Hindia hingga Idgitaf Angkat Tiga Jari dan Serukan Akuntabilitas Lingkungan di Panggung AMI Awards ke-29
Musisi penerima AMI Awards ke-29 memakai panggung untuk menyorot korban bencana dan kebijakan lingkungan, seruan yang dekat dengan warga Bandung Barat di kaki perbukitan.

Malam puncak Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards ke-29 di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, berubah menjadi ruang gugatan setelah sejumlah musisi memakai pidato kemenangan untuk menyorot korban bencana dan kebijakan yang dinilai tidak berpihak. Bagi warga Kabupaten Bandung Barat, seruan itu bukan wacana jauh. Wilayah selatan KBB seperti Cililin, Gununghalu, dan Rongga sudah lama hidup berdampingan dengan longsor dan banjir kiriman setiap musim hujan.
Panggung yang biasanya dipakai membagi piala justru memuat kalimat tentang orang-orang yang sulit bernapas. Baskara Putra, yang dikenal sebagai Hindia, menerima penghargaan untuk karya berjudul Nafas dan menggeser sorotan dari pencapaian pribadinya.
"Untuk teman-teman yang sulit bernapas karena alam dibakar, untuk yang sulit bernapas karena kebijakan tidak berpihak kepada kita semua, dan untuk yang masih diadu domba"
Kalimat itu ia sampaikan sambil mengangkat tiga jari ke udara, gestur yang kemudian diulang Naykilla dengan penegasan singkat bahwa sikap itu adalah sebuah pernyataan. Dua tahun sebelumnya, ajang yang sama juga diwarnai pidato politik sejumlah penyanyi, tetapi tahun ini simbolnya lebih terbuka dan menyebar ke lebih banyak penerima piala.
Baca Juga: Polisi Amankan Pria 43 Tahun Usai Perempuan Tewas Bersimbah Darah di Kos Cigugur Tengah Cimahi
Kerusakan lingkungan yang dipindahkan ke atas panggung
Idgitaf membawa persoalan itu lebih dekat ke tanah. Ia memakai analogi tentang orang yang membenci hujan karena longsor dan banjir, berhadapan dengan orang yang merindukan hujan karena kebakaran hutan. Ia menutup dengan tuntutan agar ada restorasi dan akuntabilitas.
Bagi pembaca di Bandung Raya, dua sisi analogi itu bukan perumpamaan. Kawasan Bandung Utara di KBB, termasuk Lembang dan Parongpong, sudah lama menghadapi tekanan alih fungsi lahan yang memperparah limpasan air ke hilir. Sementara itu, kebakaran lahan di lereng gunung pada musim kemarau jadi langganan laporan petugas.
Baca Juga: Tak Ada Presiden dari Sunda Sejak 1945, Jawabannya Ada di Filosofi Mangga Tipayun dan Perang Bubat
Kunto Aji menyambung dengan menyebut dirinya sebagai penyambung suara yang tidak terdengar di luar sana. Band Perunggu memilih menekankan solidaritas sesama, sedangkan Enau meminta rekan sejawat tidak berhenti bersuara lewat musik. Di antara penerima lain, Andien mendedikasikan panggungnya untuk korban bencana alam, anak-anak, satwa, dan tumbuhan.
Panggung megah dengan penonton dari kalangan pejabat
Penyelenggaraan tahun ini ditopang antara lain oleh Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesia Raya, dan LPDP, dengan kursi tamu yang diisi pejabat serta kalangan elite industri. Jarak antara kemegahan itu dan isi pidato para musisi menjadi bagian dari cerita malam tersebut.
Kontras serupa muncul di daerah. Peristiwa bencana di KBB sering kali lebih dulu ditangani lewat gotong royong warga desa sebelum bantuan resmi turun. Relawan di Cililin dan Gununghalu biasa mengangkut material longsor dengan alat seadanya, sementara kajian tata ruang berjalan di tingkat kabupaten.
Isu lingkungan juga sudah masuk ke perencanaan kawasan di Bandung Barat. Pengembangan Kota Baru Parahyangan di Padalarang, misalnya, pernah mendapat pengakuan Greenship Awards 2025 dari Green Building Council Indonesia, seperti kami laporkan dalam artikel tentang penghargaan greenship Kota Baru Parahyangan. Pengakuan itu menunjukkan standardisasi bangunan hijau bisa diterapkan, sekaligus menandai masih luasnya pekerjaan di luar kawasan terencana.
Nama desa yang jarang sampai ke panggung nasional
Seruan Idgitaf tentang restorasi dan akuntabilitas paling terasa di desa-desa yang berbatasan langsung dengan hutan dan tebing. Di Cipada, Cisarua, dan sekitar kawasan Gunung Burangrang, keputusan soal izin lahan dan penataan drainase menentukan apakah rumah warga kebanjiran pada November atau tidak.
Hal yang sama berlaku di sektor lain. Tuntutan agar ada orang yang bertanggung jawab atas keputusan publik sebetulnya bukan hanya soal lingkungan, melainkan soal cara lembaga bekerja. Prinsip itu juga disorot dalam tulisan kami soal kecerdasan dan integritas sebagai kunci advokat handal, yang menempatkan kompetensi dan kejujuran sebagai syarat menjalankan profesi.
AMI Awards pertama digelar pada 1997 dan sejak itu jadi ukuran pencapaian musisi nasional. Edisi ke-29 mempertemukan dua hal yang jarang berdampingan, yaitu piala industri dan keluhan warga, di satu panggung yang disiarkan luas.
Bagi seniman di Bandung Barat, ruang bersuara semacam itu tidak selalu tersedia. Panggung desa dan festival kecamatan biasanya hanya dipakai untuk hiburan hajatan. Ketika musisi nasional memakai piala untuk berbicara soal longsor dan kebijakan, gaungnya sampai ke tempat yang jarang masuk berita nasional.