DLH Kota Cirebon Siapkan Tanah Uruk dan Tangki Air Antisipasi Titik Panas di TPA Kopiluhur
DLH Kota Cirebon siapkan tanah uruk dan tangki air untuk tangani titik panas di TPA Kopiluhur setelah pemetaan 2025 menemukan sebaran titik api dari akumulasi gas metana.

Warga sekitar Tempat Pemrosesan Akhir Kopiluhur di Kota Cirebon kini hidup dengan kekhawatiran tersendiri. Gas metana dari timbunan sampah yang menumpuk selama bertahun-tahun bisa menyala kapan saja tanpa peringatan jelas.
Gas ini bersifat dinamis, berpindah mencari ruang kosong di antara tumpukan sampah untuk kemudian menyalakan api. Titik-titik panas yang ditemukan dalam pemetaan 2025 di TPA Kopiluhur tersebar dalam ukuran kecil, tidak terkonsentrasi di satu lokasi.
Dinas Lingkungan Hidup Kota Cirebon merespons kondisi itu dengan menempatkan tanah uruk di dua sisi landfill. Gundukan ini bisa langsung digunakan untuk menutup timbunan sampah begitu ditemukan titik api.
Baca Juga: September Jadi Bulan Terakhir Pencairan PKH dan BPNT Triwulan III, KPM Diimbau Cek Status via Online
"Kita sudah membuat gundukan-gundukan urukan untuk antisipasi nanti kalau ada kebakaran," kata Kepala DLH Kota Cirebon Fina Amalia Purwantini.
Selain tanah uruk, satu tangki air ditempatkan di landfill aktif untuk mendukung penyiraman segera ketika ditemukan api atau kondisi yang berpotensi memicu kobaran. DLH juga menyediakan satu set peralatan penyiraman lengkap dengan pipa dan generator set.
DLH memberlakukan piket 24 jam di lokasi. Tim jaga ini memantau kondisi TPA secara berkelanjutan sehingga potensi kebakaran bisa ditangani sebelum meluas.
Baca Juga: DPD PKS Karawang Apresiasi Peran Polwan Lindungi Perempuan dan Anak di Tengah Masyarakat
Upaya ini melengkapi langkah preventif berupa pengelolaan timbunan sampah yang lebih ketat. Setiap sampah yang masuk diuruk segera agar tidak dibiarkan terbuka terlalu lama. Penundaan pengurukan menyebabkan akumulasi gas metana meningkat dan memperbesar risiko percikan api.
TPA Kopiluhur mengolah sampah dari populasi Kota Cirebon yang mencapai ratusan ribu jiwa. Volume harian yang terus bertambah membuat timbunan sampah menumpuk lebih cepat dari kapasitas pengurukan yang tersedia.
Kondisi serupa pernah terjadi di TPA lain di Jawa Barat yang mengalami kebakaran berulang akibat akumulasi gas metana. Kabel Internet Terputus di Jalan Kopo Lukai Pelajar, Pemangkasan Pohon Jadi Langkah Mitigasi
"Kita sudah kontrol landfill, jadi setiap sudah ada sampah diuruk," kata Fina.