Sanghyang Kenit: Kisah 30 Juta Tahun Bumi dalam Lanskap Karst Citatah
Kawasan karst Citatah di Bandung Barat menyimpan rahasia geologi 30 juta tahun. Sanghyang Kenit bukti interaksi Sungai Citarum purba dengan batu kapur.

Di tengah perbukitan kapur Bandung Barat, tersembunyi sebuah kawasan yang menyimpan rahasia perjalanan bumi selama puluhan juta tahun. Sanghyang Kenit, located in the karst landscape of Citatah, bukan sekadar destinasi wisata—kawasan ini merupakan dokumen hidup yang merekam bagaimana alam membentuk lanskap melalui waktu.
Jejak Panjang Pembentukan Bumi dalam Batu Kapur
Sanghyang Kenit terletak di Desa Rajamandala Kulon, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Secara geologis, kawasan ini merupakan bagian dari Formasi Rajamandala yang tersusun atas batu gamping.
Berdasarkan penelitian The Geology of Indonesia karya R.W. van Bemmelen, batuan penyusun kawasan ini berasal dari endapan organisme laut yang mengendap selama Kala Miosen, sekitar 20 hingga 30 juta tahun lalu. Pergerakan lempeng tektonik kemudian mengangkat endapan tersebut ke permukaan bumi.
"Kawasan karst ini bukan hanya bentang alam biasa—ini adalah rekam jejak aktivitas tektonik dan hidrologi selama jutaan tahun," jelas para ahli geologi.
Sungai Citarum Purba: Sang Pembentuk Lanskap
Sebelum Waduk Saguling dibangun pada dekade 1980-an, Sungai Citarum mengalir bebas melewati kawasan Rajamandala. Aliran tersebut dikenal sebagai Sungai Citarum purba yang debit airnya cukup besar.
Baca Juga: ASN PPPK Dinas PUTR Bandung Barat Terima Teguran Usai Live Streaming Saat Jam Kerja
Selama ribuan hingga jutaan tahun, arus sungai tersebut mengikis batuan kapur secara terus-menerus. Proses erosi ini membentuk:
- Lembah-lembah dalam
- Lorong-lorong batu alami
- Ceruk dan tebing-tebing kapur
- Gua-gua bawah tanah
Jejak proses geomorfologi ini masih dapat diamati melalui struktur batuan dan morfologi kawasan yang tetap bertahan hingga kini.
Nama Sanghyang Kenit dan Tradisi Lisan
Nama "Sanghyang Kenit" berasal dari dua kata yang bermakna dalam budaya lokal:
- Sanghyang: merujuk pada sesuatu yang dianggap suci atau dimuliakan
- Kenit: dikaitkan dengan pusaran air yang melingkar di kawasan tersebut
Masyarakat setempat meyakini pusaran air itu pernah menjadi bagian dari aliran Sungai Citarum purba. Cerita paling dikenal berkaitan dengan Tokoh Eyang Wastu Lingga, yang dikisahkan melakukan ritual penghormatan kepada leluhur di kawasan ini.
Hubungan dengan Situs Arkeologi Goa Pawon
Nilai sejarah Sanghyang Kenit tidak dapat dipisahkan dari kawasan Rajamandala secara keseluruhan. Tidak jauh dari lokasi, terdapat Goa Pawon—situs arkeologi tempat ditemukannya kerangka manusia prasejarah.
Penemuan ini membuktikan bahwa kawasan karst Rajamandala telah menjadi ruang hidup manusia sejak masa prasejarah. Ketersediaan sumber air, tempat berlindung, dan sumber daya alam menjadikan kawasan ini sebagai salah satu lokasi penting dalam sejarah permukiman manusia di Jawa Barat.
Harmoni antara Warisan Geologi dan Budaya
Sanghyang Kenit kini dikenal sebagai destinasi wisata alam dengan panorama tebing kapur menjulang dan suasana khas kawasan karst. Namun, nilai sesungguhnya terletak pada keselarasan antara:
- Warisan geologi: rekam jejak pembentukan lanskap selama jutaan tahun
- Warisan budaya: tradisi lisan yang terus hidup di masyarakat
- Warisan arkeologi: bukti permukiman manusia prasejarah
Pentingnya Pelestarian
Kawasan ini menyimpan warisan yang tak ternilai. Menjaga Sanghyang Kenit berarti menjaga salah satu bentang alam yang merekam perjalanan bumi sekaligus melestarikan identitas budaya Kabupaten Bandung Barat.
Sebagai laboratorium alam terbuka, kawasan ini menawarkan jendela untuk memahami bagaimana interaksi antara air, batuan, dan waktu mampu menciptakan lanskap yang memukau—sekaligus menjadi pengingat bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari cerita panjang ini.