15 Truk Angkut 90 Ton Sampah Harian Majalengka ke TPA Heuleut
Majalengka kelolah 90 ton sampah harian ke TPA Heuleut dengan 15 truk setelah dapat satu dump truck CSR Bank BJB. DLH mengakui armada masih minim untuk jangkau seluruh wilayah.

Petugas DLH Majalengka mengoperasikan 15 kendaraan pengangkut sampah untuk melayani pengiriman sekitar 90 ton limbah domestik setiap hari menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Heuleut. Penambahan satu unit dump truck dari program tanggung jawab sosial Bank BJB mendorong jumlah armada dari 14 menjadi 15 truk.
Berdasarkan standar operasional pengelolaan sampah di daerah perkotaan, satu kendaraan pengangkut idealnya melayani sekitar 5.000 warga. Dengan jumlah penduduk Majalengka yang mencapai ratusan ribu jiwa, armada yang ada masih minim dibandingkan kebutuhan riil di lapangan. DLH setempat menyebut penambahan armada menjadi salah satu cara untuk menutup celah pelayanan di wilayah-wilayah yang belum terjangkau secara rutin.
"Pengangkutan dilakukan setiap hari karena volume sampah yang masuk dalam sistem pengelolaan di TPA Heuleut mencapai sekitar 90 ton per hari," kata Kepala DLH Kabupaten Majalengka Wawan Sarwanto. Ia menjelaskan proses pengambilan sampah dari titik pelayanan hingga pengiriman ke TPA memerlukan dukungan sarana angkut yang cukup agar tidak menumpuk di jalan atau area permukiman.
Baca Juga: PPP Bekasi siapkan Organisasi hingga Tingkat RT RW untuk Raih Suara di Pemilu 2029
TPA Heuleut kini menghadapi tekanan akibat akumulasi sampah yang terus meningkat setiap tahun. Dengan rata-rata 90 ton masuk setiap hari, kapasitas landfill di tempat tersebut terus berkurang. Kondisi ini serupa dengan tantangan di sejumlah kabupaten lain di Jawa Barat yang juga mengalami keterbatasan ruang pemrosesan akhir.
Pemkab Majalengka telah menggandeng sektor swasta untuk membantu pembiayaan operasional persampahan. Bantuan dump truck dari Bank BJB merupakan bagian dari skema tanggung jawab sosial perusahaan yang selama ini banyak digunakan pemerintah daerah untuk mengisi kekosongan anggaran pengada.
"Penanganan sampah membutuhkan kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat," kata Bupati Majalengka Eman Suherman. Ia meminta warga mengurangi timbulan sampah dan memisahkannya sejak dari rumah sebagai langkah jangka panjang untuk menurunkan beban pengangkutan.
Baca Juga: MK Tutup Pintu PHPU Syarat Pendidikan Gibran, Persoalan Dokumen Belum Selesai
Upaya serupa pernah terjadi di 500 Ribu Genteng dari Plered dan Majalengka Gerakkan Ekonomi Pengrajin dan Sopir Truk Jawa Barat yang menunjukkan Majalengka bukan hanya bicara soal lingkungan, tapi juga menjadi penggerak ekonomi sektor informal lewat distribusi material bangunan. Sementara itu, 28 Karhutla Terjadi di Majalengka September 2026, 4.707 Warga Terdampak menggambarkan beban ganda dinas lingkungan di kabupaten ini yang tidak hanya menangani sampah domestik, tapi juga kebakaran hutan dan lahan.
Satu dump truck tambahan memang bukan solusi menyeluruh. DLH Majalengka berharap armada yang diperkuat itu mendorong pelayanan lebih merata ke area yang sebelumnya hanya dilayani dua atau tiga kali sepekan. Targetnya, pengangkutan harian bisa mencakup lebih banyak titik sehingga sampah tidak mengendap terlalu lama di sumbernya.