Kerusakan DAS Bikin 943 Ribu Warga Jawa Barat Kekeringan padahal Curah Hujan Lebih Tinggi dari Jawa Tengah
943 ribu warga Jawa Barat kesulitan air bersih meski curah hujan provinsi ini lebih tinggi dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pakar UGM menyatakan kerusakan sistem DAS yang sudah beralih fungsi menjadi penyebab utama krisis ini.

Krisis air bersih melanda Jawa Barat saat musim kemarau. Wilayah yang secara iklim lebih basah dari Jawa Tengah dan Jawa Timur ini kini mencatat 943 ribu warganya kesulitan air bersih akibat kemarau panjang.
Data itu berdasarkan laporan tertulis yang diterima minggu ini. Kondisi ini mencolok karena secara karakteristik, curah hujan di Jawa Barat seharusnya lebih tinggi dibanding provinsi tetangganya.
Pakar hidrologi dari Universitas Gadjah Mada, Hatma Suryatmojo, menjelaskan bahwa ketidakseimbangan neraca air menjadi penyebab utama. Kebutuhan masyarakat melampaui ketersediaan karena sistem Daerah Aliran Sungai tidak lagi mampu menyimpan cadangan air.
Baca Juga: Polresta Cirebon Selidiki Kematian Karningsih di Rumah dengan Belasan Luka Tusukan
"Ketika fungsi resapan hilang, tidak ada air hujan yang dapat ditampung dalam sistem DAS," katanya di Yogyakarta, Jumat lalu. "Kondisi DAS di Pulau Jawa pun semakin lama semakin kritis."
Konversi lahan di kawasan hulu menjadi pemicu utama. Area yang seharusnya berfungsi sebagai daerah resapan kini banyak beralih fungsi menjadi permukiman dan area produksi. Air hujan tidak lagi meresap ke tanah, melainkan langsung mengalir menjadi air permukaan menuju sungai.
Tekanan terhadap sumber daya air makin berat karena kepadatan penduduk. Kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan industri terus meningkat, sementara daya dukung lahan di kawasan hulu terus menurun.
Distribusi air bersih lewat mobil tangki暂时 menjadi jalan keluar paling memungkinkan karena kebutuhan air bersifat mutlak. 943 ribu warga Jawa Barat kesulitan air bersih akibat kemarau panjang sudah menerima distribusi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Namun solusi ini bersifat jangka pendek.
Untuk jangka panjang, pemulihan fungsi resapan DAS tidak bisa ditunda. Hatma menilai masyarakat harus mulai memandang fenomena iklim seperti El Niño dan La Niña sebagai kenormalan baru, bukan sekadar anomali sesekali.
Pengelolaan DAS bukan hanya tugas pemerintah. Tutupnya 106 tambang ilegal di 18 wilayah menunjukkan bahwa aktivitas tambang berkontribusi pada kerusakan lingkungan yang memperburuk krisis air.
Petani, pelaku industri, dan masyarakat umum memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air. Di tingkat rumah tangga, langkah sederhana seperti menghemat penggunaan air sudah bisa dimulai.