Warga Bandung Barat Maraton Konten Horor di Gawai, Tetangga yang Mengaku Melihat Gaib Malah Dijauhi
Konten horor jadi tontonan malam di Bandung Barat, tapi warga yang mengaku melihat gaib justru dicap halusinasi oleh tetangganya sendiri

Jam sebelas malam, lampu kamar padam, dan penyuara telinga terpasang. Di layar gawai, video kisah mistis dari sebuah indekos lawas terus berputar. Penontonnya merinding, jantung berdebar, tetapi jemari tidak bergerak ke tombol pause. Kebiasaan ini sekarang lazim di banyak rumah di Bandung Barat, dari perumahan Padalarang sampai kampung-kampung di Lembang.
Yang menarik bukan sekadar tontonannya. Ketika cerita serupa keluar dari mulut tetangga sebelah rumah atau rekan kerja, respons yang muncul justru sebaliknya. Cerita itu disangkal, diejek, atau langsung diberi label halusinasi. Konten horor dianggap hiburan, pengalaman gaib di dunia nyata dianggap gangguan.
Warisan kepercayaan yang tidak hilang
Ketertarikan pada hal mistis bukan tren baru. Jauh sebelum agama besar masuk, masyarakat Nusantara hidup dengan kepercayaan pada roh leluhur dan entitas penjaga hutan, yang dalam kajian antropologi disebut animisme dan dinamisme. Kepercayaan itu tidak lenyap, tetapi berasimilasi dengan ajaran baru dan bertahan dalam keseharian.
Hantu dan mitos juga berfungsi sebagai kontrol sosial. Larangan anak keluar saat sandekala, misalnya, adalah cara orang tua zaman dulu menjauhkan anak dari bahaya kegelapan sebelum listrik masuk ke desa. Di Bandung Barat, cerita tentang leuweung dan jalan angker masih dipakai warga untuk menjaga anak agar tidak berkeliaran di kebun atau pinggir sungai saat petang.
Otak mencari ancaman yang aman
Psikologi menjelaskan kegemaran ini lewat konsep morbid curiosity, dorongan mengamati hal yang berhubungan dengan bahaya dan kematian. Studi Coltan Scrivner dan Mathias Clasen pada 2022 menyebut fiksi horor berfungsi sebagai simulator ancaman. Otak melatih respons bertahan hidup dari balik dinding yang aman.
Reaksi tubuhnya pun nyata. Amigdala membunyikan alarm, detak jantung naik, otot menegang. Beberapa detik kemudian korteks prefrontal menilai situasi dan menyimpulkan bahwa ancaman itu tidak berada di ruang yang sama. Tubuh lalu membanjiri diri dengan dopamin dan endorfin. Perpindahan dari takut ke lega itulah yang membuat penonton kembali mencari cerita serupa pekan berikutnya.
Jangan mendiagnosis orang dari kursi malas
Masalah muncul saat sikap skeptis berubah jadi vonis medis. Orang yang mengaku punya indra keenam sering dicap pengidap skizofrenia atau psikosis oleh orang awam. Kajian antropologis Ratna Andriani Fabrian pada 2020 menunjukkan pengalaman supernatural punya lapisan makna sosial yang rumit, dan penyandangnya kerap menanggung beban ganda.
Dokumen Clinical Descriptions and Diagnostic Requirements for ICD-11 dari Organisasi Kesehatan Dunia (2024) menegaskan asesmen gangguan kejiwaan wajib mempertimbangkan konteks sosio-kultural pasien. Seseorang baru bisa didiagnosis bila pengalaman itu memicu penderitaan klinis, merusak fungsi sosial, dan mendorong perilaku berbahaya.
"Sesuatu yang dianggap halusinasi oleh masyarakat Barat bisa jadi merupakan pengalaman spiritual yang normal dan diakui eksistensinya dalam masyarakat Timur."
Selama orang yang mengaku melihat hal gaib masih bekerja, bersosialisasi, dan hidup fungsional, label skizofrenia tidak bisa diberikan sembarangan. Di desa-desa Bandung Barat, akses ke psikiater masih terbatas, sehingga vonis dari tetangga sering menggantikan pemeriksaan tenaga medis.
Ketakutan yang dijual mahal
Permintaan pasar mengubah ketakutan menjadi komoditas. Algoritma media sosial mengubah obrolan warung kopi soal penampakan menjadi konten bernilai besar. Kolom komentar membentuk komunitas virtual yang membuat audiens merasa tidak sendirian dengan rasa takutnya.
Ekonomi konten ini punya sisi lain yang perlu diwaspadai pembaca di Jawa Barat. Kreator yang mengejar tayangan cenderung memilih narasi paling dramatis, bukan yang paling akurat. Cerita dari kampung bisa dipelintir demi durasi tontonan, sementara warga yang menjadi sumber cerita tidak pernah dimintai konfirmasi.
Persoalan serupa soal cara kita memperlakukan kelompok yang dianggap berbeda pernah kami bahas dalam tulisan tentang mengapa lelucon tentang disabilitas masih dipertahankan. Pola penolakannya mirip, yaitu orang yang tidak sesuai standar dijadikan bahan tertawaan lebih dulu sebelum didengar.
Belajar dari cerita yang lebih dulu ada
Cara warga memaknai alam dan cerita leluhur juga punya kaitan dengan isu yang lebih luas. Kami pernah menulis soal mengapa hutan penting, dan sebagian mitos penjaga hutan di Bandung Barat sebenarnya berfungsi menjaga wilayah yang secara ekologis memang rawan longsor dan banjir.
Yang tersisa sekarang adalah pertanyaan sederhana. Kita sanggup berjam-jam mendengarkan ketakutan buatan di layar, tetapi sering kehilangan empati saat manusia di depan mata menceritakan kebingungannya sendiri. Membeda-bedakan klaim dan orangnya adalah hal yang bisa dilatih tanpa perlu merendahkan siapa pun.