Putih Sari Tampil di HUT Bekasi, Warga Minta Perhatian pada Banjir dan Drainase
Warga Bekasi berharap kehadiran Putih Sari di HUT Kabupaten Bekasi bisa mendorong penanganan banjir dan drainase yang selama ini menjadi masalah berulang di kawasan permukiman padat.

Kehadiran Putih Sari dalam perayaan hari jadi Kabupaten Bekasi memunculkan harapan baru bagi warga yang selama ini bergulat dengan masalah banjir. Masyarakat menilai kehadiran seorang wakil rakyat di momen seperti ini bisa menjadi saluran untuk menyampaikan aspirasi yang selama ini jarang terangkat.
"Kami butuh perhatian lebih soal drainase diRW kami. Setiap hujan deras, air langsung meluap ke rumah," kata Rahmat, warga Kelurahan Kaliabang, pada medio Agustus lalu.
Permintaan warga soal banjir bukan tanpa alasan. Bekasi selama bertahun-tahun menghadapi genangan di berbagai titik saat musim hujan. Banjir Bekasi hari ini dikepung banjir menggambarkan kondisi yang sama berulang terjadi.
Baca Juga: Kapolres Datangi Gedung Dewan Purwakarta Bahas Keamanan Bersama Legislatif
Putih Sari sendiri dikenal sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI. Komisi ini membidangi kesehatan, ketenagakerjaan, dan perlindungan sosial. Namun problem banjir dan drainase masuk ranah Komisi V yang menangani pekerjaan umum dan perumahan.
Meski demikian, warga tetap berharap sosok anggota DPR bisa mengetuk pintu kementerian terkait. "Setidaknya beliau bisa menjadi jembatan komunikasi dengan pemerintah pusat untuk mengalokasikan dana penanganan banjir," tutur Hendra, Ketua RT di kawasan Bekasi Utara.
Di sisi lain, perayaan HUT ke-76 Kabupaten Bekasi berlangsung di tengah usia wilayah yang sudah jauh lebih tua. Kabupaten Bekasi ditetapkan pada 1950-an, jauh sebelum menjadi kawasan industri dan permukiman padat seperti saat ini. Pertumbuhan penduduk yang pesat tidak diiringi pembenahan infrastruktur secara menyeluruh.
Baca Juga: Jenal Aripin Minta Veteran Karawang Langsung Tegur Kalau Dirinya Keliru dalam Pengabdian
Semangat kebersamaan antarelemen di momen peringatan hari jadi kemudian menjadi sorotan. Warga berharap kecintaan terhadap daerah tidak hanya tercermin dalam upacara dan parade, tapi juga dalam kerja nyata untuk menyelesaikan masalah dasar seperti genangan yang setiap tahun berulang.
Bagi warga biasa, kehadiran tokoh politik di perayaan daerah baru bermakna kalau kemudian ada tindak lanjut konkret. Kalau tidak, maka yang tersisa hanya foto dan ucapan selamat.