TMA Waduk Jatiluhur Turun 0,6 Meter dari Batas Normal, Cadangan Air Dipastikan Aman sampai Akhir 2026
Tinggi muka air Waduk Jatiluhur turun ke 96,33 meter atau 0,6 meter di bawah batas normal. PJT II memastikan cadangan air 3,6 miliar meter kubik masih cukup untuk kebutuhan irigasi dan air bersih hingga akhir 2026

Posisi air di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, kini berada di angka 96,33 meter. Jaraknya tinggal 0,6 meter dari batas operasi normal bawah yang ditetapkan Pengelola Waduk Jatiluhur.Perum Jasa Tirta II (PJT II) memastikan kondisi tersebut belum mengkhawatirkan. Cadangan air yang tersedia saat ini masih diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan irigasi, air bersih, dan industri hingga akhir 2026. Berdasarkan simulasi neraca air yang dilakukan setiap dua minggu, total cadangan air Waduk Jatiluhur diperkirakan mencapai sekitar 3,6 miliar meter kubik untuk periode hingga 31 Desember 2026.
Jumlah tersebut terdiri dari tiga sumber utama. Volume efektif yang tersedia saat ini sebesar 1,25 miliar meter kubik. Aliran Sungai Citarum hingga Desember masih diperkirakan menyumbang sekitar 1,97 miliar meter kubik. Sementara dari sumber air setempat, PJT II memperkirakan masih terdapat tambahan sekitar 374 juta meter kubik.
Cadangan itu kemudian dihitung menghadapi sejumlah kebutuhan besar. Kebutuhan irigasi hingga akhir 2026 diperkirakan mencapai 1,95 miliar meter kubik. Angka ini menjadikan sektor pertanian sebagai pengguna air terbesar dari Waduk Jatiluhur. Selain itu, kebutuhan untuk PDAM dan industri diperkirakan mencapai 708 juta meter kubik.
Baca Juga: Bamsoet Raih Penghargaan Tokoh Inspiratif Jawa Tengah 2026 di Semarang
Dengan memperhitungkan seluruh pasokan dan kebutuhan tersebut, neraca air Waduk Jatiluhur hingga akhir tahun masih menunjukkan angka positif. Selisih antara cadangan dan kebutuhan tercatat sebesar 976 juta meter kubik yang menjadi ruang aman bagi Pengelola dalam mengatur pengeluaran air selama musim kering.
PDAM dan industri yang bergantung pada air Waduk Jatiluhur masih bisa beroperasi tanpa kekhawatiran berarti. Sementara itu, ratusan ribu hektar sawah di wilayah layanan waduk tetap memperoleh pasokan air untuk mengairi tanaman padi. Proyeksi ini menjadi kabar baik bagi para petani yang sedang menghadapi musim kemarau.
Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan posisi air awal tahun yang tinggi menjadi faktor kunci tersedianya cadangan saat ini. Pada 1 Januari 2026, tinggi muka air waduk tercatat dalam posisi yang memungkinkan adanya.tabungan untuk musim kering yang sedang berlangsung.