Strategi Sumedang Ganti Padi ke Palawija Antisipasi El Nino dan Kemarau Panjang
DPKP Sumedang arahkan petani beralih ke tanaman palawija hadapi El Nino. Potensi jagung 79.565 ton dan ubi kayu 88.575 ton jadi cadangan pangan.

Sumedang Siapkan Strategi Diversifikasi Tanaman Jelang Musim Kemarau
Dinasa Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, mengambil langkah strategis dengan mengarahkan petani melakukan penyesuaian pola tanam sebagai antisipasi menghadapi potensi El Nino atau musim kemarau panjang yang diprediksi berkepanjangan.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan DPKP Sumedang, Iwan Gustiawan, menegaskan bahwa penyesuaian ini dilakukan berdasarkan pemetaan wilayah menyeluruh, indeks pertanaman (IP), serta ketersediaan air di setiap kawasan pertanian.
"Kalau sawah hanya mengandalkan satu kali panen tentu risikonya lebih besar. Petani didorong menyesuaikan pola tanam, kalau memungkinkan bisa dua kali panen atau menanam komoditas lain yang lebih tahan terhadap musim kemarau," jelas Iwan.
Pemetaan Kerawanan Pangan Jadi Acuan Utama
Pemetaan kerawanan pangan dilakukan setiap tahun untuk menentukan wilayah mana yang sesuai ditanami padi dan wilayah mana yang lebih cocok untuk komoditas lain dengan kebutuhan air lebih sedikit.
Contohnya di kawasan Jatinunggal, terdapat wilayah yang hanya memiliki indeks pertanaman (IP) satu, sehingga petani diarahkan untuk beralih ke tanaman palawija yang lebih adaptif terhadap kondisi air terbatas.
"Petani tidak perlu memaksakan karena harus sesuai dengan pemetaan," tegas Iwan.
Potensi Komoditas Palawija Sumedang yang Menjanjikan
Diversifikasi menuju tanaman palawija bukan tanpa dasar. Sumedang memiliki potensi produksi palawija yang cukup besar dan menjanjikan:
- Jagung pipilan: 79.565 ton (2025)
- Ubi kayu: 88.575 ton
- Ubi Cilembu (unggulan): 460 hektare dengan produksi sekitar 7.820 ton per tahun
Komoditas-komoditas ini menjadi alternatif nyata ketika curah hujan menurun, sekaligus tetap menjaga pendapatan petani tetap stabil.
Cadangan Pangan Jadi Jaring Pengaman
Selain mendorong diversifikasi tanaman, DPKP Sumedang juga memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) sebagai instrumen penjaga ketersediaan pangan saat terjadi gangguan produksi maupun kondisi darurat.
Saat ini stok CPPD Kabupaten Sumedang tercatat sekitar 321,1 ton beras, berada di atas kebutuhan minimal cadangan pangan daerah yang ditetapkan sekitar 220 ton.
CPPD ini dapat digunakan untuk penanganan bencana alam, kerawanan pangan, maupun kondisi darurat lainnya dengan penyaluran berbasis usulan desa yang kemudian diverifikasi melalui kecamatan.
Diversifikasi sebagai Respons Perubahan Iklim
Iwan menekankan bahwa diversifikasi tanaman merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah dalam menghadapi perubahan iklim. Dengan pendekatan ini, petani memiliki alternatif komoditas ketika kondisi lahan tidak mendukung untuk budidaya padi.
"Yang penting produksi pangan tetap berjalan. Kalau kondisi air tidak memungkinkan untuk padi, bisa dialihkan ke komoditas yang lebih sesuai," tutup Iwan.
Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah Kabupaten Sumedang dalam membangun ketahanan pangan yang adaptif terhadap perubahan iklim, dengan menempatkan kesejahteraan petani sebagai prioritas utama.