Trauma Healing mulai Digelar untuk Anak-Anak Korban Tanah Longsor di Cisarua
Polda Jawa Barat menggelar trauma healing untuk korban longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat, fokus pada pemulihan psikologis anak, lansia, dan perempuan melalui pendekatan psikososial serta kolaborasi antar instansi.

Trauma Healing Sebagai Bagian Penting Penanganan Pascabencana Longsor Cisarua
Musibah longsor yang terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat tidak hanya meninggalkan dampak fisik seperti kerusakan properti dan hilangnya nyawa, tetapi juga trauma psikologis yang mendalam bagi warga terdampak. Menyadari hal ini, Polda Jawa Barat mengerahkan Tim Psikologi SDM untuk melakukan kegiatan trauma healing yang bertujuan membantu korban memulihkan kondisi mental dan emosional.
Tujuan Utama Kegiatan Trauma Healing: Pulihkan Rasa Aman Kelompok Rentan
Kegiatan trauma healing ini secara khusus ditujukan untuk anak-anak, perempuan, dan lansia—kelompok yang paling rentan mengalami dampak psikologis setelah bencana. Menurut Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Hendra Rochmawan:
"Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penanganan pascabencana yang dilakukan Polda Jabar guna membantu pemulihan kondisi psikologis para korban, khususnya anak-anak, perempuan, dan lansia. Mereka mengalami tekanan serta trauma akibat peristiwa bencana alam tersebut."
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah membantu korban kembali merasa aman, nyaman, dan ceria setelah mengalami kejadian yang menakutkan. Bagi anak-anak, trauma bencana dapat memengaruhi perkembangan emosional dan sosial mereka jika tidak ditangani dengan tepat, sedangkan lansia dan perempuan seringkali mengalami kecemasan yang berkelanjutan akibat kehilangan tempat tinggal atau orang terdekat.
Pendekatan Psikososial yang Dilakukan Tim Psikologi Polda Jabar
Tim Psikologi SDM Polda Jabar menggunakan berbagai pendekatan psikososial untuk mencapai tujuan pemulihan:
- Pendampingan emosional: Tim memberikan dukungan emosional yang konsisten kepada korban, mendengarkan keluhan dan perasaan mereka tanpa penilaian.
- Konseling sederhana: Memberikan arahan dan tips untuk mengelola stres dan kecemasan yang dialami oleh pengungsi.
- Permainan edukatif dan interaktif bagi anak-anak: Melalui permainan seperti menggambar, bermain mainan, dan aktivitas kelompok, anak-anak diajak mengekspresikan perasaan mereka dan mengurangi rasa takut.
- Komunikasi suportif: Tim berkomunikasi dengan pengungsi dengan cara yang ramah dan memahami, membantu mereka membangun kembali rasa optimisme tentang masa depan.
Tim juga berupaya menciptakan suasana aman dan nyaman di lokasi pengungsian, sehingga korban dapat merasa nyaman untuk berbagi pengalaman dan mulai proses pemulihan.
Kolaborasi Antar Instansi dalam Penanganan Lengkap Pascabencana
Kegiatan trauma healing ini tidak dilakukan secara sendirian, tetapi merupakan bagian dari upaya penanganan pascabencana yang kolaboratif antara berbagai instansi:
- Tim SAR Sat Brimob Polda Jabar
- Biddokkes Polda Jabar
- TNI
- BPBD Kabupaten Bandung Barat
- Basarnas
- Relawan dan masyarakat setempat
Kolaborasi ini memastikan bahwa penanganan pascabencana tidak hanya fokus pada pencarian dan evakuasi korban, tetapi juga pada pemulihan fisik dan psikologis yang komprehensif.
Dampak Jangka Pendek dan Panjang dari Trauma Healing Bagi Korban
Dalam jangka pendek, kegiatan trauma healing membantu mengurangi rasa cemas, takut, dan stres yang dialami oleh korban. Bagi anak-anak, aktivitas interaktif membantu mereka kembali bermain dan berinteraksi dengan teman-teman mereka tanpa rasa takut.
Dalam jangka panjang, trauma healing membantu korban membangun kembali rasa percaya diri dan optimisme, sehingga mereka dapat kembali menjalani kehidupan normal secepat mungkin. Tanpa penanganan psikologis yang tepat, korban dapat mengalami masalah mental yang berkelanjutan seperti depresi atau gangguan kecemasan yang dapat memengaruhi kualitas hidup mereka.
Dengan adanya kegiatan trauma healing ini, Polda Jabar menunjukkan bahwa penanganan pascabencana tidak hanya tentang menyelamatkan nyawa, tetapi juga tentang membantu korban pulih secara keseluruhan—baik fisik maupun psikologis.