Aturan Air Empat Hari Sekali Bikin Warga Dua Desa di Karawang Kesulitan Peroleh Air Bersih
Warga Desa Malangsari dan Desa Jatimulya di Karawang hanya bisa menunggu air bersih setiap empat hari sekali selama hampir dua musim. Saluran yang tersumbat sampah dan sedimentasi memperparah krisis ini.

Di Desa Malangsari dan Desa Jatimulya, Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang, warga tidak bisa lagi mengandalkan air mengalir setiap hari. Mereka kini hanya bisa menunggu empat hari sekali untuk mendapatkan pasokan air bersih.
Pembagian air yang tidak rutin ini sudah berlangsung hampir dua musim. Udi Setiadi, salah seorang warga, mengatakan kondisi ini jauh berbeda dibanding tahun sebelumnya. "Sekarang air diatur, empat hari sekali," keluhnya.
Dampak langsungnya terasa pada kebutuhan sehari-hari. Tanpa cadangan air yang cukup, warga kesulitan memenuhi keperluan mandi, memasak, dan mencuci. Sebagian warga bahkan harus mencari sumber air alternatif yang kebersihannya tidak terjamin.
Baca Juga: Dinkes Kota Tasikmalaya Catat 1.861 Kasus ILI hingga September 2026
Saluran Penuh Sampah dan Sedimentasi
Masalah tidak hanya pada jadwal distribusi. Warga juga menemukan sampah dan endapan lumpur menumpuk di sejumlah titik saluran. Acung, warga lainnya, menceritakan dia sering membersihkan sampah di saluran karena tidak ada tindakan dari pihak mana pun.
"Saya bosan mengangkat sampah-sampah ini. Kalau saya diam saja, masa harus dibiarkan," katanya.
Kondisi saluran yang tersumbat membuat aliran air tidak lancar meski jadwal distribusi sudah ditentukan. Warga mendesak agar dilakukan normalisasi saluran secara menyeluruh agar kapasitas aliran kembali optimal.
Jembatan dan Dana Swadaya yang Dipertanyakan
Selain saluran air, warga juga menyoroti pembangunan jembatan di wilayah tersebut yang disebut menggunakan dana swadaya. Acung mempertanyakan transparansi pengumpulan dan penggunaan dana tersebut.
"Kalau memang swadaya, ya sampaikan secara jelas. Masyarakat berhak mengetahui penggunaannya," tegas Acung.
Warga berharap ada kejelasan mengenai sumber pendanaan, mekanisme pengumpulan, dan pertanggungjawaban apabila swadaya memang digunakan untuk pekerjaan infrastruktur.
Warga Minta Evaluasi Mekanisme Distribusi
Udi menilai pengaturan bukaan air perlu dilakukan secara terukur. Ia mencontohkan, membuka semua saluran sekaligus justru membuat wilayah di hilir kesulitan mendapat pasokan.
"Jangan dijebol semua. Ganjel satu balok saja, kemarin air juga bisa naik," pesannya.
Warga meminta agar pembagian air dilakukan secara proporsional sehingga kebutuhan satu wilayah tidak mengorbankan wilayah lainnya.
Pemerintah Diminta Turun Langsung
Masyarakat kini menunggu kehadiran pemerintah untuk menangani persoalan ini secara menyeluruh. Mereka meminta pengecekan langsung ke lapangan, dialog dengan warga, serta evaluasi distribusi air.
Bagi warga, persoalan air bukan sekadar masalah teknis. Ketika aliran air harus ditunggu berhari-hari, aktivitas kehidupan sehari-hari menjadi terganggu. Warga berharap keluhan ini tidak hanya menjadi pembicaraan berulang tanpa ada penyelesaian nyata.