Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Desa Jayamekar Berdiri 22 Juni 1980, Warga Tegalmantri Gunung Bentang Kini Hidup dari Cobek Batu

KBB · Oleh ·

Desa Jayamekar di Padalarang berdiri 22 Juni 1980 setelah warga Gunung Bentang sulit urus administrasi. Kini warga Tegalmantri hidup dari cobek batu.

Desa Jayamekar Berdiri 22 Juni 1980, Warga Tegalmantri Gunung Bentang Kini Hidup dari Cobek Batu

Warga Kampung Tegalmantri, Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, kini menggantungkan penghasilan harian pada pahatan batu, bukan pada panen palawija. Perubahan mata pencaharian itu berlangsung lama di lereng Gunung Bentang, kawasan perbukitan yang berbatasan langsung dengan jalur ramai Padalarang.

Jejak masa agrarisnya masih tersimpan dalam nama kawasan. Catatan toponimi dalam Sistem Informasi Nama Rupabumi (SINAR) yang dikelola Badan Informasi Geospasial (BIG) menyebut nama Bentang berakar dari kata Sunda ngabentang, yang berarti memanen. Masyarakat setempat dulu mengenal ungkapan ngabentang bonteng untuk merayakan panen mentimun pertama.

Tradisi lisan di Desa Jayamekar menawarkan tafsir lain. Buku Habitus Seni di Bandung Barat mencatat bahwa gugusan bukit Gunung Bentang menyerupai bentuk bintang bila dipandang dari ketinggian. Dua penjelasan itu hidup berdampingan tanpa saling meniadakan.

Baca Juga: Emak-emak Bogem Pria di Margaasih Usai Kepergok Cabuli Bocah, Polres Cimahi Tahan RA 39 Tahun

Sebelum batu menjadi sumber nafkah utama, hamparan tanah vulkanis di kawasan ini memproduksi padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang panjang, umbi-umbian, cabai, bawang, dan mentimun. Pola tanam campuran itu membuat warga tidak bergantung pada satu komoditas saja.

Desa Baru Lahir dari Jarak yang Jauh

Kawasan Gunung Bentang awalnya masuk wilayah Desa Padalarang. Cakupan desa induk dinilai terlalu luas, sehingga warga kesulitan mengurus administrasi kependudukan dan membayar pajak ke kantor desa. Keluhan itu memuncak pada akhir 1970-an.

Baca Juga: Warga Bandung Barat Maraton Konten Horor di Gawai, Tetangga yang Mengaku Melihat Gaib Malah Dijauhi

Sejumlah tokoh masyarakat menyusun usulan pemekaran desa pada 1979. Setelah musyawarah dan lobi ke pemerintah daerah, Desa Jayamekar resmi berdiri pada 22 Juni 1980. Sejak itu warga Gunung Bentang punya pusat administrasi sendiri.

Persoalan jarak layanan seperti ini bukan hal baru di Bandung Barat. Liputan kami sebelumnya tentang dampak proyek infrastruktur bagi warga KBB di Padalarang juga menyoroti bagaimana posisi geografis menentukan akses warga ke layanan dasar.

Cobek dari Tegalmantri Menembus Jawa dan Sumatra

Pusat pengolahan batu berada di Kampung Tegalmantri. Dokumen Pemerintah Desa Jayamekar bertajuk Sentra Cobek Desa Jayamekar yang terbit 11 September 2017 mengukuhkan kampung itu sebagai lokasi utama produksi cobek batu.

Observasi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Langlangbuana menemukan mayoritas warga setempat berprofesi sebagai perajin cobek. Selain cobek, mereka membuat mutu atau ulekan, lumpang, dan lesung. Distribusinya sudah menembus kota-kota besar di Pulau Jawa hingga pelosok Sumatra.

Buku Teknologi dalam Arkeologi mencatat Gunung Bentang sebagai salah satu situs penting pelestarian tradisi pembuatan lumpang batu. Perajin memakai bongkahan batu gunung maupun andesit dari aliran sungai, lalu membentuknya dengan pahat logam dan palu.

Pahat Manual hingga Mesin Bubut

Teknik produksi bergerak mengikuti kebutuhan pasar. Habitus Seni di Bandung Barat mencatat pembuatan coet dan mutu di Desa Jayamekar kini memakai beberapa metode sekaligus, dari pahatan manual, cetakan, sampai mesin bubut.

Perubahan itu menandai keterampilan olah batu sebagai pengetahuan yang terbuka terhadap cara baru, bukan pakem yang dibekukan. Bagi pembaca di Bandung Barat, sentra seperti Tegalmantri adalah contoh usaha rumahan yang bertahan tanpa bergantung pada sektor formal.

Letak Gunung Bentang di koridor Padalarang membuat kawasan ini selalu bersinggungan dengan arus kendaraan dari luar daerah. Saat arus mudik Lebaran, jalur Padalarang menanggung beban berat, tercatat 25.970 kendaraan melintas pada H-3 18 Maret 2026. Desakan lalu lintas itu berjalan beriringan dengan kegiatan produksi batu yang tetap berlangsung tiap hari di kampung-kampung sekitar.

Sejarah panjang Gunung Bentang, dari lumbung palawija sampai sentra cobek, terekam dalam ingatan warga dan sejumlah dokumen desa. Tidak ada angka resmi yang dirilis soal jumlah perajin aktif maupun nilai produksi sentra Tegalmantri saat ini.