Adin Jaelani Sopian Ajak Anak Muda Karawang Melek Politik Lewat Legislative School
Ketua DPD PKS Karawang Adin Jaelani Sopian mengajak anak muda melek politik dalam Legislative School bersama Anggota DPR RI Jalal Abdul Nasir dan menyoroti politik uang.

Puluhan peserta Legislative School di Galeri Nyi Pager Asih, Kompleks Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang, mendapat penjelasan langsung soal kaitan keputusan politik dengan hidup sehari-hari. Acara itu menghadirkan Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PKS, H. Jalal Abdul Nasir, dan didampingi Ketua DPD PKS Kabupaten Karawang, Adin Jaelani Sopian.
Bagi warga Karawang, garis kebijakan yang dibahas di forum seperti ini bukan urusan jauh. Harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan dan kesehatan, ketersediaan lapangan kerja, sampai pembangunan infrastruktur ikut ditentukan oleh keputusan politik yang diambil para pemegang kewenangan.
Adin menyebut politik bukan sekadar perebutan kekuasaan. Menurutnya, politik adalah instrumen untuk melahirkan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat. Karena itu ia menilai pemahaman soal politik perlu ditularkan ke generasi muda sejak awal.
Baca Juga: Idola Jepang Sewa Apartemen Bekas Bunuh Diri di Setagaya Rp5,1 Juta Sebulan demi Hemat 30 Persen
Ia mencontohkan cara kerja Jalal Abdul Nasir yang rutin turun ke daerah pemilihan Jawa Barat VII, yang meliputi Kabupaten Bekasi, Karawang, dan Purwakarta. Adin mengaku melihat sendiri bagaimana seorang wakil rakyat membagi waktu antara ruang sidang dan penyerapan aspirasi warga.
"Menurut saya, salah satu pelajaran penting dari sosok Pak Haji Jalal adalah bagaimana seorang pejabat publik tidak boleh lelah untuk turun ke masyarakat. Wakil rakyat harus bersedia mendengarkan secara langsung persoalan yang dihadapi warga, memahami kebutuhannya, dan memperjuangkannya melalui jalur yang tepat," ungkap Adin.
Apatis Politik Dinilai Bukan Sikap Netral
Adin menilai sikap menjauh dari politik justru membuat warga kehilangan peluang ikut menentukan arah pembangunan. Ia meminta anak muda memahami bagaimana kebijakan dirumuskan, siapa yang berwenang memutuskan, dan bagaimana masyarakat bisa mengawal pelaksanaannya.
Ia juga membantah anggapan bahwa politik selalu kotor. Kualitas politik, katanya, bergantung pada karakter dan integritas orang yang terlibat. Ketika orang-orang berkapasitas memilih menjauh, ruang keputusan berisiko diisi pihak yang tidak berkomitmen pada kepentingan publik.
Sikap kritis tanpa pengetahuan, menurut Adin, gampang dibelokkan. Ia mengangkat pemikiran dramawan Jerman Bertolt Brecht yang mengingatkan bahwa ketidakpedulian pada politik tetap punya konsekuensi.
"Jangan sampai suara kita yang sangat berharga hanya dihargai dengan Rp50 ribu. Kita harus berpikir jauh ke depan. Pemimpin yang kita pilih hari ini akan ikut menentukan kebijakan, pembangunan, dan masa depan anak-anak kita," pesannya.
Belajar dari Forum Sebelumnya
Karawang bukan kali pertama jadi tempat pembicaraan soal peran anak muda. Sebelumnya, santri Karawang juga diingatkan tentang perpaduan iman, ilmu, dan literasi digital dalam peringatan Hari Santri 2026. Sejumlah forum lain juga menyoroti ajakan bijak menghadapi dinamika dunia digital bagi generasi muda.
Persoalan yang diangkat dalam sesi diskusi pun dekat dengan keseharian. Adin menyebut kesulitan mendapat pekerjaan dan ketidakpastian ekonomi sebagai hal yang tidak lepas dari arah kebijakan publik. Ia ingin peserta membawa pulang cara berpikir itu, bukan sekadar catatan teori.
PKS Kabupaten Karawang menyatakan terbuka bagi anak muda yang ingin belajar politik, kepemimpinan, dan organisasi. Adin berharap forum seperti ini jadi pintu masuk, bukan acara sekali lewat. Ruang belajar serupa juga dibuka lewat kegiatan yang mendorong anak muda mengembangkan budaya lokal sebagai sumber ekonomi kreatif.
Adin menegaskan bahwa kontribusi tidak harus menunggu jadi anggota dewan. Organisasi kemahasiswaan, komunitas sosial, dan kegiatan kemasyarakatan disebutnya sebagai titik awal yang bisa dipakai anak muda Karawang untuk terlibat langsung dengan persoalan di sekitarnya.