Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Teknologi Reverse Osmosis Ubah Air Gambut Jadi Layak Minum, Solusi Cerdas Mahasiswa UPER untuk Masyarakat Desa

Jabar · Oleh · · Diperbarui 2 September 2026

Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Pertamina rancang instalasi pengolahan air gambut skala komunal menggunakan teknologi Reverse Osmosis. Solusi ekonomis dan mudah dioperasikan untuk desa-desa di kawasan gambut Indonesia.

Teknologi Reverse Osmosis Ubah Air Gambut Jadi Layak Minum, Solusi Cerdas Mahasiswa UPER untuk Masyarakat Desa

Bagi jutaan masyarakat yang tinggal di kawasan gambut, memperoleh air bersih masih menjadi tantangan sehari-hari. Meski dikelilingi sumber air yang melimpah, sekitar 41 juta penduduk Indonesia yang hidup di wilayah gambut belum tentu dapat memanfaatkannya secara langsung.

Tantangan Air Gambut di Indonesia

Karakteristik air gambut yang asam, berwarna cokelat, serta mengandung zat organik dan logam dalam kadar tinggi menjadikannya tidak layak pakai tanpa pengolahan khusus. Kondisi ini menjadi momok bagi warga desa yang tinggal di kawasan lahan gambut.

Baca Juga: Dreame Luncurkan X60 dan H16 untuk Pasar Indonesia, Robot Vacuum Jangkau Sudut hingga 18 Sentimeter

Inovasi Mahasiswa Teknik Lingkungan UPER

Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Pertamina (UPER) merancang Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gambut Skala Komunal melalui pembelajaran Capstone Design. Tim ini terdiri atas Muhammad Karunia Vivaldi, Geovanny Tampubolon, Monica Septyani, Muhammad Raihan Rachman, dan Tiara Wulan Win Nedhari.

"Desa Indrapura kami pilih sebagai lokasi studi kasus karena karakteristiknya merepresentasikan tantangan penyediaan air bersih di kawasan lahan gambut," tutur Vivaldi, Ketua Tim.

Proses Pengujian Kualitas Air

Sebelum merancang instalasi, tim menguji kualitas air gambut di Desa Indrapura. Hasil pengujian menunjukkan:

Baca Juga: Jelang Ultah ke-80 PMI, Relawan Bekasi Perkuat Kesiapan Donor Darah dan Respons Bencana untuk 3 Juta Penduduk

Sistem Pengolahan Multi-Tahapan

Tim merancang sistem pengolahan yang mempertimbangkan empat aspek utama:

Sistem ini mengolah air melalui beberapa tahap, mulai dari menurunkan tingkat keasaman, menyaring zat pencemar, hingga pemurnian menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO).

"Kami merancang sistem yang tidak hanya efektif mengolah air gambut menjadi air bersih, tetapi juga mudah dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat," jelas Vivaldi.

Hasilnya, air yang semula berwarna cokelat dan mengandung besi serta mangan dapat diolah menjadi air yang memenuhi standar kualitas air bersih.

Dosen Pembimbing Apresiasi Inovasi

Dosen Pembimbing dari Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Pertamina, Dr.Eng. Ari Rahman, S.T., M.Eng., menilai inovasi tersebut menunjukkan bagaimana proses pembelajaran di perguruan tinggi dapat menghasilkan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

"Melalui Capstone Design pada Mata Kuliah Proyek Terintegrasi Berbasis Lingkungan (PTBL), mahasiswa tidak hanya belajar menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga merancang solusi berbasis data yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi," jelas Dr. Ari.

Komitmen Universitas Pertamina terhadap SDG 6

Pjs. Rector Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., mengapresiasi inovasi yang dihasilkan mahasiswa sebagai wujud pembelajaran yang berorientasi pada penyelesaian persoalan nyata di masyarakat.

"Pengembangan solusi untuk akses air bersih merupakan bagian dari komitmen Universitas Pertamina dalam mendukung pencapaian SDG 6 (Clean Water and Sanitation),"ujar Prof. Djoko.

Capaian tersebut semakin bermakna karena Universitas Pertamina berhasil meraih peringkat keempat terbaik di Indonesia pada kategori SDG 6 dalam THE Impact Rankings 2026.

Harapannya ke Depan

Konsep utama perancangan ini adalah menyesuaikan setiap tahapan pengolahan dengan karakteristik air baku sekaligus proyeksi kebutuhan air masyarakat hingga 20 tahun ke depan. Dengan pendekatan tersebut, sistem yang dirancang tidak hanya mampu meningkatkan kualitas air, tetapi juga memiliki potensi untuk diterapkan secara berkelanjutan dan dikembangkan di wilayah lahan gambut lainnya.