Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

CAD4TB Bantu Skrining TBC Lebih dari 2 Juta Orang Indonesia sejak 2020

Bandung · Oleh ·

Delft Imaging mencatat lebih dari dua juta orang di Indonesia sudah diskrining TBC lewat CAD4TB sejak 2020, saat tenaga ahli radiologi masih terbatas.

CAD4TB Bantu Skrining TBC Lebih dari 2 Juta Orang Indonesia sejak 2020

Bagi warga Jawa Barat yang pernah meronta karena batuk tak sembuh berbulan-bulan, antrean rontgen di puskesmas jadi ujian tersendiri. Tenaga radiologi terbatas, sementara pasien terus bertambah. Kondisi itulah yang kini coba ditutup lewat perangkat lunak Computer-Aided Detection for Tuberculosis atau CAD4TB, yang membaca citra rontgen dada dengan algoritma kecerdasan buatan.

Delft Imaging mencatat lebih dari dua juta orang di Indonesia sudah menjalani skrining TBC memakai perangkat lunak itu sejak 2020. Penerapannya berjalan lewat kolaborasi dengan penyedia layanan kesehatan, program pemerintah, perusahaan pertambangan, dan sejumlah mitra pelaksana. Bagi daerah dengan jumlah ahli radiologi minim, teknologi ini berfungsi sebagai penyaring awal sebelum pasien dirujuk ke pemeriksaan lanjutan.

Beban penyakitnya tidak kecil. Laporan Global Tuberculosis Report 2024 dari Organisasi Kesehatan Dunia menempatkan Indonesia dalam delapan negara yang secara kolektif menyumbang sekitar dua pertiga kasus TBC dunia. WHO memperkirakan lebih dari satu juta orang di Indonesia mengalami TBC pada 2025, dengan sekitar 134 ribu kematian setiap tahun. Dalam peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2026, Kementerian Kesehatan menyebut setiap menit ada dua orang terinfeksi TBC dan setiap empat menit satu orang meninggal karena penyakit itu.

Baca Juga: Pengeluaran Riil Warga RI Naik Rp 566 Ribu jadi Rp 13,37 Juta, IPM 2026 Sentuh 76,69

Guru Besar sekaligus Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Konsultan Infeksi Paru, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K), menyebut tuberkulosis masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia. Menurutnya, sebagian orang belum menyadari gejala yang dialami dan sebagian lain terhalang akses ke layanan kesehatan, sehingga penemuan kasus tertunda. Ia menegaskan skrining aktif perlu diarahkan ke kelompok berisiko.

"Sebagian orang mungkin belum menyadari gejalanya atau mengalami keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Padahal, keterlambatan diagnosis dapat meningkatkan risiko penularan. Karena itu, skrining aktif penting untuk menemukan kasus lebih dini, terutama pada kelompok berisiko," jelas Erlina.

Erlina memerinci kelompok yang perlu diprioritaskan: orang yang tinggal serumah atau berkontak erat dengan pasien TBC, orang dengan HIV, bayi, anak-anak, lansia, serta orang dengan kondisi yang melemahkan sistem kekebalan tubuh. Bagi pembaca muda di Bandung, daftar itu terasa dekat. Anak kos dan pekerja kantoran yang tinggal berbagi kamar dengan penderita TBC aktif masuk hitungan kelompok rentan, begitu pula anggota keluarga yang merawat pasien di rumah.

Baca Juga: ITB Teken MoU dengan Singapore Management University di QS Summit Asia Pacific 2026

Soal peran AI, Erlina menilai teknologi ini berpotensi memperluas dan mengefisienkan penemuan kasus TBC. Namun ia mengingatkan analisis algoritma tidak bisa berdiri sendiri dalam menetapkan diagnosis. Hasilnya tetap harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan lanjutan dan penilaian tenaga kesehatan, dengan syarat akurasi terjaga, infrastruktur memadai, dan kapasitas petugas dalam mengoperasikannya.

"Setiap orang yang terindikasi TBC perlu mendapatkan akses terhadap pemeriksaan lanjutan, diagnosis yang tepat, dan pengobatan sesuai anjuran. Karena itu, perluasan skrining harus berjalan beriringan dengan penguatan layanan diagnostik, akses pengobatan, pendampingan pasien, serta kolaborasi antara pemerintah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat," jelasnya.

Tantangan berikutnya justru muncul setelah skrining. Banyaknya orang yang diperiksa belum tentu sejalan dengan keberhasilan penanganan bila tidak ada tindak lanjut. Pasien yang terindikasi positif butuh pemeriksaan diagnostik, penetapan diagnosis, lalu pengobatan sampai tuntas. Rantai itu yang paling sering putus di wilayah dengan akses terbatas, termasuk sejumlah kabupaten di Jawa Barat yang jaraknya jauh dari rumah sakit rujukan.

CEO sekaligus Founder Delft Imaging, Guido Geerts, menyatakan penanganan TBC membutuhkan inovasi berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor. Ia menyebut pihaknya tidak berhenti pada penyediaan alat, tetapi juga mendukung transfer pengetahuan, penguatan kapasitas lokal, serta pengembangan solusi kesehatan yang bertahan lama. Perluasan akses layanan hingga komunitas di wilayah terpencil disebutnya sebagai bagian penting dari upaya eliminasi.

Indonesia menargetkan eliminasi TBC pada 2030. Jalan menuju target itu menuntut tiga hal berjalan bersamaan: infrastruktur kesehatan yang kuat, ketersediaan tenaga medis, serta akses pemeriksaan dan pengobatan bagi masyarakat. Teknologi seperti CAD4TB hanya menutup satu bagian dari rantai panjang itu, yaitu deteksi awal.

Bagi warga Bandung Raya, yang paling dekat dengan keseharian adalah kesadaran memeriksakan diri. Batuk lebih dari dua pekan, berkeringat malam tanpa sebab jelas, dan berat badan turun tanpa alasan adalah tanda yang kerap diabaikan anak muda karena dianggap selesai dengan obat warung. Skrining di puskesmas berbiaya ringan, dan kasus yang ditemukan lebih awal jauh lebih mudah diobati daripada yang terlambat ditangani.

Sebelumnya, kekhawatiran serupa muncul dalam pembacaan ramalan Sunda kuno soal keseimbangan jagat pada 2026, yang salah satunya menyoroti tantangan besar bagi manusia modern. Di sisi lain, solidaritas warga pernah terlihat saat tim khusus dikirim untuk membantu pemulihan bencana di Sumatra. Semangat serupa dibutuhkan untuk urusan yang lebih sunyi seperti TBC, di mana penularan terjadi tanpa suara di ruang-ruang tidur bersama.