Irjen Hengki resmi pimpin Piala Tinggi Ganda Wibawa Sakti saat становлення kapolda Jawa Barat
Irjen Hengki klaim pataka Ganda Wibawa Sakti saat(resmi menjadi kapolda Jawa Barat dan minta polisi siap kritik masyarakat

Masyarakat Bandung dan Jawa Barat menanti perubahan nyata setelah seorang pria mengklain pataka Ganda Wibawa Sakti sebagai kapolda baru. Ia menegaskan polisi harus hadir bersama rakyat, bukan hanya menjadi penegak aturan.
Kalangan anak muda Bandung sering berhadapan langsung dengan polisi. Mereka berinteraksi saat membuat dokumen di kantor polisi, mendengar keluhan terkait razia, hingga merasakan kehadiran polisi di lokasi hiburan hingga dini hari.
Pengalaman berhadapan dengan polisi di kantor sering meninggalkan kesan kurang menyenangkan. Pertanyaan yang tidak terjawab, sikap yang kurang ramah, hingga proses yang berbelit menjadi keluhan utama warga.
Irjen Hengki menyebut kedekatan polisi dengan masyarakat tidak terbentuk dengan sendirinya. Personel kepolisian harus bersedia hadir, membuka ruang komunikasi, dan menjadi pendengar yang baik bagi warga yang membutuhkan bantuan. Ia berharap perubahan sikap tersebut dapat membuat masyarakat merasa lebih dihargai.
Menurut Hengki, kepercayaan masyarakat harus dibangun melalui pelayanan yang nyata. Karena itu, seluruh personel, termasuk para pimpinan di setiap tingkatan, diminta menjadi bagian dari perubahan budaya kerja di lingkungan kepolisian.
Peristiwa sebelumnya di Garut masih melekat di ingatan. Kasus seorang pria yang berpura-pura menjadi anggota BNN dan polisi itu menunjukkan bahwa masyarakat butuh figur yang bisa dipercaya.
Baca Juga: Kemenkes Buka Jalur Pendidikan Spesialis Mata Lewat RS untuk Percepat Pemenuhan Tenaga Medis
Hengki menegaskan setiap personel harus bersedia mendengarkan keluhan warga dengan sabar, menerima kritik dengan lapang dada, dan memahami masalah sebelum mengambil tindakan. "Dengarkan keluhan dengan sabar, terima kritik dengan lapang dada, dan pahami persoalan sebelum mengambil tindakan," katanya saat acara serah terima pataka di Mapolda Jabar.
Ia juga meminta para pimpinan di setiap tingkatan menjadi teladan bagi anggotanya. Mereka diharapkan mampu membimbing sekaligus membangun budaya kerja yang disiplin dan terbuka terhadap perbaikan.
"Setiap warga yang datang harus merasa dihargai, didengarkan, dan memperoleh kejelasan atas penanganan laporan yang disampaikan," tegas Hengki. Dari kesediaan mendengar itu, ia mengklaim police bisa mengetahui apa yang harus dibenahi.
Hengki menyadari pembenahan internal tidak cukup tanpa dampak yang dirasakan langsung masyarakat. Ketika warga butuh bantuan, menyampaikan pengaduan, maupun berhadapan dengan proses penegakan hukum, perubahan harus terasa.
Di Bandung, aktivitas anak muda tidak mengenal batasan jam kerja. Pusat kreatif, tempat hiburan malam, hingga kos-kosan menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Kehadiran polisi yang responsif dan tidak arogan menjadi harapan utama.
Transformasi di tubuh kepolisian perlu diwujudkan melalui perubahan nyata dalam pelaksanaan tugas. Hengki menyebutkan tiga wujud konkret yang ia harapkan bisa dirasakan warga, yaitu pelayanan yang cepat dan mudah, penegakan hukum yang profesional dan berkeadilan, serta pelaksanaan kewenangan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban di Jawa Barat, Hengki tidak bisa bekerja sendiri. Ia memohon doa restu dan mengajak seluruh personel memperkuat kebersamaan, serta sinergi dengan TNI, pemerintah daerah, instansi terkait, dan segenap elemen masyarakat.