Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Salat atau Sembahyang? Menyelami Asal-usul Kata Ibadah dalam Islam Nusantara

KBB · Oleh Dimas Kurniawan · · Diperbarui 2 Maret 2026

Menyelami asal-usul kata salat dan sembahyang, berita ini mengungkap strategi dakwah Sunan Ampel yang adaptif mengintegrasikan istilah lokal untuk mempermudah penerimaan Islam di Nusantara. Sebuah bukti akulturasi budaya dan kearifan dakwah yang membentuk wajah Islam di Indonesia.

Salat atau Sembahyang? Menyelami Asal-usul Kata Ibadah dalam Islam Nusantara

Salat atau Sembahyang: Menelusuri Jejak Sejarah Ibadah dalam Islam Nusantara

Dalam lanskap kebahasaan Indonesia, dua kata — salat dan sembahyang — kerap mengacu pada ritual ibadah fundamental umat Islam. Meskipun salat merupakan adopsi langsung dari bahasa Arab, kemunculan sembahyang memiliki narasi historis yang kaya, terjalin erat dengan proses Islamisasi di Nusantara. Penggunaan istilah ini bukan sekadar pilihan leksikal, melainkan strategi dakwah yang cerdas dan adaptif, mencerminkan kearifan para penyebar Islam awal.

Strategi Dakwah Inklusif Walisongo

Penelusuran sejarah menunjukkan bahwa penggunaan istilah sembahyang sebagai sinonim bagi salat adalah salah satu taktik dakwah progresif yang digagas oleh Sunan Ampel. Sebagai salah satu Walisongo terkemuka, Sunan Ampel memainkan peran krusial dalam menyebarkan ajaran Islam di kepulauan ini pada abad ke-15 dan ke-16.

Pada masa itu, masyarakat Nusantara, khususnya di Jawa, sangat kental dengan tradisi dan kepercayaan Hindu-Buddha. Dalam konteks budaya yang demikian, pendekatan adaptif menjadi kunci. Dengan mengadopsi istilah yang sudah akrab di telinga masyarakat, Sunan Ampel berhasil menjembatani kesenjangan budaya, memperkenalkan salat tanpa menimbulkan resistensi. Pendekatan ini menunjukkan fleksibilitas luar biasa dalam dakwah Islam, yang mampu merangkul budaya lokal tanpa mengorbankan esensi ajaran agama.

Mengenal Lebih Dalam Akar Kata 'Sembahyang'

Secara etimologis, kata sembahyang adalah gabungan dari dua unsur: sembah dan hyang. Kata sembah memiliki makna menghormati, tunduk, atau mengagungkan. Sementara itu, hyang merujuk pada entitas ketuhanan yang Mahasuci, sejalan dengan konsep seperti Sang Hyang Widhi atau Parahyangan dalam kepercayaan lokal. Istilah ini telah lama digunakan oleh masyarakat pribumi untuk merujuk pada ritual pemujaan kepada Tuhan, jauh sebelum islamisasi mengambil tempat.

Hal ini semakin dipertegas dalam penjelasan yang diungkapkan melalui kanal YouTube @santri.langgar. Dijelaskan bahwa pemanfaatan istilah lokal ini bertujuan agar ajaran Islam dapat lebih mudah diterima oleh komunitas yang telah terpapar dengan kosakata serupa. Ini menunjukkan kepekaan dan pemahaman Sunan Ampel terhadap kondisi sosiokultural saat melancarkan dakwahnya.

Akulturasi Budaya dan Konsep 'Urf

Langkah adaptif ini merupakan bentuk akulturasi budaya yang halus dan efektif. Dengan menyebut salat sebagai sembahyang, masyarakat tidak merasa sedang beralih ke praktik yang sepenuhnya asing. Mereka tetap merasakan kesinambungan makna, yaitu ibadah sebagai bentuk penyembahan kepada Tuhan, meskipun dengan pemahaman tauhid yang lurus yang diperkenalkan oleh Islam.

Seiring berjalannya waktu, sembahyang mengukuhkan posisinya sebagai istilah yang mengakar kuat di kalangan Muslim Indonesia. Dalam korpus fikih, fenomena semacam ini dikenal sebagai ‘urf, atau kebiasaan yang diterima secara umum. Sebagaimana dikutip dari Republika, ulama besar Buya Hamka pernah menyatakan bahwa penggunaan istilah sembahyang tidaklah keliru karena telah menjadi ‘urf yang diakui. Hal ini selaras dengan kaidah al-‘urf qāḍin, yang menegaskan bahwa kebiasaan sah dijadikan pertimbangan hukum selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar agama.

Islamisasi yang Bijak dan Kontekstual

Pada akhirnya, sejarah di balik istilah sembahyang bukanlah indikasi penyimpangan ajaran, melainkan cerminan dari proses Islamisasi yang bijaksana dan kontekstual. Istilah ini berdiri sebagai bukti nyata bahwa Islam masuk ke bumi Nusantara melalui jalan damai, menghargai kekayaan budaya lokal, dan membangun dialog peradaban yang harmonis. Ini adalah kisah sukses tentang bagaimana agama dan budaya dapat bersinergi, menciptakan identitas keagamaan yang unik dan berakar kuat dalam tradisi setempat.