Sejarah Halalbihalal: Dari Strategi Politik 1948 ke Tradisi Persatuan Idulfitri Indonesia
Tradisi halalbihalal populer di Idulfitri Indonesia lahir dari strategi politik 1948 menyatukan elite bangsa, kini jadi simbol persatuan nasional.

Halalbihalal menjadi momen yang sangat dinanti selama perayaan Idulfitri di Indonesia, di mana keluarga, rekan kerja, dan tetangga berkumpul untuk saling memaafkan dan mempererat tali silaturahmi. Tapi tahukah kamu bahwa tradisi yang kini dianggap sebagai bagian dari budaya Lebaran ini bukan berasal dari Timur Tengah, melainkan lahir dari konteks sosial-politik nasional yang krusial pada tahun 1948?
Pengertian dan Etimologi Halalbihalal
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan halalbihalal sebagai kegiatan maaf-memaafkan setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan. Istilah ini berasal dari bahasa Arab “halala” yang bermakna menyelesaikan kesulitan, mencairkan yang beku, atau melepaskan ikatan. Meskipun akar katanya berasal dari bahasa Arab, bentuk dan makna halalbihalal sebagai tradisi maaf-memaafkan di Idulfitri telah mengalami adaptasi luas menjadi ciri khas budaya Indonesia.
Awal Mula Halalbihalal sebagai Solusi Politik 1948
Tahun 1948 merupakan masa kritis bagi Indonesia. Ibu kota negara dipindahkan ke Yogyakarta akibat agresi militer Belanda, sementara pemberontakan seperti PKI Madiun dan DI/TII mengancam persatuan bangsa. Di tengah krisis ini, konflik antarelite politik semakin memanas, yang berpotensi merusak upaya mempertahankan kemerdekaan. Presiden Soekarno kemudian memanggil KH. Wahab Chasbullah untuk mencari solusi menyatukan para tokoh politik. Awalnya, Kiai Wahab mengusulkan acara silaturahmi biasa saat Lebaran, tapi usulan ini dinilai kurang efektif karena faktor gengsi para politisi. Kemudian, Kiai Wahab mengusulkan istilah “halalbihalal” dengan pendekatan fikih, yaitu bahwa konflik dan saling menyalahkan merupakan dosa yang harus dihalalkan melalui saling memaafkan. Ide ini disambut baik oleh Soekarno karena memiliki nuansa religius sekaligus strategis, sehingga cocok untuk menyatukan elite yang terpecah. Pada Idulfitri 1948, undangan halalbihalal dikirimkan kepada para tokoh politik. Melalui forum ini, permusuhan antar tokoh mulai mencair, dan mereka bersalaman demi menjaga keutuhan bangsa. Sejak saat itu, tradisi halalbihalal mulai berkembang luas di masyarakat Indonesia.
Bukti Sejarah Halalbihalal yang Lebih Awal
Meskipun popularitasnya meledak setelah peristiwa 1948, bukti sejarah menunjukkan bahwa tradisi serupa telah ada jauh sebelum tahun tersebut:
- Manuskrip Babad Cirebon: Terdapat catatan istilah halal bihalal dalam manuskrip ini yang ditulis dengan huruf Arab Pegon, menunjukkan bahwa tradisi ini sudah dikenal di wilayah Cirebon sejak zaman dahulu.
- Tradisi Pisowanan di Praja Mangkunegaran Surakarta: Abad ke-18, masyarakat Praja Mangkunegaran Surakarta telah memiliki tradisi sungkeman kolektif setelah Lebaran, yang memiliki makna mirip dengan halalbihalal modern.
- Majalah Soeara Moehammadijah Tahun 1924: Istilah halalbihalal juga tercatat dalam majalah ini, menunjukkan bahwa istilah ini sudah digunakan dalam wacana publik sebelum peristiwa politik 1948.
- Ungkapan Martabak Malabar: Pada tahun 1935–1936, seorang penjual martabak asal India di Solo populerkan ungkapan “martabak Malabar, halal bin halal” yang menjadi salah satu cara istilah halalbihalal menyebar luas di masyarakat.
Evolusi Halalbihalal dari Tradisi Politik ke Simbol Persatuan
Dari awal sebagai solusi politik untuk menyatukan elite bangsa, halalbihalal kini telah berkembang menjadi simbol persatuan dan silaturahmi yang dianut oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Saat ini, tradisi ini tidak hanya diadakan di lingkungan politik, tapi juga di kantor, lingkungan perumahan, dan keluarga. Momen halalbihalal menjadi kesempatan bagi orang untuk meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan, baik kepada keluarga, rekan kerja, maupun tetangga. Hal ini membuat tradisi ini bukan hanya bagian dari perayaan Idulfitri, tapi juga bagian dari budaya persatuan Indonesia yang kuat.
Hingga saat ini, halalbihalal tetap menjadi salah satu tradisi Idulfitri yang paling dicintai di Indonesia. Selain sebagai momen maaf-memaafkan, tradisi ini juga menjadi pengingat akan pentingnya persatuan dan kerjasama antar sesama, terutama di tengah keragaman budaya dan agama yang ada di tanah air.