Kemenkes Buka Jalur Pendidikan Spesialis Mata Lewat RS untuk Percepat Pemenuhan Tenaga Medis
Kemenkes buka jalur pendidikan spesialis mata lewat RS pendidikan termasuk RS Mata Cicendo Bandung untuk perbaiki distribusi 3.000 dokter mata yang tidak merata

Ribuan warga Majalengka terdampak kabut asap dari 28 kejadian kebakaran hutan dan lahan sepanjang September 2026. Dampak kesehatan dari kabut itu tidak hanya mengincar saluran pernapasan. Paparan partikel asap juga mengganggu kesehatan mata.
Kemenkes menyebut dokter spesialis mata Indonesia saat ini sekitar 3.000 orang. Jumlah itu tidak terdistribusi merata. Mayoritas dokter mata praktik di Jawa dan Bali.
Kondisi ini menyisakan tantangan besar bagi masyarakat di luar Pulau Jawa. Di Kalimantan Tengah, pasien katarak harus menempuh perjalanan hingga 12 jam menuju Banjarmasin atau Palangkaraya untuk mendapatkan penanganan. Hal ini menunjukkan kesenjangan akses layanan kesehatan mata yang masih menjadi masalah serius di Indonesia.
Kemenkes membuka jalur pendidikan spesialis mata melalui RS pendidikan sebagai alternatif dari program universitas. RS Mata Cicendo di Bandung menjadi salah satu institusi yang mengelola program ini. Lewat jalur ini, dokter umum bisa menempuh pendidikan spesialis melalui rumah sakit, tidak hanya melalui universitas.
"Jadi memang ada distribusi yang tidak merata. Jadi memang produksinya harus kita tingkatkan dua kali," kata Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes.
Jalur pendidikan melalui RS ini membuka peluang bagi dokter umum untuk menjadi spesialis tanpa harus melalui jalur universitas tradisional. Kemenkes optimistis langkah ini dapat mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter mata di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Irjen Hengki resmi pimpin Piala Tinggi Ganda Wibawa Sakti saat становлення kapolda Jawa Barat
Upaya lain yang tengah dijalankan meliputi penugasan dokter spesialis ke daerah yang masih kekurangan tenaga medis. Di Kalimantan Tengah, pasien harus menempuh perjalanan hingga 12 jam untuk mendapatkan layanan kesehatan mata. Penempatan dokter spesialis di tingkat kabupaten dan kota menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat.
Dampak kesehatan mata dari kabut asap tidak separah gangguan pernapasan. Kemenkes menyebut angka gangguan mata akibat asap umumnya lebih rendah dibandingkan kasus ISPA atau asma. Namun ancaman ini tetap signifikan bagi warga yang harus bekerja di luar ruangan tanpa pelindung mata memadai. Kualitas udara yang terus menurun akibat kabut asap menjadi tantangan bagi produktivitas tenaga kerja di wilayah terdampak.
Nama Tautan 1: Warga Bekasi dan Luar Daerah Bisa Dapat Layanan Kesehatan Tanpa Terhalang Batas Wilayah dan 28 Karhutla Terjadi di Majalengka September 2026, 4.707 Warga Terdampak menunjukkan bahwa akses layanan kesehatan di daerah masih menghadapi berbagai hambatan geografis dan ketersediaan tenaga medis.