Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

TikTok dan Soft Power China: Bagaimana FYP Membentuk Citra Global

Jabar · Oleh · · Diperbarui 11 Agustus 2026

TikTok telah menjadi alat soft power China. Dengan algoritma rekomendasi yang personal, platform ini membentuk persepsi global tentang China melalui konten video pendek.

TikTok dan Soft Power China: Bagaimana FYP Membentuk Citra Global

FYP TikTok yang Mengubah Persepsi Dunia tentang China

Beberapa tahun lalu, banyak orang mengenal China melalui perang dagang, persaingan teknologi dengan Amerika Serikat, atau berbagai kontroversi geopolitik. Namun kini, semakin banyak anak muda mengenal negara tersebut melalui sesuatu yang jauh lebih sederhana: TikTok.

Di antara video hiburan, tren fashion, dan rekomendasi kuliner, pengguna TikTok juga disuguhi konten tentang kereta cepat yang melaju lebih dari 300 kilometer per jam, kota-kota futuristik penuh gedung pencakar langit, kampus modern, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat China yang tampak maju dan nyaman.

Baca Juga: PSI Karawang Bagikan 100 Paket Beras di Galuh Mas untuk Warga Sekitar

Chongqing menjadi salah satu kota yang kerap viral di platform ini. Metropolis di China tersebut dikenal karena lanskapnya yang unik, jalur kereta yang menembus bangunan apartemen, serta pemandangan malam yang menyerupai kota dalam film fiksi ilmiah. Konten-konten semacam ini muncul berulang kali di layar jutaan pengguna di seluruh dunia.

Pertanyaannya bukan apakah konten tersebut benar atau salah. Pertanyaannya adalah apakah paparan terus-menerus terhadap konten semacam itu dapat membentuk cara kita memandang China.

Apa Itu Soft Power dan Kaitannya dengan TikTok

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan mengingat TikTok telah berkembang menjadi salah satu platform media sosial terbesar di dunia. Menurut Digital 2025 Global Overview Report, TikTok memiliki lebih dari satu miliar pengguna aktif bulanan dan menjadi salah satu platform dengan tingkat keterlibatan tertinggi secara global.

Baca Juga: Polres Garut Tangkap 28 Tersangka dari 20 Kasus Narcotics dalam Dua Pek

Dengan jangkauan sebesar itu, TikTok tidak lagi sekadar aplikasi hiburan, melainkan ruang digital tempat persepsi publik dapat terbentuk setiap hari.

Dalam kajian Hubungan Internasional, kemampuan memengaruhi persepsi melalui daya tarik dikenal sebagai soft power. Joseph Nye (2004) mendefinisikan soft power sebagai kemampuan suatu negara untuk memperoleh hasil yang diinginkan melalui daya tarik, bukan melalui paksaan militer maupun tekanan ekonomi.

Jika hard power bekerja dengan ancaman dan kekuatan, soft power bekerja melalui budaya, nilai, citra, dan kemampuan menarik simpati masyarakat internasional.

"Soft power tidak bergantung pada kekuatan militer atau ekonomi, melainkan pada kemampuan suatu negara untuk menarik dan mempengaruhi melalui nilai-nilai dan budayanya."

Pada abad ke-20, Amerika Serikat menjadi contoh paling menonjol dari penggunaan soft power. Hollywood, musik pop, dan televisi berperan besar dalam membentuk citra Amerika di berbagai belahan dunia. Namun perkembangan teknologi digital telah mengubah cara pengaruh tersebut bekerja.

Algoritma: Mesin Pembangun Persepsi

Dalam konteks inilah TikTok menjadi menarik. Platform yang dimiliki oleh ByteDance, perusahaan teknologi asal China, merupakan salah satu contoh paling sukses dari globalisasi teknologi China. Keberhasilannya menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya sebuah platform media sosial yang lahir dari China mampu mendominasi pasar global dan bersaing langsung dengan raksasa teknologi Barat.

Fenomena ini menjadi penting karena terjadi bersamaan dengan meningkatnya upaya China untuk memperluas pengaruh globalnya melalui berbagai instrumen budaya, media, dan teknologi.

Yang membuat TikTok berbeda dari platform lainnya adalah kemampuannya menghadirkan pengalaman yang sangat personal melalui algoritma rekomendasi. Pengguna tidak hanya menggunakan TikTok sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menghabiskan waktu untuk mengonsumsi konten yang terus disesuaikan dengan minat mereka.

Berbeda dengan media konvensional yang mengharuskan audiens mencari informasi secara aktif, TikTok menyajikan konten melalui sistem rekomendasi yang sangat personal. Pengguna tidak selalu memilih apa yang ingin mereka lihat; dalam banyak kasus, algoritma menentukan apa yang akan muncul di layar mereka.

Akibatnya, persepsi sering kali terbentuk bukan dari satu video, melainkan dari ribuan video yang muncul secara berulang. Ketika pengguna terus-menerus melihat konten mengenai kemajuan teknologi China, infrastruktur modern, budaya populer, atau kehidupan masyarakatnya, mereka perlahan membangun gambaran tertentu mengenai negara tersebut.

Bukti Ilmiah dan Narasi yang Lebih Kompleks

Temuan penelitian terbaru menunjukkan bahwa fenomena ini bukan sekadar asumsi. Incerti, Elkobi, dan Mattingly (2026) menemukan bahwa influencer pro-China di TikTok mampu meningkatkan persepsi positif pengguna terhadap China secara signifikan. Menariknya, pengaruh tersebut bahkan lebih efektif dibandingkan konten resmi media pemerintah China.

Namun, temuan tersebut lebih tepat dipahami sebagai bukti bahwa platform digital dapat menjadi ruang baru bagi pembentukan persepsi internasional, bukan sebagai bukti bahwa negara secara langsung mengendalikan seluruh proses tersebut.

Menganggap TikTok semata-mata sebagai alat propaganda China juga merupakan penyederhanaan yang berlebihan. Hubungan antara platform digital, algoritma, dan pengaruh politik jauh lebih kompleks.

Banyak konten yang menampilkan citra positif China dibuat oleh wisatawan, mahasiswa internasional, atau kreator independen, bukan oleh pemerintah China secara langsung. Selain itu, pengguna media sosial bukanlah audiens yang sepenuhnya pasif. Mereka tetap memiliki kemampuan untuk memilih, menginterpretasikan, bahkan menolak narasi yang mereka temui di ruang digital.

Di sisi lain, berbagai penelitian dan pemerintah di sejumlah negara juga menyoroti isu transparansi algoritma, moderasi konten, dan potensi bias informasi dalam platform tersebut. Perdebatan ini menunjukkan bahwa pengaruh digital tidak pernah bersifat netral sepenuhnya, tetapi juga tidak dapat dijelaskan melalui narasi propaganda yang terlalu sederhana.

Persaingan Pengaruh di Era Digital

Karena itu, pertanyaan paling penting bukanlah apakah TikTok merupakan propaganda atau bukan. Pertanyaan yang lebih relevan adalah bagaimana platform digital telah mengubah cara negara membangun pengaruh pada abad ke-21.

Jika pada masa lalu negara membutuhkan film blockbuster, stasiun televisi internasional, atau kampanye diplomatik yang mahal untuk membangun citra global, kini pengaruh dapat mengalir melalui video berdurasi beberapa detik yang muncul di layar ponsel miliaran orang setiap hari.

TikTok menunjukkan bahwa persaingan pengaruh internasional tidak lagi hanya berlangsung di ruang diplomasi atau arena ekonomi, tetapi juga di halaman FYP yang kita buka setiap pagi.

Di era digital, perebutan pengaruh tidak selalu hadir dalam bentuk pidato diplomatik atau kekuatan militer. Terkadang, ia hadir melalui video pendek yang muncul di layar ponsel kita sebelum sarapan.

Dengan demikian, persaingan pengaruh antarnegara pada abad ke-21 tidak hanya berlangsung melalui diplomasi formal dan kekuatan ekonomi, tetapi juga melalui platform digital yang membentuk persepsi publik global setiap hari.