Potret Longsor di Gunung Burangrang yang Terjang Cisarua Bandung Barat
Pusgeosau TNI AU mengerahkan drone Avia Hybrid untuk memantau dua mahkota longsor di Cisarua Bandung Barat. Data geospasial dari drone mendukung operasi SAR, evakuasi, dan penanganan bencana sejak 27 Januari 2026.

Drone Avia Hybrid TNI AU Bantu Pantau Dua Mahkota Longsor Cisarua Bandung Barat: Update SAR dan Data Geospasial
Pada Selasa (27 Januari 2026), Pusat Geospasial TNI Angkatan Udara (Pusgeosau) mengerahkan drone Avia Hybrid untuk memantau wilayah terdampak tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Langkah ini merupakan bagian dari upaya penanggulangan bencana alam yang melibatkan kolaborasi antara TNI AU dengan tim SAR dan otoritas lokal.
Konteks Dua "Mahkota Longsor" di Gunung Burangrang
Kepala Basarnas Masydya M Syafii menjelaskan dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI bahwa longsoran di Cisarua berasal dari Gunung Burangrang dan memiliki dua "mahkota longsor" yang menjadi sumber utama dampak:
"Kami izin sampaikan bahwa awalnya kami men-detect adalah satu puncak titik dari pusat longsor yang kami sebut adalah 'mahkota longsor'. Dari titik mahkota longsor sampai dampak longsoran yang terbawah ini mencapai 2.009 meter. Ternyata mahkota longsor tidak di ketinggian itu sebenarnya awalnya. Jadi di puncak Gunung Burangrang itu ternyata ada mahkota yang pertama. Ternyata dari longsoran ini menciptakan longsoran kedua dengan mahkota itulah. Jadi langsung menimpa dalam bukit yang besar ini dan berdampak seperti ini"
Dua mahkota longsor ini menyebabkan area sekitar Desa Pasirlangu mengalami kerusakan infrastruktur dan membutuhkan operasi SAR intensif untuk mencari korban yang terjebak.
Fungsi Drone Avia Hybrid dalam Penanggulangan Bencana
Drone Avia Hybrid yang dikerahkan Pusgeosau memiliki keunggulan khusus untuk operasi di area bencana:
- Mesin hybrid yang memungkinkan waktu terbang lebih lama dibanding drone konvensional, sehingga dapat memantau area luas dalam satu misi
- Kemampuan mengambil citra udara beresolusi tinggi di area yang sulit dijangkau oleh personel lapangan (misalnya area longsoran yang masih berisiko runtuh kembali)
- Menghasilkan data geospasial yang akurat untuk membuat peta detail lokasi korban, infrastruktur terdampak, dan jalur evakuasi yang aman
Marsda TNI Ferdinand Roring, Kapusgeosau, menjelaskan bahwa data dari drone ini dimanfaatkan untuk:
"Data hasil pemantauan udara dimanfaatkan untuk mendukung pencarian korban, operasi SAR, penanganan darurat, serta identifikasi jalur evakuasi dan infrastruktur terdampak"
Keterlibatan TNI AU dalam operasi ini termasuk dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP), yang fokus pada bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana alam di wilayah Indonesia.
Kolaborasi TNI AU dengan Tim SAR untuk Evakuasi dan Penanganan
Hingga Kamis (29 Januari 2026), operasi SAR di Cisarua masih berlangsung dengan dukungan data real-time dari drone Avia Hybrid. Kolaborasi antara TNI AU, Basarnas, dan tim penyelamat lokal membantu:
- Mempercepat proses identifikasi lokasi korban yang terjebak di area sulit dijangkau
- Menentukan jalur evakuasi yang aman untuk warga yang terdampak
- Memantau perkembangan longsoran secara berkala untuk menghindari risiko tambahan bagi personel penyelamat
Dukungan teknologi drone dalam penanggulangan bencana seperti ini menunjukkan pentingnya integrasi teknologi modern dengan operasi kemanusiaan, terutama di wilayah yang rawan bencana alam seperti Jawa Barat.