Rumah Sekali Retak Harus Diperbaiki Sendiri, Warga Nagrak Sukabumi Terjebak di Zona Merah Gempa Tanpa Opsi Pindah
Warga Nagrak Sukabumi terjebak di zona merah gempa karena keterbatasan finansial. Rumah mereka terus retak seusai setiap getaran, tapi tidak ada opsi untuk pindah.

Di Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan juga rekam jejak kerusakan yang tak pernah benar-benar hilang. Plafon ambruk hari ini menjadi dinding retak esok harinya begitu bumi bergetar. Warga memperbaiki apa yang bisa diperbaiki dengan uang sendiri, lalu menunggu getaran berikutnya datang.
Kerentanan bangunan menjadi salah satu faktor utama mengapa wilayah ini terus menerima dampak berat dari setiap gempa. Milky, petugas Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (P2BK) Nagrak dari BPBD Kabupaten Sukabumi, menjelaskan bahwa kerusakan yang terjadi seringkali disebabkan karena rumah tidak tahan getaran, rumah sudah tua, atau konstruksi bangunan yang tidak sesuai.
"Banyak rumah dibangun tanpa sloof besi dan menggunakan material kayu yang sudah lapuk. Ketika getaran datang, struktur itu tidak mampu menahan," kata Milky.
Baca Juga: Pansus Raperda Perlindungan Petani Terbentuk di Bekasi Jelang Hari Tani Nasional 2026
Kondisi ini semakin rumit karena warga sebenarnya mengetahui bahwa tempat tinggalnya berada di zona rawan. Namun, opsi untuk pindah sama sekali tidak tersedia. Mereka tidak memiliki tanah cadangan, dan membeli tanah di lokasi lain memerlukan biaya yang jauh di luar jangkauan.
"Mau beli tanah lagi uang dari mana? Belum lagi seluruh penghidupannya ada di sini," tutur Rodiyah, warga Desa Cisarua, Kecamatan Nagrak.
Pertanyaan tentang mengapa warga tetap bertahan di zona merah地震 bukan sekadar soal pilihan, melainkan tentang tembok kemiskinan yang menghalangi setiap opsi penyelamatan. Ketika ada anggaran untuk perbaikan pascabencana sekalipun, warga tetap terkendala karena tidak memiliki lahan kosong di luar zona rawan untuk membangun kembali.
Baca Juga: Polresta Cirebon Selidiki Kematian Karningsih di Rumah dengan Belasan Luka Tusukan
Di balik siklus kerusakan fisik, kelelahan mental juga menggerogoti warga secara diam-diam. Wahyu Wahyudin, relawan PMI Kabupaten Sukabumi, menceritakan bahwa pasca-gempa tahun 2000, para korban tidak menunjukkan isak tangis histeris melainkan kepanikan yang membeku dalam sunyi.
"Kita bisa lihat kepanikan dari mereka dengan raut wajah pandangan yang kosong. Hampir semua begitu, dan anak-anak banyak yang menangis," kata Wahyu.
Seiring waktu, warga memang mulai terbiasa meredam kepanikan. Namun menurut Wahyu, kelelahan mental menahun justru bersarang di balik kebiasaannya itu. Sebagian warga belum sepenuhnya memahami fenomena alam yang sering melanda wilayah mereka, sehingga setiap kejadian dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Zona merah gempa di Sukabumi bukan klaim baru. Peta kawasan rawan bencana (KRB) membagi wilayah ini ke dalam empat kategori: Sangat Rendah, Rendah, Menengah, dan Tinggi. Pusat gempa tersebar di laut maupun darat, dengan Sesar Cimandiri dan Sesar Citarik sebagai sesar yang paling berpengaruh terhadap peristiwa-peristiwa besar di wilayah ini.
Penelitian Forum Geosaintis Muda Indonesia menunjukkan bahwa gempa-gempa besar di Jawa Barat pada tahun 1900, 1962, 1969, 1973, 1975, 1977, 1982, 2000, 2006, dan 2007 memiliki keterkaitan dengan Sesar Cimandiri.
Gelombang perhatian publik yang biasanya surut setelah masa tanggap darurat tujuh hari meninggalkan lubang besar pada fase pemulihan. Keterbatasan biaya menjadi penghalang utama, bukan hanya bagi warga tetapi juga bagi institusi yang seharusnya hadir.
Wahyu menceritakan bahwa PMI Kabupaten Sukabumi sendiri masih menghadapi keterbatasan sarana transportasi dan jumlah relawan yang terbatas. Ketika membutuhkan kendaraan, mereka harus menyewa karena belum memiliki kendaraan operasional yang memadai.
Regulasi tata ruang yang lemah dan minimnya program relokasi jangka panjang membuat warga Nagrak terus menjadi penonton di rumah mereka sendiri. Selama negara belum hadir memberikan solusi perumahan yang aman bagi masyarakat kecil, tidak ada kekuatan yang mampu mengubah siklus ini.