Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Pengaruh Mataram Bawa Sistem Tingkatan Bahasa Jawa ke Priangan, Bukti dari Naskah Sri Ajnyana

KBB · Oleh ·

Naskah Sri Ajnyana bukti sistem undak-usuk basa Sunda belum ada di masa Sunda Buhun. Sistem tersebut terbentuk setelah Priangan تحت pengaruh Mataram pada abad ke-17 dan interaksi dengan masyarakat Jawa.

Pengaruh Mataram Bawa Sistem Tingkatan Bahasa Jawa ke Priangan, Bukti dari Naskah Sri Ajnyana

INFO BANDUNG BARAT — Dalam naskah Sri Ajnyana yang berumur ratusan tahun, ditemukan kata manéh sebagai kata ganti orang kedua. Kata tersebut kini kerap dianggap kurang sopan jika ditujukan kepada orang yang lebih tua. Namun pada masa penulisan naskah itu, belum ada batasan ketat mengenai tingkat tutur dalam berbahasa Sunda.

Temuan dalam naskah tua itu menjadi salah satu bukti bahwa sistem undak-usuk basa Sunda yang dikenal sekarang tidak serta-merta ada sejak masa Sunda Buhun. Sistem pembedaan bahasa menjadi leemes, loma, dan kasar justru terbentuk setelah interaksi intensif antara masyarakat Sunda dan Jawa, terutama ketika Priangan berada di bawah pengaruh Kesultanan Mataram pada abad ke-17.

Pada masa itu, perpindahan penduduk Jawa ke wilayah Priangan mempertemukan kedua kelompok masyarakat dalam waktu yang panjang. Hubungan politik antara Mataram dan para penguasa lokal Priangan membuka ruang pertukaran bahasa dan kebudayaan.

Baca Juga: Polisi Tangkap 8 Tersangka Peredarar Sinte Cimahi, 3,3 Kg Disita dari 7 Kasus

"Pengaruh antarbasa merupakan hal yang wajar dalam sejarah perkembangan suatu bahasa. Ketika dua kelompok masyarakat hidup berdampingan dan berinteraksi dalam waktu lama, pertukaran kata dan cara berbahasa sangat mungkin terjadi," tulis Juanda dalam penelitiannya mengenai dinamika penggunaan raguam bahasa di Jawa Barat.

Kemiripan antara undak-usuk basa Sunda dengan system unguah-ungguh bahasa Jawa bukan kebetulan. Keduanya sama-sama membagi bahasa berdasarkan hubungan sosial antara penutur dan lawan bicara. Dalam bahasa Jawa, dikenal raggam ngoko dan krama. Dalam bahasa Sunda, dikenal bahasa loma dan bahasa leemes.

Perubahan struktur sosial masyarakat Priangan juga mendukung perkembangan sistem ini. Kelompok menak yang memiliki kedudukan tertentu dalam hierarki sosial menggunakan bahasa yang berbeda dengan masyarakat kebanyakan. Cara seseorang berbicara menjadi penanda hubungan sosial antara satu pihak dengan pihak lainnya.

Baca Juga: Bioskop KBP Jadi Harapan Baru di KBB

Penelitian Lukmana (2004) dan Rosmana (2004) membahas hubungan erat antara system tingkat tutur bahasa Jawa dengan perkembangan undak-usuk basa Sunda. Keduanya menyimpulkan bahwa sistem tersebut berkembang melalui kontak panjang antara masyarakat Sunda dan Jawa.

Pengaruh tidak hanya pada system tingkat tutur, tetapi juga pada kosakata. Kata wengi dalam bahasa Sunda dan bengi dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sama, yaitu malam. Kajian Coolsma (1985) mencatat sejumlah kosakata Sunda yang menunjukkan hubungan dengan bahasa Jawa setelah interaksi antarmasyarakat semakin intensif.

Dengan demikian, lebih tepat jika undak-usuk basa Sunda dipahami sebagai bagian dari sejarah perkembangan bahasa Sunda yang mendapat pengaruh kuat dari bahasa dan struktur sosial Jawa. Proses adaptasi selama berabad-abad membuat system tersebut berubah dan mendapat makna baru dalam lingkungan masyarakat Sunda.

Memahami sejarah undak-usuk bukan untuk menentukan mana yang "asli" dan mana yang "bukan asli", tetapi untuk mengetahui bagaimana bahasa Sunda terbentuk, berubah, dan terus hidup bersama masyarakat penuturnya.

Konteks sejarah ini relevan dengan wacana perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Tatar Sunda yang saat ini sedang dibahas di DPRD Jawa Barat. Perjalanan sistem pengetahuan Sunda dan identitas budaya Jawa Barat menunjukkan bahwa proses pertemuan antarmasyarakat telah membentuk banyak aspek kehidupan masyarakat Sunda hingga saat ini.