FK Unjani Periksa Hb dan Tinja Siswa MIS Amanah Ma'mun Cililin untuk Deteksi Kecacingan
FK Unjani memeriksa Hb, golongan darah, dan sampel tinja puluhan siswa MIS Amanah Ma'mun Cililin, Bandung Barat, sambil memberi edukasi pencegahan kecacingan.

Puluhan siswa MIS Amanah Ma'mun di Cililin, Kabupaten Bandung Barat, menjalani pemeriksaan hemoglobin, golongan darah, dan sampel tinja pada Kamis, 8 Oktober 2026. Pemeriksaan itu bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani (FK Unjani), yang sekaligus memberi edukasi soal cara penularan dan pencegahan kecacingan.
Skrining menyasar anak usia sekolah karena kecacingan bisa memengaruhi status gizi, memicu anemia, menghambat pertumbuhan, hingga mengganggu konsentrasi belajar. Pemeriksaan Hb dipakai untuk menangkap tanda anemia lebih awal, sementara pemeriksaan tinja mendeteksi ada tidaknya telur cacing pada siswa.
Selain pemeriksaan laboratorium, tim FK Unjani melakukan pemeriksaan fisik. Siswa juga diajak mengenali jenis cacing yang bisa menginfeksi manusia, cara penularannya, dampak bagi kesehatan, dan langkah pencegahan yang bisa dilakukan sehari-hari.
Baca Juga: Tak Ada Presiden dari Sunda Sejak 1945, Jawabannya Ada di Filosofi Mangga Tipayun dan Perang Bubat
Ketua panitia Dian Anggraeny menyebut kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian perguruan tinggi terhadap kesehatan anak usia sekolah.
Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian perguruan tinggi terhadap kesehatan anak usia sekolah.
Materi edukasi disampaikan Emma Mardliyah dengan pendekatan yang disesuaikan dengan usia peserta. Menurutnya, cara penyampaian dibuat interaktif agar siswa mudah memahami dan mempraktikkan pencegahan di rumah maupun di sekolah.
Masalah yang Berulang di Sekolah
Kecacingan masih tercatat sebagai masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dan sekolah menjadi titik masuk penanganan yang paling dekat dengan anak. Persoalan kesehatan siswa di Jawa Barat sendiri bukan hal baru. Pada 2025, 24 siswa TK hingga SMP di Cimahi keracunan usai menyantap menu MBG saat buka puasa. Kasus serupa juga menimpa 180 siswa di Cianjur yang diduga keracunan MBG.
Dua peristiwa itu berbeda jenis dengan kecacingan. Tapi polanya sama: keluhan kesehatan siswa muncul di lingkungan sekolah dan baru tertangani setelah gejalanya terlihat. Skrining seperti yang dilakukan FK Unjani bekerja dengan arah sebaliknya, mencari tanda gangguan sebelum anak menunjukkan keluhan.
Bagi orang tua di Cililin dan Bandung Barat, pemeriksaan Hb dan tinja gratis di sekolah memberi informasi yang biasanya baru didapat lewat kunjungan ke fasilitas kesehatan. Hasilnya bisa jadi dasar rujukan lanjutan bila ditemukan anemia atau infeksi cacing pada siswa.
Kegiatan ini menutup rangkaian dengan harapan pengetahuan siswa meningkat dan kesadaran soal pencegahan kecacingan tumbuh di lingkungan sekolah maupun keluarga. Pencegahan di rumah, mulai dari kebersihan tangan, alas kaki, hingga sanitasi, menjadi bagian yang ditekankan dalam edukasi tersebut.