Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Terkuak! Jejak Kolonial di Balik Benteng Ciparang Cipatat KBB

KBB · Oleh Dimas Kurniawan · · Diperbarui 2 Maret 2026

Benteng Ciparang di Bandung Barat menyimpan jejak sejarah kolonial dan militer abad ke-20 yang belum sepenuhnya terkuak.

Terkuak! Jejak Kolonial di Balik Benteng Ciparang Cipatat KBB

Lengkap: Jejak Sejarah Benteng Ciparang di Bandung Barat

Kabupaten Bandung Barat tidak hanya dikenal dengan pemandangan perbukitan kapur yang memesona, tapi juga menyimpan segudang sejarah kolonial yang belum sepenuhnya terkuak. Salah satu bangunan tua misterius yang menjadi saksi bisu perjalanan kolonialisme dan perjuangan bangsa Indonesia adalah Benteng Ciparang atau dikenal juga sebagai **Benteng 11 Kamar, berlokasi di Kampung Ciparang, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.

Lokasi Strategis yang Tetap Berfungsi Hingga Kini

Bangunan ini terletak tak jauh dari **Benteng Bukit 500 di Kampung Margaluyu, Desa Citatah, yang menunjukkan bahwa wilayah Cipatat telah lama memiliki nilai strategis dalam kepentingan militer. Hingga saat ini, kawasan Cipatat masih berfungsi sebagai lokasi latihan militer bagi prajurit Tentara Nasional Indonesia, menegaskan bahwa sejak era kolonial, wilayah ini telah diakui sebagai lokasi yang ideal dan strategis untuk kebutuhan latihan militer.

Sejarah Awal yang Masih Menjadi Misteri

Riwayat pasti pendirian Benteng Ciparang belum ditemukan secara tertulis, namun sejumlah arsip dan pemberitaan surat kabar berbahasa Belanda dari awal abad ke-20 memperkuat dugaan kuat akan kaitan benteng ini dengan fungsi militer Cipatat. Beberapa catatan arsip tersebut antara lain:

Sumatra Post edisi 11 April 1929 memberitakan penyelenggaraan kursus latihan menembak karabin dan senapan mesin di Cipatat, menunjukkan bahwa wilayah ini telah lama berfungsi sebagai pusat pelatihan persenjataan bagi militer kolonial Hindia Belanda.

Het Nieuws van den Dag tanggal 5 Oktober 1927 mengulas rencana perluasan lokasi latihan menembak di Cipatat dan Cikadu, yang berbatasan dengan Banten. Perluasan ini dianggap esensial karena lokasi latihan menembak di Cisalak, dekat Sukabumi, dinilai tidak lagi memenuhi standar keselamatan. Keputusan ini menunjukkan bahwa Cipatat dipandang sebagai kawasan yang lebih aman dan cocok untuk latihan militer intensif.

*Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië tanggal 23 Februari 1929 mencatat kecelakaan latihan yang menimpa Sersan Glese, seorang prajurit Belanda, yang mengalami patah tulang selangka kiri. Catatan ini membuktikan bahwa kawasan Cipatat benar-benar merupakan medan latihan militer aktif, bukan sekadar lokasi pendukung.

Nilai Historis yang Perlu Dilestarikan

Meskipun sebagian struktur bangunan **Benteng Ciparang telah lapuk termakan usia dan perubahan zaman, benteng ini masih menyimpan nilai historis yang tinggi sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah lokal Kabupaten Bandung Barat. Hingga saat ini, hanya sebagian kecil masyarakat setempat yang mengetahui riwayat awal benteng ini, dengan sebagian besar hanya memahami bahwa area tersebut merupakan bagian dari wilayah latihan militer, sementara lahan garapan mereka berstatus milik institusi militer.

Keberadaan Benteng Ciparang menjadi bukti bahwa wilayah Cipatat telah menjadi pusat aktivitas militer selama lebih dari satu abad, dari era kolonial Hindia Belanda sampai saat ini. Meskipun tidak banyak yang mengetahui jejak sejarahnya, bangunan ini tetap menjadi saksi bisu perjalanan sejarah militer dan kolonial di wilayah Jawa Barat yang perlu dilestarikan sebagai warisan budaya dan sejarah lokal.