan intensif ini menggarisbawahi komitmen pemerintah untuk menjaga kebersihan kota di tengah keterbatasan kuota pembuangan ke TPA regional. Tantangan ke depan adalah bagaimana Bandung dapat bertransformasi menjadi kota yang mandiri dalam pengelolaan sampahnya, dengan dukungan penuh dari warganya.