Sistem Pengetahuan Sunda Kuno: Dari Hierarki Keahlian, Kosmologi Tiga Dunia, hingga Pengaruh Islam
Sistem pengetahuan kuno masyarakat Sunda terekam dalam naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian (SSKK) yang menekankan belajar dari ahli, beserta konsep kosmologi lokal tiga dunia sakala, niskala, dan jatiniskala.

Sistem Pengetahuan Sunda Kuno: Ajaran SSKK dan Kosmologi Lokal
Sistem pengetahuan kuno masyarakat Sunda tidak hanya tersimpan dalam cerita lisan, tetapi juga tercatat dengan baik dalam naskah-naskah kuno lokal. Salah satu sumber utama yang merekam prinsip dasar dan konsep kosmologi ini adalah Sanghyang Siksa Kandang Karesian (SSKK) serta naskah Sunda Kropak 422. Artikel ini akan mengupas tuntas ajaran kedua naskah tersebut dan relevansinya dengan kehidupan masyarakat Sunda modern.
Prinsip Inti Ajaran Sanghyang Siksa Kandang Karesian
Inti ajaran SSKK adalah pengakuan terhadap keahlian spesifik yang dimiliki setiap individu atau kelompok. Naskah ini menekankan bahwa untuk memahami suatu bidang, seseorang harus bertanya langsung kepada ahlinya. SSKK menggunakan perumpamaan yang mudah dipahami untuk menegaskan prinsip ini, seperti:
- Untuk mengetahui telaga berair jernih, bertanyalah kepada angsa
- Untuk memahami isi laut, bertanyalah kepada ikan
- Untuk mempelajari cerita tradisional, bertanyalah kepada dalang
- Untuk memahami lagu karawitan, bertanyalah kepada ahli karawitan (paraguna)
- Untuk urusan tempa besi, bertanyalah kepada pandai besi
- Untuk mempelajari seni masakan, bertanyalah kepada ahli masak (hareup catro)
Selain itu, ajaran ini juga menanamkan etika khusus tentang pengetahuan budi dan kebijaksanaan, yang sebaiknya ditanyakan kepada raja atau mahapendeta. Ruang lingkup ajaran SSKK sangat luas, mencakup semua aspek kehidupan mulai dari seni, kerajinan, administrasi negara, hingga spiritualitas.
Kesetaraan dalam Akses Pengetahuan
Salah satu aspek penting dari sistem pengetahuan Sunda kuno ini adalah prinsip kesetaraan. Ajaran SSKK ditujukan bagi semua kalangan, tanpa memandang latar belakang sosial atau ekonomi. Naskah ini menegaskan bahwa setiap orang berhak mengakses pengetahuan dari ahli sesuai bidangnya.
Nasihat dalam naskah SSKK ditutup dengan kalimat kuno yang memiliki makna mendalam:
"Ini kawuwusan siksakandang karesian ngaranya, ja na pustaka-nipun sang ngareungeu pun"
Yang diterjemahkan sebagai: "Demikianlah yang disebut siksakandang karesian, semoga menjadi sumber pengetahuan bagi yang mendengarkan."
Konsep Kosmologi Kuno Masyarakat Sunda
Selain sistem pengetahuan profesi, naskah Sunda Kropak 422 juga merekam konsep kosmologi khas masyarakat Sunda yang memadukan pandangan lokal, Hindu, dan Buddha. Konsep ini membagi alam semesta menjadi tiga dunia utama:
- Sakala: Dunia nyata yang dihuni oleh manusia, tumbuhan, dan semua benda berwujud
- Niskala: Alam gaib yang dihuni oleh para dewa, bidadari, dan makhluk halus
- Jatiniskala: Dunia gaib sejati tempat bersemayam Yang Maha Esa, yang dikenal sebagai Sanghyang Manon dan Sang Ijunajati Nistemen sebagai pencipta batas yang tak terhingga.
Konsep kosmologi ini tidak hanya menjadi bagian dari keyakinan spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai panduan untuk mencapai tujuan hidup tertinggi, yaitu kebahagiaan dan ketenangan abadi. Pandangan serupa juga muncul dalam teks Sewaka Darma serta tafsir Jakob Sumardjo atas pantun Mundinglaya Kusumah dan Eyang Resi Handeula Wangi, yang dipahami sebagai narasi ajaran kesalehan yang menekankan perjalanan kosmis manusia menuju kesempurnaan hidup (sampurna atau disampurnakeun).
Dualisme Pemaknaan dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam praktik kehidupan masyarakat Sunda modern, konsep kosmologi ini dipahami secara ganda. Di satu sisi, ia dimaknai secara simbolis sebagai perjalanan spiritual individu yang menuju kesempurnaan. Di sisi lain, konsep ini juga dipahami secara harfiah sebagai keyakinan akan keberadaan dunia nyata, dunia gaib, serta unsur supranatural.
Dualisme pemaknaan ini diduga dipengaruhi oleh masuknya ajaran Islam yang memperkenalkan konsep gaib sebagai bagian integral dari sistem keimanan. Hal ini memperkaya dan memodifikasi pandangan kosmologis masyarakat Sunda, menciptakan sintesis budaya yang unik dan khas.
Meskipun berasal dari era kuno, sistem pengetahuan dan konsep kosmologi masyarakat Sunda ini masih memiliki relevansi hingga saat ini. Prinsip belajar dari ahli dan penghargaan terhadap keahlian spesifik masih dianut dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa Barat, sementara konsep kosmologi tetap menjadi bagian dari warisan budaya yang dilestarikan dan diajarkan kepada generasi mendatang.