Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

RWL Lembang: Kode Rahasia Bangunan Kolonial Belanda yang Makin Terlupakan

KBB · Oleh Dimas Kurniawan · · Diperbarui 2 Maret 2026

RWL Lembang: Kode rahasia di balik bangunan kolonial Belanda yang terancam punah. Sistem penomoran unik ini saksikan sejarah, namun kini kian terlupakan.

RWL Lembang: Kode Rahasia Bangunan Kolonial Belanda yang Makin Terlupakan

Jejak yang Terancam Punah: Kode RWL, Saksi Bisu Penomoran Bangunan Kolonial Lembang

Lembang, sebuah wilayah yang kaya akan peninggalan era kolonial Belanda, tak hanya menawarkan bangunan-bangunan megah yang otentik. Di balik kemegahan itu, terdapat detail-detail kecil yang menyimpan sejarah panjang, namun kini terancam dilupakan. Salah satunya adalah sistem penomoran bangunan kolonial yang dikenal dengan kode RWL (Rayon Wilayah Lembang). Sistem unik ini kini di ambang kepunahan, seiring maraknya renovasi bangunan-bangunan tua yang abai terhadap nilai historisnya.

Keunikan RWL sebagai Penanda Administratif Kolonial

Fenomena ini diungkapkan oleh Malia Nur Alifa, seorang penulis sekaligus pegiat sejarah Lembang. Ia menyoroti kekhasan sistem penomoran ini yang menurutnya istimewa. RWL, kata Malia, merupakan sistem administratif pada masa kolonial yang hanya ditemukan di Lembang. Berbeda dengan wilayah lain seperti Cimahi, yang penomoran bangunannya cenderung mengikuti struktur kepangkatan militer, Lembang memiliki pola yang konsisten.

“Di Lembang, sistemnya selalu seperti ini. RWL itu artinya Rayon Wilayah Lembang, dan dulunya selalu ada di setiap rumah kuno,” jelas Malia.

Kode RWL umumnya terpasang pada bagian tertentu bangunan-bangunan lama, berfungsi sebagai penanda resmi dan bukti nyata fungsi administratif wilayah pada era Hindia Belanda. Sayangnya, banyak bangunan yang direhabilitasi justru kehilangan penanda bersejarah ini.

“Setiap rumah kuno yang direhab, ininya dibuang. Kebanyakan tidak mengerti bahwa ini juga masuk cagar budaya,” ujarnya prihatin.

Hilangnya Jejak dan Harapan Penyelamatan

Saat ini, keberadaan kode RWL sangat terbatas. Malia mencatat bahwa di seluruh wilayah Lembang, hanya tersisa sekitar enam bangunan yang masih mempertahankan penomoran tersebut. Bangunan-bangunan itu tersebar di beberapa lokasi strategis, antara lain:

Di kawasan Cikole, hanya ditemukan satu bangunan dengan kode yang berbeda, menunjukkan variasi yang menarik dalam sistem ini.

Variasi Kode: Petunjuk Administratif yang Lebih Luas

Selain kode RWL, Malia juga menemukan variasi huruf lain dalam sistem penomoran tersebut, seperti huruf 'S' dan 'R'.

Huruf S ini saya belum benar-benar paham artinya, tapi selalu muncul di daerah Ciburial. Kalau di Cikole beda sendiri, pakai R. Mungkin karena lebih jauh dari pusat pemerintahan,” kata Malia.

Variasi ini mengindikasikan bahwa sistem penomoran kolonial di Lembang jauh lebih kompleks dari sekadar nomor rumah biasa. Ini adalah bagian dari pengaturan wilayah dan administrasi yang lebih luas. Namun, banyak contoh penanda ini telah hilang:

Dibilang hilang saja. Padahal itu bagian sejarah,” ungkap Malia dengan nada prihatin mendalam.

Urgent: Dokumentasi dan Edukasi

Malia menegaskan bahwa dokumentasi dan edukasi mengenai RWL harus segera dilakukan. Jika tidak, jejak sistem ini akan benar-benar lenyap, menyisakan kekosongan dalam catatan sejarah Lembang. Ia berharap kesadaran publik dan pihak terkait dapat meningkat, agar setiap renovasi bangunan bersejarah di Lembang tidak lagi mencabut penanda RWL yang tersisa.

“Ini kecil, tapi penting. Tolong diangkat supaya terselamatkan,” pungkasnya, menekankan pentingnya menjaga memori kolektif yang terkandung dalam setiap kode yang tersisa. Ini adalah warisan yang patut dipertahankan dan dilestarikan untuk generasi mendatang. Pelajari lebih lanjut tentang Cagar Budaya Indonesia.