Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Sejarah Desa Cimanggu Ngamprah: Dari Kampung Pangkalan Kolonial Hingga Era Modern

KBB · Oleh Dimas Kurniawan ·

Ulasan lengkap sejarah Desa Cimanggu Kecamatan Ngamprah Bandung Barat, mulai dari masa kolonial Belanda hingga kepemimpinan kepala desa saat ini dengan visi BERBUDI.

Sejarah Desa Cimanggu Ngamprah: Dari Kampung Pangkalan Kolonial Hingga Era Modern

Desa Cimanggu yang terletak di Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, menyimpan sejarah panjang yang terjalin dengan perkembangan administrasi kolonial dan budaya lokal Sunda. Sejarah desa ini tidak lepas dari akar yang tumbuh di Kampung Pangkalan, yang awalnya berfungsi sebagai markas pemerintahan kolonial Belanda pada awal abad ke-19. Artikel ini akan mengulas secara mendalam perjalanan Desa Cimanggu dari masa kolonial hingga kepemimpinan saat ini.

Asal-usul Nama dan Awal Berdirinya Desa Cimanggu

Pada tahun 1814, wilayah yang sekarang menjadi Desa Cimanggu berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Pemerintah Belanda mendirikan markas di Kampung Pangkalan untuk mengatur wilayah sekitar, dan membutuhkan struktur administrasi lokal untuk memenuhi kebutuhan logistik dan pemerintahan. Maka, terbentuklah pemerintahan desa baru yang diberi nama Desa Cimanggu.

Nama desa ini diambil dari keberadaan sebuah pohon manggis besar yang tumbuh di dekat sumber mata air yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Dalam bahasa Sunda, kata "Ci" merujuk pada mata air, sedangkan "manggu" adalah istilah untuk manggis, sehingga Cimanggu diartikan sebagai tempat mata air yang ditandai oleh pohon manggis.

Musyawarah antara masyarakat setempat dan pihak kolonial memilih Narwat, seorang tokoh dari Kampung Pangkalan, sebagai kepala desa pertama pada tahun 1814. Selama masa kepemimpinannya hingga 1846, masyarakat Desa Cimanggu dihadapkan pada berbagai batasan akibat aturan kolonial, termasuk kewajiban menyerahkan hasil bumi kepada pemerintah Belanda.

Era Kepemimpinan Para Tokoh Desa Masa Kolonial dan Transisi

Setelah Narwat mengundurkan diri pada tahun 1846, Bia Saudi diangkat sebagai kepala desa kedua. Ia dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan memiliki kepedulian besar terhadap masyarakat, bahkan mulai merencanakan upaya perlawanan terhadap penjajah demi menciptakan ketertiban lokal. Masa jabatan Bia Saudi berlangsung hingga tahun 1868.

Pada tahun 1868, Sarif Hidayat Aliyudin (lebih dikenal sebagai Mbah Aliyudin) terpilih sebagai kepala desa ketiga. Sosoknya dikenal sebagai orang yang gagah berani dengan kemampuan bela diri yang disegani, bahkan namanya terkenal hingga ke daerah Serang, Banten. Selama kepemimpinannya hingga 1904, pelayanan pemerintahan dilakukan di rumahnya, sementara bale desa hanya digunakan untuk rapat atau pertemuan penting. Masyarakat patuh terhadap kepemimpinannya yang tegas, sehingga kondisi desa relatif aman.

Kepemimpinan dilanjutkan oleh Nursiman (atau H. Umar) dari tahun 1904 hingga 1913. Meskipun masa jabatannya hampir sembilan tahun, ia harus mundur karena kondisi kesehatannya yang menurun. Selama masa ini, masyarakat masih diwajibkan menyetorkan upeti kepada penjajah setiap bulan dan saat panen.

Selanjutnya, Poeradiredja menjabat sebagai kepala desa dari tahun 1914 hingga 1930. Ia dikenal sebagai pemimpin yang arif dan sangat memperhatikan kebersihan lingkungan desa. Berkat kepemimpinannya yang baik, Desa Cimanggu bahkan memperoleh penghargaan sebagai lurah terbaik di wilayah Kewadanaan Padalarang. Ia memutuskan untuk mengundurkan diri karena usia yang semakin lanjut.

Putranya, Koesnadi Poeradiredja, mengambil alih kepemimpinan dari tahun 1931 hingga 1949. Masa jabatan ini berlangsung pada masa transisi kekuasaan dari Belanda ke Jepang. Selama penjajahan Jepang, ia memanfaatkan situasi untuk menumbuhkan semangat perlawanan terhadap penjajah secara diam-diam.

Perkembangan Desa di Era Kemerdekaan Indonesia

Setelah Indonesia merdeka, Masri menjadi kepala desa pertama pada periode 1950 hingga 1955. Ia menjalankan pemerintahan dari rumahnya di Kampung Cibaligo, dengan bantuan aktif istrinya dalam melayani masyarakat.

Pada tahun 1956, Ardiredja terpilih sebagai kepala desa ke-7. Selama masa jabatan hingga 1965, ia menata administrasi pemerintahan desa dengan lebih baik dan melakukan pemetaan wilayah desa. Namun, pada tahun 1962, wilayah Desa Cimanggu mengalami gangguan keamanan akibat aksi kelompok Darul Islam yang melakukan perampokan dan kekacauan. Bersama aparat keamanan, masyarakat akhirnya mampu mengatasi gangguan tersebut hingga kondisi desa kembali aman pada tahun 1965.

Setelah Ardiredja mengundurkan diri, Sudarno menjabat sebagai pejabat sementara dari tahun 1965 hingga 1968. Selanjutnya, melalui pemilihan masyarakat, Maman Ure terpilih sebagai kepala desa dan menjabat hingga tahun 1983. Ia dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan disiplin, dan selama masa jabatanannya, berbagai pembangunan dilakukan melalui kerja bakti masyarakat, seperti pembangunan jalan lingkungan dan tanggul air untuk kebutuhan desa.

Pada periode 1983 hingga 1986, D. Supardjat menjabat sebagai pejabat sementara sebelum Sukandar terpilih sebagai kepala desa. Sukandar menjabat selama dua periode, dari tahun 1986 hingga 2003, dan selama masa jabatanannya, Desa Cimanggu mengalami banyak perkembangan, termasuk:

Kepemimpinan dilanjutkan oleh Andik Nahdili dari tahun 2003 hingga 2014, di mana pembangunan desa semakin berkembang, terutama dalam penyediaan sarana air bersih melalui pembangunan sistem perpipaan serta peningkatan pelayanan kesehatan melalui pendirian puskesmas pembantu.

Selanjutnya, Asep Suparman menjabat sebagai kepala desa dari tahun 2015 hingga 2021, dengan program kemasyarakatan yang semakin berkembang. Setelah masa jabatanannya berakhir, terjadi kekosongan kepemimpinan yang diisi oleh pejabat sementara Dadang Mulyana selama beberapa bulan pada tahun 2021.

Pada pemilihan kepala desa serentak tahun 2021, Budi Mulyana terpilih sebagai kepala desa ke-12 Desa Cimanggu. Ia adalah putra daerah dari Kampung Pangkalan dan sebelumnya pernah menjabat sebagai Sekretaris Desa. Dengan visi pembangunan BERBUDI (Bersih, Unggul, Dinamis, Islam, dan Amanah), kepemimpinan desa saat ini berupaya mendorong pembangunan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan potensi desa agar Desa Cimanggu terus berkembang di masa depan.

Sejarah Desa Cimanggu mencerminkan perjalanan panjang desa-desa di Jawa Barat, dari masa kolonial hingga era modern. Setiap kepala desa yang menjabat memiliki peran penting dalam membentuk identitas dan perkembangan desa, mulai dari mengatasi batasan kolonial hingga membangun infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat saat ini.

Sumber: Pemerintah Desa Cimanggu