Pompa Bertekanan Tinggi Jadi Andalan Diskarmatan Kota Bandung Bantu Cari Korban Longsor Cisarua
Diskarmatan Bandung peran aktif dalam penanganan longsor Cisarua dengan pompa bertekanan tinggi, koordinasi SAR, dan strategi baru untuk bencana tanah longsor.

Strategi Penanggulangan Longsor Cisarua: Peran Diskarmatan Bandung yang Lebih Dari Sekadar Pemadam Kebakaran
Bandung, 26 Januari 2024 – Bencana longsor yang melanda wilayah Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung Barat sejak akhir pekan lalu menuntut respons cepat dari berbagai lembaga penanggulangan bencana. Di antara mereka, Dinas Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmatan) Kota Bandung menonjol dengan pendekatan yang menggabungkan keahlian pemadaman, rescue, dan penggunaan pompa bertekanan tinggi.
Latar Belakang Bencana
Pada Sabtu (24/1), hujan lebat yang dipicu oleh pola cuaca ekstrem menyebabkan material tanah di lereng Cisarua runtuh, menimbulkan ribuan meter kubik material longsor yang menutupi beberapa rumah penduduk. Dampaknya: korban tertimbun, akses jalan terputus, dan kebutuhan air untuk operasi penyelamatan yang sangat tinggi.
Peran Diskarmatan Kota Bandung
Kepala Diskarmatan Kota Bandung, Soni Bakhtiar, mengonfirmasi bahwa sejak pagi hari pertama, timnya telah menurunkan dua regu secara bergiliran:
- Regu Rescue: 7 personel, fokus pada pencarian dan evakuasi korban manusia serta hewan.
- Regu Pemadaman: 7 personel, mengoperasikan peralatan pemadam dan pompa air bertekanan tinggi.
"Sejak hari Sabtu pagi, kami sudah berada di lokasi. Sampai hari ini sudah empat hari kami terjunkan personel untuk membantu evakuasi korban longsor," kata Soni Bakhtiar pada Senin (26/1).
Pompa Air Bertekanan Tinggi
Alat utama yang diandalkan adalah pompa air bertekanan tinggi. Tekanan kuat memungkinkan tim untuk menyemprotkan air ke dalam timbunan tanah, melonggarkan material, dan membuka jalur bagi tim SAR menemukan korban. Penggunaan pompa ini menjadi kunci karena:
- Mempercepat proses pembongkaran material.
- Mengurangi risiko penurunan kembali tanah yang belum stabil.
- Memungkinkan evakuasi cepat bagi korban yang terperangkap.
Koordinasi dengan Tim SAR, BNPB, dan BPBD
Diskarmatan tidak beroperasi secara terisolasi. Alat berat seperti excavator dan bulldozer dikelola oleh tim SAR, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Diskarmatan berfokus pada sarana dan keahlian pemadam serta human‑rescue.
Tantangan Operasional
Meskipun berhasil, tim menghadapi beberapa kendala signifikan, terutama pada hari pertama:
- Akses jalan yang terputus: Kendaraan pemadam kesulitan menembus medan berbatu dan lumpur.
- Kebutuhan debit air tinggi: Pompa memerlukan aliran air yang besar, sementara sumber air di lokasi terbatas.
Untuk mengatasi masalah air, tim membangun bendungan sementara guna menampung air hujan yang dapat dipompa kembali ke lokasi penyelamatan.
Koordinasi Lanjutan dan Proyeksi Kedepan
Soni menegaskan bahwa Diskarmatan akan tetap berada di lapangan hingga ada perintah resmi dari Basarnas atau BPBD untuk menghentikan pencarian. Selain itu, pengalaman ini memicu penyusunan protokol baru untuk bencana tanah longsor, termasuk:
- Penyediaan pompa cadangan khusus untuk operasi tanah longsor.
- Pelatihan lintas fungsi bagi petugas pemadam agar lebih siap melakukan rescue di medan berat.
- Penguatan jaringan komunikasi antara Diskarmatan, SAR, BNPB, dan BPBD.
Soni juga menekankan bahwa pelayanan pemadam di kota Bandung tetap optimal meskipun sebagian personel dikerahkan ke Cisarua. Petugas yang seharusnya libur rela mengorbankan waktu istirahat demi menjaga kesiapan operasional di ibu kota.
Kesimpulan
Penanganan longsor Cisarua menegaskan bahwa Diskarmatan Kota Bandung bukan sekadar pemadam kebakaran tradisional. Dengan mengintegrasikan teknologi pompa bertekanan tinggi, koordinasi lintas lembaga, dan komitmen personel yang tinggi, mereka berhasil memperluas peran dalam penyelamatan manusia dan hewan pada bencana alam. Pengalaman ini menjadi pelajaran penting bagi kota-kota lain di Jawa Barat yang rawan tanah longsor, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem di masa depan.
Artikel ini disusun berdasarkan laporan resmi Diskarmatan Kota Bandung dan wawancara dengan Kepala Diskarmatan, Soni Bakhtiar.