Bandung Kirim 26 Tim Putri di HYDROPLUS Soccer League 2026/27
Bandung kirim 26 tim di liga sepak bola putri HYDROPLUS Soccer League 2026/27 yang diikuti 110 tim dari lima kota. Musim kedua terapkan regulasi kontrak dan jendela transfer.

Sebanyak 26 tim dari Bandung bakal berlaga di HYDROPLUS Soccer League 2026/27. Mereka tersebar di dua kategori usia, yakni 17 tim di U-15 dan 9 tim di U-18.
Jumlah itu menempatkan Bandung sebagai salah satu penyedia bakat terbesar dalam liga futebol putri ini. Liga bakal bergulir di lima kota dengan total 110 tim.
Perhelatan ini bukan sekadar kompetisi anak-anak. Teddy Tjahjono, Program Director HYDROPLUS Soccer League, menyebut liga ini bagian dari sistem阶梯 pembinaan yang digagas Djarum Foundation. Di level paling dasar ada MilkLife Soccer Challenge untuk usia 8 hingga 12 tahun. Dari situlah pemain-potensial masuk ke HYDROPLUS Soccer League di kategori U-15 dan U-18. Liga ini kemudian bisa menjadi batu loncatan ke Indonesia Women's League dan akhirnya ke Timnas Putri Indonesia.
Baca Juga: 500 Relawan McDonald's Temani 5.250 Anak Marginal Lewat 2.036 Jam Aktivitas di 147 Restoran
"Kehadiran HYDROPLUS Soccer League melengkapi piramida pembinaan sepak bola putri di Tanah Air," kata Teddy.
Di luar konsep raksasa itu, ada hal lebih konkret yang berubah di musim kedua. Kompetisi kini menerapkan ikatan kesepakatan tertulis antara tim dan orang tua soal proses rekrutmen pemain dan benefit yang diterima. Liga juga membuka jendela transfer di awal dan pertengahan musim.
Peraturan ini memaksa para pemain cilik memahami bahwa sepak bola punya sisi industri. Mereka tidak sekadar datang latihan dan bertanding. Ada aturan main yang mengatur bagaimana seorang pemain bisa berpindah tim dan apa yang menjadi hak dan kewajibannya.
Baca Juga: Restoran Korea 88 SEOUL Paskal 23 Bandung Ditutup Sementara Usai 26 Pelanggan Positif Keracunan
"Langkah ini kami susun agar jalannya kompetisi semakin profesional dan para pesepak bola putri juga mulai memiliki gambaran tentang bagaimana industri sepak bola yang sebenarnya," tutur Teddy.
Nafeeza Ayasha Nori menjadi contoh nyata jalur karier yang mulai terbentuk. Gadis kelahiran 29 Maret 2011 ini memulai perjalanan dari Mojang Priangan lewat liga yang sama. Pengalaman bertanding melawan tim dari berbagai daerah menjadi bekal untuk menembus Timnas Wanita di Kualifikasi AFC U-17 2027.
Di musim kedua, ia naik level dengan bergabung di Akademi Persib Bandung U-18. "Berkaca dari pengalaman musim lalu, aku jadi lebih termotivasi lagi untuk berkembang dan meningkatkan performa terbaik," kata dia.
Dari 1.723 peserta di musim pertama, 53 orang berhasil membela Timnas U-16 di Srikandi Merdeka Cup. Sebagian lagi masuk skuad Garuda Pertiwi yang finis runner-up di turnamen delapan tim dari tujuh negara Asia. Angka-angka itu menunjukkan bahwa liga ini bukan proyek tanpa hasil, melainkan jalur nyata menuju tim nasional.
Regulasi kontrak dan jendela transfer mengubah cara pandang terhadap sepak bola usia dini. Peserta tidak lagi dilihat sebagai anak yang sekadar hobi, tetapi sebagai atlet dengan prospek karier jangka panjang.