Tiga Strategi Kunci Membangun Industri Nasional Berdaya Saing Global
Indonesia harus beralih dari Made in Indonesia ke Made by Indonesia. Transfer teknologi, investasi strategis, dan inovasi jadi kunci penguatan industri nasional.

Indonesia tengah berada di persimpangan kritis menuju transformação ekonomi. Seminar bertajuk Made in Indonesia: Membangun Daya Saing Industri yang Berkelanjutan yang menjadi rangkaian menuju Katadata Sustainability Action for the Future Economy (SAFE) 2026 menyoroti urgensi penguatan fondasi industri nasional.
Urgensi Penguasaan Teknologi Domestik
Keberhasilan suatu negara dalam membangun sektor industri tidak bisa diukur hanya dari besarnya investasi yang masuk. Indonesia perlu bergerak melampaui konsep Made in Indonesia menuju Made by Indonesia—di mana perusahaan nasional mampu menyerap teknologi, menghasilkan inovasi, dan berkembang menjadi pemain global.
Deputy Koordinator Sekretariat Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi, Dimas Muhamad, menegaskan bahwa industrialisasi sejati memerlukan industri yang kokoh sebagai tulang punggung pembangunan ekonomi.
"Kalau kita ingin menjadi negara maju dan menghadirkan lapangan kerja berkualitas, kita harus memiliki industri yang kokoh sebagai tulang punggung pembangunan ekonomi," tegas Dimas.
Tiga Pilar Transformasi Industri Nasional
Para pembicara dalam forum tersebut sepakat bahwa transformasi industri membutuhkan tiga aspek utama yang saling terintegrasi:
- Investasi strategis yang tidak sekadar menambah modal, tetapi membawa multiplier effect
- Transfer teknologi untuk membangun kemampuan industri dalam negeri
- Pengembangan inovasi sebagai motor penggerak daya saing jangka panjang
Managing Director Industrialization Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Ardy Muawin, menyatakan bahwa tidak ada negara maju yang memiliki industri lemah atau bergantung pada teknologi pihak lain.
"Industrialisasi bukan hanya soal ekonomi, tetapi soal membangun masa depan bangsa," tegas Ardy.
Peran Strategis Danantara dalam Penguatan Industri
Indonesia selama ini masih mengandalkan ekspor sumber daya alam dan keunggulan tenaga kerja murah. Melalui Danantara, pemerintah mengarahkan investasi pada sektor-sektor strategis yang mampu menghasilkan nilai tambah melalui tiga mekanisme utama:
- Transfer teknologi dari mitra global
- Pengembangan talenta industri dalam negeri
- Penguatan rantai pasok nasional
Pendekatan ini diharapkan dapat memindahkan Indonesia dari sekadar lokasi produksi menuju pusat inovasi dan manufaktur berteknologi tinggi.
Indonesia Battery Corporation: Contoh Konkret Hilirisasi
President Director Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya F. Arif, memandang penguasaan teknologi sebagai tantangan utama dalam membangun industri baterai nasional. IBC menjalin kemitraan dengan perusahaan global bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai langkah awal pembelajaran teknologi dan proses manufaktur.
"Yang kami bangun bukan sekadar pabrik baterai, tetapi kemampuan teknologi Indonesia. IBC bagi kami berarti Indonesia Battery Champion," papar Aditya.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset menjadi bagian integral dari strategi IBC untuk menyiapkan talenta industri yang kompeten dan mandiri.
Menuju Indonesia Berdaya Saing Global
Sinergi antara kebijakan pemerintah, investasi strategis, inovasi berkelanjutan, dan pengembangan sumber daya manusia menjadi fondasi bagi penguatan industri nasional. Dengan fondasi tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi juga mampu melahirkan perusahaan-perusahaan nasional yang berdaya saing global dan menguasai teknologi masa depan.
Kunci utamanya jelas: investasi harus disertai transfer teknologi, inovasi harus terus digelorakan, dan talenta industri perlu disiapkan sejak dini. Hanya dengan cara ini Indonesia dapat mewujudkan visi sebagai negara industri yang truly independent dan berdaya saing tinggi.