Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Sejarawan Desak Aksi 67 Polisi Cianjur dan Perang Cisokan Diakui dalam Sejarah Nasional

Jabar · Oleh ·

Sejarawan desak aksi 67 polisi pengibaran bendera di markas kepolisian Cianjur 16 Agustus 1945 dan Perang Cisokan melawan Inggris dicatat dalam sejarah nasional karena keduanya belum masuk narasi resmi.

Sejarawan Desak Aksi 67 Polisi Cianjur dan Perang Cisokan Diakui dalam Sejarah Nasional

Dokumen tentang aksi 67 polisi Cianjur dan Perang Cisokan terhadap Inggris belum tercatat dalam buku sejarah nasional. Kedua peristiwa itu dianggap hilang dari narasi resmi meski pelakunya disebut sudah mendeklarasikan diri sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Aksi 67 polisi terjadi di Markas Kepolisian Cianjur pada 16 Agustus 1945, dua hari sebelum proklamasi kemerdekaan dibacakan. Mereka menurunkan bendera Jepang dan mengganti dengan Sang Merah Putih di markas yang saat itu masih dikuasai Jepang.

"Jadi ini momen luar biasa. Mereka dengan sadar dan berani mengibarkan bendera di 16 Agustus 1945 di markas kepolisian Cianjur yang kala itu masih diduduki Jepang," kata sejarawan perang Hendi Jo seusai peringatan Hari Juang Polri di Cianjur, Jumat.

Baca Juga: Kades Mulyasari Minta Warga Bangun Fisik dan Mental Bersama-sama Setelah Peringatan Maulid Nabi

Usai aksi di kantor polisi, para pemuda mengibarkan bendera secara resmi di kantor keresidenan Jepang pada 18 Agustus 1945. Tindakan ini membakar semangat warga sekitar untuk turut mengibarkan Merah Putih.

Hendi Jo menilai momentum itu bukan sekadar pembuktian cinta Tanah Air. Menurut dia, 67 polisi itu telah mendeklarasikan diri secara tidak langsung sebagai bagian dari kepolisian dan NKRI, enam hari sebelum Mohammad Jasin membacakan Proklamasi Polri.

"Mereka bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ini rangkaian yang tidak boleh dilupakan," tegas Hendi.

Baca Juga: Aulia Ulfa Lulus Terbaik Biologi IPB Setelah 4 Tahun Merantau dari Bondowoso

Di sisi lain, berbagai kelompok pejuang di wilayah Cisokan Ciranjang, Cianjur, juga melakukan perlawanan terhadap tentara Inggris setelah kemerdekaan. Perlawanan tersebut tercatat dalam berbagai buku dan membuat Inggris menyebut Jalur Cianjur sebagai jalur neraka atau jalur kematian.

Kedua peristiwa itu tidak masuk dalam daftar perjuangan yang biasa dibacakan saat Hari Juang Polri. Hendi mendorong agar keduanya diakui dan dicatat dalam sejarah nasional.

"Kami dari peneliti sejarah akan menyuguhkan dokumen-dokumen penunjang agar sejarah itu dimasukkan. Ke depan kami harap juga disampaikan di seluruh kepolisian di Indonesia," kata Hendi.

KAPOLRES CianjurAKBP A Alexander Yurikho mengatakan akan membangun monumen untuk mengabadikan jasa 67 polisi. Pihaknya juga akan menelusuri keluarga mereka sebagai bentuk apresiasi.

Rencananya monumen itu berdiri di lokasi markas kepolisian Cianjur, tempat pengibaran bendera pertama kali dilakukan. Policeres juga menyiapkan penyusunan buku sejarah perjuangan di wilayah Cianjur untuk memastikan peristiwa ini tercatat secara resmi.

Belum ada jadwal pasti kapan pembangunan monumen dimulai dan kapan dokumen-dokumen sejarah itu disusun menjadi buku.