Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Tarawangsa: Musik Sunda yang Menyatukan Alam, Manusia, dan Spiritual

KBB · Oleh Dimas Kurniawan ·

Tarawangsa adalah kesenian musik tradisional Sunda dari Sumedang, dipakai dalam ritual adat, menyatukan alam, manusia, dan spiritual, serta diakui sebagai warisan budaya tak benda.

Tarawangsa: Musik Sunda yang Menyatukan Alam, Manusia, dan Spiritual

Tarawangsa adalah kesenian musik tradisional Sunda yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat agraris Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Sumedang. Tidak sekadar menjadi hiburan, kesenian ini memegang peranan sentral dalam upacara adat dan praktik spiritual yang mengikat hubungan antara manusia, alam, dan dimensi spiritual.

Akar Sejarah dan Budaya Agraris

Sejarah Tarawangsa sudah dikenal sejak abad ke-15, tercatat dalam naskah kuno Sunda Sewaka Darma. Hingga saat ini, tradisi ini masih dilestarikan dengan baik di Desa Rancakalong, Sumedang, sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Kesenian ini tumbuh subur dari tradisi pertanian dan kepercayaan masyarakat terhadap siklus alam, sehingga sering dipentaskan dalam ritual panen seperti upacara Ngalaksa. Dalam upacara ini, Tarawangsa dimainkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta, penghormatan kepada Dewi Sri (simbol kesuburan), dan para leluhur yang telah menjaga kelestarian pertanian.

Alunan Musik dan Alat Musik Khas

Secara musikal, Tarawangsa dimainkan dengan dua alat musik utama yang khas:

Perpaduan antara kedua alat musik menciptakan alunan yang lambat, repetitif, dan penuh makna. Tidak seperti musik modern yang memiliki struktur baku, permainan Tarawangsa mengalir secara alami, mengikuti rasa dan kebutuhan spiritual para pendengar. Bunyi gesekan dan petikan yang dihasilkan juga menciptakan suasana hening dan kontemplatif, yang dapat membawa pendengar pada ketenangan batin.

Ibingan: Gerak Ritual yang Menyatu dengan Musik

Selain unsur musik, Tarawangsa juga memiliki elemen gerak yang dikenal sebagai ibingan Tarawangsa. Tidak sekadar tarian koreografis, ibingan ini adalah gerak ritual yang lahir dari penghayatan terhadap alunan musik. Gerakannya sederhana, mengalir, dan repetitif, dan umumnya dibawakan oleh penari perempuan. Tanpa pola panggung yang kaku, tubuh penari bergerak sebagai respons langsung terhadap irama yang dimainkan. Dalam beberapa kesempatan, ibingan Tarawangsa bahkan dapat memberikan pengalaman meditatif hingga transendental bagi para penari dan pendengar.

"Tarawangsa bukan hanya sebuah pertunjukan musik, tapi bahasa yang menghubungkan kita dengan leluhur dan alam sekitar kita. Setiap nada yang dimainkan adalah doa untuk kesuburan dan kedamaian," ujar seorang pandai tarawangsa di Desa Rancakalong, Sumedang, yang telah menjaga tradisi ini selama puluhan tahun.

Peran Tarawangsa dalam Menjaga Harmoni Masyarakat

Tarawangsa mengajarkan bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai tontonan, tapi juga sebagai sarana perenungan dan penghubung dengan nilai-nilai kehidupan. Melalui bunyi dan gerak yang diwariskan secara turun-temurun, kesenian ini berhasil menjaga harmoni antara manusia, alam, dan ingatan kolektif masyarakat Sunda. Bahkan, tradisi Ngalaksa bersama kesenian Tarawangsa telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Hingga saat ini, upaya pelestarian Tarawangsa terus dilakukan oleh masyarakat setempat dan para seniman lokal. Mereka menyelenggarakan workshop dan pagelaran secara rutin untuk memperkenalkan kesenian ini kepada generasi muda dan masyarakat luas, sehingga warisan budaya Sunda ini tidak punah dan tetap dapat dinikmati oleh banyak orang.