Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Verifikasi Makam Mbah Raden Marpu di Mekarwangi Buka Jalur Menuju Kampung Adat

Jabar · Oleh ·

Verifikasi Makam Keramat Mbah Raden Marpu di Desa Mekarwangi membuka jalan bagi penetapan situs budaya dan gagasan kampung adat di Bekasi.

Verifikasi Makam Mbah Raden Marpu di Mekarwangi Buka Jalur Menuju Kampung Adat

Di Desa Mekarwangi, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, warga kini memiliki jalan nyata untuk menjaga jejak leluhur mereka.

Kamis (8/10/2026), Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Bosih Awaludin bersama Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disbudpora) melakukan verifikasi lapangan terhadap Makam Keramat Mbah Raden Marpu. Kajian ini bertujuan menentukan apakah makam tersebut layak ditetapkan sebagai Cagar Budaya atau Situs Budaya.

Apabila memenuhi kriteria Cagar Budaya, pemerintah daerah berkewajiban menjaga, membantu legalitas, serta mendukung operasional pemeliharaan situs tersebut. DPRD berkomitmen mendorong Bupati memberikan perhatian sesuai ketentuan yang berlaku.

Baca Juga: Polisi Tangkap Dua Pemuda di Tasikmalaya karena Tanam Ganja di Kebun Cabai, Tujuh Pot Disita

Perlindungan Tidak Bergantung pada Satu Status

Jika hasil kajian belum memenuhi seluruh kriteria Cagar Budaya, ada jalur lain. Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpora Kabupaten Bekasi Ad Yayuk Puspita menjelaskan bahwa status sebagai situs kebudayaan tetap terbuka.

"Makam Mede ini harus tetap ada. Wieskipun tidak masuk Cagar Budaya, bisa diusulkan menjadi situs kebudayaan. Makamnya sebagai situs kebudayaan, sementara benda-benda peninggalannya dapat dikaji sebagai benda Cagar Budaya," jelas Yayuk.

Baca Juga: Tiga siswi SMA Cianjur korban TPPO terima pendampingan psikologis dan kesehatan

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pelestarian tidak hanya bergantung pada status administratif. Nilai sejarah, tradisi, dan hubungan masyarakat dengan warisan budaya juga menjadi pertimbangan.

Tradisi yang Tetap Hidup di Mekarwangi

Tim Ahli Cagar Budaya Muhtasim Bilah menegaskan bahwa tradisi masyarakat menjadi bagian penting dalam menilai nilai budaya sebuah situs. Di Makam Keramat Mbah Raden Marpu, tradisi seperti Maulid dan Sedekah Bumi masih dijalankan hingga kini.

Dari verifikasi ini, tim menemukan empat benda peninggalan yang disebut berkaitan dengan Mbah Raden Marpu. Benda-benda tersebut akan dikaji lebih lanjut untuk melihat kelayakan mereka sebagai benda Cagar Budaya.

Titik Awal Menuju Kampung Adat

Proses verifikasi ini tidak berdiri sendiri. Rafiek, Sekretaris Dewan Kebudayaan Daerah sekaligus Tim Pendaftaran Cagar Budaya Kabupaten Bekasi, menyebut makam ini sebagai fondasi awal bagi penguatan identitas budaya desa.

"Hari ini menjadi titik awal Kampung Mekarwangi menjadi kampung adat, seiring dengan rencana penetapan Makam Mede sebagai situs budaya. Ini sejalan dengan program 100 hari kerja Bupati," jelas Rafiek.

Konsep kampung adat tidak hanya soal keberadaan satu situs sejarah.Rafiek menjelaskan, kampung adat membutuhkan ekosistem budaya yang hidup, mulai dari tradisi, sejarah, benda peninggalan, nilai-nilai masyarakat, hingga keterlibatan generasi penerus.

Karena itulah, tim juga meminta perhatian terhadap beduk tua yang ditemukan di kawasan tersebut. Kepala desa diminta mengawal pengajuan proposal kepada dinas terkait untuk benda bersejarah itu.

Silsilah yang Mengaitkan Dua Tokoh

Pelestarian juga dibarengi penelusuran silsilah. Rafiek mengungkapkan hasil penelusuran mengenai hubungan garis keturunan Mbah Raden Marpu dengan Mbah Raden Narun.

"Orang Bekasi yang disebut Betawi Sunda Ora, ternyata unsur 'Ora' atau Jawa ini memiliki keterkaitan dengan garis keturunan Mbah Raden Narun, yang merupakan kakek dari Mbah Raden Marpu," jelas Rafiek.

Penelusuran semacam ini penting karena sejarah lokal tidak selalu hadir dalam dokumen formal. Sebagian hidup melalui cerita keluarga, tradisi masyarakat, benda peninggalan, maupun situs yang diwariskan lintas generasi.

Keluarga Keturunan Menyambut Positif

Raden Suryana, salah satu keturunan Mbah Raden Marpu, menyambut positif proses verifikasi ini. Baginya, keberadaan makam melampaui fungsi sebagai tempat ziarah.

"Kami sebagai keturunan sangat bersyukur dan mendukung penuh. Makam ini bukan hanya tempat ziarah, tetapi juga identitas sejarah keluarga dan masyarakat Mekarwangi," kata Raden Suryana.

Ia berharap proses pelestarian ini membuat sejarah keluarga dan masyarakat tetap dikenal oleh generasi muda.

Dukungan juga datang dari keluarga besar Wargi Jati. Ketua Raden Haji Pudin Adi Sucipto berharap pemerintah daerah serius menjaga situs ini.

"Kami dari keluarga besar Wargi Jati berharap pemerintah daerah serius menjaga situs ini. Kami siap berkolaborasi menjaga, merawat, dan melestarikan Makam Mbah Raden Marpu sebagai warisan budaya yang harus dijaga bersama," katanya.

Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, keluarga keturunan, tokoh agama, tokoh budaya, dan generasi muda dinilai menjadi kunci agar upaya pelestarian tidak berhenti pada penetapan status administratif.

Hasil verifikasi dan kajian selanjutnya akan menentukan bentuk perlindungan yang paling tepat. Namun satu hal sudah jelas, warisan leluhur bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah identitas yang menentukan bagaimana sebuah generasi mengenali asal-usulnya dan bagaimana generasi berikutnya membangun masa depannya.