Ratusan Warga Desa Ciburuy Belum Terima Kerohiman, Baru 58 Bangunan Terealisasi
Penataan kawasan Situ Ciburuy di Padalarang, Bandung Barat telah menimpa 322 bangunan. Hanya 58 yang menerima bantuan kerohiman, 264 lainnya menunggu akibat keterlambatan perencanaan anggaran akhir tahun. Warga menghadapi kesulitan sosial ekonomi tanpa dana kompensasi.

Latar Belakang Penataan Kawasan Situ Ciburuy
Pada September hingga Oktober 2024, Pemerintah Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Bandung Barat melaksanakan penataan kawasan sekitar Situ Ciburuy. Tujuan penataan ini adalah untuk menjaga kelestarian ekosistem situ serta mengatur penggunaan lahan di wilayah pinggiran yang sebelumnya tidak teratur.
Proses pendataan bangunan terdampak dilakukan bersama Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jawa Barat, dengan melibatkan RT dan RW setempat. Dari hasil pendataan, tercatat sebanyak 322 bangunan terdampak, yang mencakup rumah hunian, tempat usaha, sawah, dan kolam.
Realisasi Bantuan Kerohiman Hanya 18% dari Total Bangunan Terdampak
Kepala Desa Ciburuy, Firmansyah (Firman) mengungkapkan bahwa hingga saat ini, hanya 58 bangunan yang telah menerima bantuan kerohiman sesuai janji Gubernur Jawa Barat. Rinciannya, 41 rumah hunian menerima Rp10 juta masing-masing, dan 17 tempat usaha mendapatkan Rp5 juta per unit.
Angka ini hanya sekitar 18% dari total bangunan yang terdampak penataan. Sisanya, sebanyak 264 bangunan masih menunggu proses realisasi bantuan, yang membuat warga mulai mengajukan pertanyaan tentang keterlambatan ini.
Alasan Keterlambatan Bantuan Lanjutan: Proses Perencanaan Anggaran Akhir Tahun
Menurut Firman, keterlambatan realisasi bantuan lanjutan disebabkan oleh proses perencanaan anggaran yang sedang berlangsung di akhir tahun anggaran. Bantuan tahap berikutnya direncanakan bersumber dari APBD Provinsi Jawa Barat, yang hingga kini masih dalam tahap persiapan.
"Proses persiapan anggaran di akhir tahun memang membutuhkan waktu lebih lama, dan kami sedang berkoordinasi dengan Dinas PSDA untuk mempercepat proses ini," ujar Firman kepada wartawan.
Dampak Sosial Ekonomi pada Warga Pasca-Pembongkaran
Progres pembongkaran bangunan di kawasan Situ Ciburuy telah mencapai 95 hingga 98 persen, namun sebagian besar warga yang terdampak masih menghadapi kesulitan sosial dan ekonomi:
- Warga yang kehilangan rumah hunian harus mengontrak tempat tinggal atau tinggal sementara di rumah sanak saudara dengan biaya sendiri
- Pengusaha yang kehilangan tempat usaha belum dapat melanjutkan aktivitas ekonominya karena belum menerima dana bantuan kerohiman
- Fasilitas umum seperti masjid, madrasah, dan sekolah masih berdiri, namun masa depan dan penataan selanjutnya masih menjadi pertanyaan terbuka
Aspirasi Warga dan Upaya Pemerintah Desa
Firman menyatakan bahwa pemerintah desa telah menampung aspirasi warga yang mempertanyakan keterlambatan bantuan. "Kami akan segera menyampaikan aspirasi ini ke Dinas PSDA Provinsi Jawa Barat untuk mendapatkan klarifikasi dan solusi cepat," katanya.
Warga juga mengungkapkan khawatir bahwa jika bantuan tidak segera dicairkan, dampak sosial ekonomi akan semakin berkepanjangan. "Harapan kami, bantuan bisa segera diterima sehingga kami bisa memulai hidup baru," ujar salah satu warga terdampak.
Progres Pembongkaran Mendekati 100%, Fasilitas Umum Masih Menunggu Penataan
Meski pembongkaran bangunan telah hampir selesai, fasilitas umum seperti masjid dan sekolah masih berdiri. Firman menjelaskan bahwa fasilitas ini dikecualikan dari pembongkaran dan menjadi tugas bersama antara pemerintah desa dan provinsi untuk menentukan penataan selanjutnya.
"Kami berharap pemerintah provinsi bisa segera memberikan arahan tentang penataan fasilitas umum ini, sehingga warga tidak perlu khawatir tentang akses ke layanan publik," tambah Firman.