Dua Ayunan Hilang dan Coretan Penuhi Taman Panatayuda, Warga Padasuka Minta Pemkot Bandung Turun Tangan
Dua ayunan di Taman Panatayuda tinggal kerangka besi, papan informasi dipenuhi coretan, dan tempat cuci tangan mati. Warga Padasuka minta Pemkot Bandung membenahi.

Anak-anak yang datang ke Taman Panatayuda di Jalan Tubagus Ismail, Kota Bandung, kini hanya bisa bermain di perosotan. Dua ayunan yang dulu tersedia tinggal menyisakan kerangka besi tanpa dudukan. Pilihan permainan di ruang terbuka publik itu menyusut drastis.
Pantauan di lokasi pada Minggu, 8 November 2026, menemukan kerusakan di beberapa titik. Coretan memenuhi papan informasi dan sejumlah tembok taman. Puntung rokok, bungkus rokok, serta daun kering berserakan di sudut-sudut area. Cat pada sejumlah fasilitas memudar dan mengelupas, sementara tempat cuci tangan tidak lagi berfungsi.
Keluhan Warga Padasuka
Putri, warga Padasuka, Cicaheum, menilai kondisi taman sudah mengganggu kenyamanan keluarga yang datang membawa anak kecil. Ia rutin berkunjung hampir setiap bulan bersama suami dan anaknya, biasanya setelah mengantar sang anak vaksinasi di Rumah Sakit Pasundan.
"Kalau saya lihat sih, kurang indah juga ya. Ada coretan-coretan, terus juga sama sampah-sampah kecil kayak puntung-puntung rokok, kotak-kotak rokok. Itu kan anak-anak, apalagi anak saya masih kecil suka ngambil-ngambil tuh."
Ia menyoroti sampah kecil yang mudah dijangkau anak, bukan hanya soal tampilan taman yang kusam. Menurutnya, hilangnya dua ayunan memangkas daya tarik taman bagi keluarga yang ingin mengajak anak bermain tanpa mengeluarkan biaya.
"Sebelumnya ada ayunan dua, sekarang udah enggak ada. Paling juga bisa main beberapa, paling perosotan doang jadinya."
Rekreasi Murah yang Kehilangan Fungsi
Taman kota menjadi pilihan rekreasi terjangkau bagi warga Bandung dibandingkan tempat bermain berbayar di pusat perbelanjaan. Ketika fasilitas di dalamnya berkurang, keluarga dengan anggaran terbatas kehilangan alternatif hiburan akhir pekan di dalam kota.
Baca Juga: Daniel Mutaqien Bantah Poster Munaslub Golkar, Klaim Isu 100 Persen Hoaks
Putri meminta Pemkot Bandung tidak berhenti pada pembersihan area. Ia mendorong perbaikan fasilitas yang rusak dan penempatan petugas kebersihan secara rutin. Menurutnya, taman perlu dirawat agar tetap berfungsi sebagai ruang interaksi dan rekreasi warga.
Ia juga menyinggung banyak anak sekolah yang nongkrong di sekitar taman karena sejumlah sekolah berada di depan lokasi tersebut. Keramaian itu menambah kebutuhan pengawasan kebersihan, terutama pada jam pulang sekolah.
Kerusakan Serupa di Wilayah Lain
Persoalan fasilitas publik yang rusak bukan kasus tunggal di Jawa Barat. Angin kencang sempat merusak 50 rumah di Rancah dan Rajadesa, Ciamis, serta 24 rumah di Tasikmalaya, seperti kami laporkan dalam angin kencang rusak puluhan rumah di Ciamis dan Tasikmalaya. Pemulihan aset pascakerusakan di wilayah itu menuntut anggaran dan tenaga tersendiri.
Di Bandung Barat, pemerintah kabupaten justru menggenjot perbaikan fasilitas pendidikan, salah satunya lewat perbaikan fasilitas pendidikan untuk kualitas SDM Bandung Barat. Langkah itu memperlihatkan perawatan sarana publik menuntut jadwal dan pembiayaan yang berkelanjutan, bukan sekadar perbaikan sesaat.
Bagi pembaca di Bandung Raya, Taman Panatayuda selama ini menjadi salah satu ruang terbuka yang paling dekat dengan permukiman di kawasan Cicaheum dan Padasuka. Kerusakan di sana langsung terasa karena warga tidak punya banyak pilihan taman lain dalam jarak berjalan kaki.