Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Museum Prabu Siliwangi Pamerkan 368 Keramik Kuno dari Delapan Abad Perdagangan Nusantara

Jabar · Oleh ·

Museum Prabu Siliwangi Sukabumi memamerkan 368 keramik kuno dari abad 8 hingga 18 yang membuktikan Nusantara sudah terhubung perdagangan lintas benua sejak Dinasti Tang.

Museum Prabu Siliwangi Pamerkan 368 Keramik Kuno dari Delapan Abad Perdagangan Nusantara

Museum Prabu Siliwangi di Kota Sukabumi menyimpan bukti nyata bahwa Nusantara sudah terhubung dengan dunia luar sejak abad ke-8. Koleksi utama berupa 368 piringan keramik pilihan yang mencakup rentang waktu 800 tahun, mulai dari era Dinasti Tang, Song, hingga Qing. Keping-keping porselen ini bukan sekadar pajangan, melainkan artefak yang bercerita tentang jalinan perdagangan maritim dan diplomasi yang membentang lintas benua.

Bukti Rute Perdagangan yang Tak Terduga

museum yang berlokasi di Kompleks Ponpes Dzikir Al Fath ini menyimpan lebih dari sekadar keramik Tiongkok. Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan Torpedo Jar 2 asal Mesir yang diduga kuat merupakan muatan kapal karam di abad pertengahan. Selain itu, ada botol stoneware berbentuk onion buatan Flagon Jerman abad 18 yang dulu dipakai sebagai wadah wine, porselen faience khas Eropa, dan terakota Kerajaan Majapahit abad 13 hingga 15.

Baca Juga: Polres Kuningan Salurkan 24.000 Liter Air Bersih untuk 2 Hari ke Warga Terdampak Kemarau di Garawangi

Rentang geografis yang begitu luas ini menunjukkan satu hal yang sering terlewat dalam pelajaran sejarah di sekolah. Nusantara bukan sekadar jalurdilalui, melainkan salah satu pusat destinasi utama pedagang dari berbagai bangsa. Keramik asing datang dalam jumlah besar karena ada permintaan lokal yang kuat.

Warisan Keluarga yang Menjadi Milik Negeri

Ribuan koleksi ini awalnya merupakan peninggalan keluarga besar Raden Sumawinata. Ketika Museum Prabu Siliwangi berdiri pada 2010, keturunannya memutuskan agar benda-benda ini bisa dijangkau masyarakat luas. Pendiri museum, KH Fajar Laksana, menjelaskan bahwa kerabat dari Kesultanan Banten, Cirebon, Sumatra, hingga Jakarta ikut mempercayakan koleksi mereka untuk dipajang dan menjadi sarana edukasi.

Baca Juga: Legislator Dorong SMA/SMK di Garut Masukkan Seni Budaya ke Pembelajaran Sehari-hari

"Koleksi paling tua berasal dari abad 8 sampai 10 Masehi, mewakili era Dinasti Tang, Song, hingga Qing. Hal ini membuktikan sejak abad 10 Masehi, Nusantara sudah menjalin hubungan perdagangan yang erat dengan Tiongkok," kata Fajar.

Artinya, jauh sebelum VOC datang dan jauh sebelum kemerdekaan, leluhur di tanah Sunda sudah punya jaringan dagang yang membentang sampai ke daratan Tiongkok. Ini konteks yang jarang dibahas saat pelajaran sejarah fokus pada kerajaan-kerajaan besar di Jawa Tengah dan Timur.

Upaya Pelestarian dari Pemerintah

Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Warisan Budaya serius mengawal kelestarian koleksi ini. Direktorat akan memfasilitasi perawatan berkala bersama tim ahli konservasi. Agus Widiatmoko dari Ditjen Perlindungan Kebudayaan menekankan bahwa fungsi museum bukan hanya menyimpan, tetapi menjadi ruang pembelajaran publik.

Artinya, museum di kota kecil seperti Sukabumi ini mendapat perhatian langsung dari pemerintah pusat. Alokasi sumber daya untuk konservasi menunjukkan bahwa koleksi keramik ini punya nilai yang diakui secara nasional.

Mengapa Ini Relevan untuk Kaum Muda

Bagi anak muda yang tumbuh dengan konten kreatif dan museum modern, mengunjungi Museum Prabu Siliwangi bisa jadi pengalaman yang mengejutkan. Di sini, artefak dari Mesir, Jerman, dan Tiongkok berjejer dalam satu ruangan yang sama dengan temuan lokal Majapahit. Konteks yang biasa didapat dari video YouTube atau museum luar negeri, ternyata tersedia di tanah Sunda.

Jika dibandingkan dengan ratusan sekolah di Sumedang yang direvitalisasi tahun 2026 yang lebih bersifat infrastruktur pendidikan modern, Museum Prabu Siliwangi menawarkan pendidikan sejarah yang tak ternilai harganya. Keduanya sama-sama upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tapi lewat jalur yang berbeda.

Museum ini membuka jendela untuk melihat bahwa globalisasi bukan fenomena baru abad 21. Jalur perdagangan maritim sudah menghubungkan berbagai bangsa ribuan tahun lalu, dan salah satu buktinya terpajang di Kota Sukabumi.