Polisi Malaysia Tangkap 335 Orang di Forest City, Aset Senilai Rp4,3 Miliar Disita
Polisi Malaysia menangkap 335 orang dalam sindikat penipuan di Forest City, kawasan reklamasi Johor yang sejak awal gagal populated. Aset Rp4,3 miliar disita dari operasi yang memanfaatkan kekosongan kota tersebut.

Polisi Malaysia menemukan ratusan orang beroperasi dari balik Facade kota masa depan. Mereka bukan penduduk, melainkan bagian dari sindikat penipuan yang memanfaatkan kekosongan Forest City di Johor.
Penyelidikan yang dimulai awal Juli 2026 itu berakhir dengan penangkapan 335 orang. Polisi menyita aset senilai sekitar 1 juta ringgit atau setara Rp4,3 miliar. Barang bukti yang disita meliputi 313 komputer, 1.557 telepon seluler, 17 laptop, dan 10 modem.
Temuan ini membuka tabir baru soal realitas di balik proyek megah yang sempat dipromosikan sebagai kawasan terpadu bergaya hidup modern. Forest City dibangun di atas pulau-pulau hasil reklamasi di Selat Johor, berbatasan langsung dengan Singapura.
Baca Juga: Veteran Karawang Tabur Bunga di Makam Pahlawan Sambil Ajak Generasi Muda Perkuat Nilai Pengabdian
Sindikat Bercokol di Menara Hunian
Aktivitas sindikat terpusat di satu menara hunian. Polisi menemukan operasi di 32 lokasi berbeda yang tersebar di 27 apartemen di lima lantai gedung tersebut. Lima bungalow di kawasan itu juga digunakan.
Polisi menduga sindikat menjalankan dua jenis penipuan. Pertama, penipuan investasi yang menyasar korban di luar negeri. Kedua, penipuan romansa atau romance scam yang menggunakan profil palsu untuk membangun hubungan emosional sebelum meminta uang.
Baca Juga: Karyawan Warkop di Majalengka Buat Laporan Palsu Perampokan untuk Tutupi Penggelapan
Kekosongan yang Menarik Pelaku
John Wojcik, analis dari TRM Labs yang meneliti kejahatan berbasis kripto, mengamini hubungan antara kekosongan kawasan dan aktivitas kriminal.
Forest City mencerminkan kondisi yang telah menjadi target kejahatan terorganisir selama bertahun-tahun.
Wojcik menjelaskan bahwa lokasi yang dipasarkan sebagai kota pintar bergengsi dan mewah itu tidak pernah mendekati visinya. Kondisi itulah yang justru menciptakan celah bagi jaringan kriminal.
一名 penghuni yang juga bekerja sebagai sales properti kawasan itu membeberkan kondisi berbeda antara promosi dan kenyataan. Dia menceritakan bahwa perusahaan melatih mereka untuk menyebut jumlah penduduk Forest City mencapai 23.000 orang.
Mereka punya privasi sendiri. Tidak ada yang datang ke sini.
Namun jumlah penghuni sebenarnya jauh lebih kecil. Dia memperkirakan kurang dari 5.000 orang yang tinggal di kawasan itu. Kapasitas yang jauh lebih besar justru justru empty, menciptakan zona tenang yang nyaman bagi aktivitas ilegal.
Proyek 15 Persen dan Utang Menggunung
Forest City merupakan proyek patungan antara Country Garden, salah satu pengembang properti terbesar asal China, dengan Danga 88 yang dikendalikan Sultan Malaysia Ibrahim Iskandar. Pembangunan dimulai pada 2016.
Rencana awal sangat ambisius. Kawasan ini dirancang sebagai kota terpadu dengan hotel mewah, lapangan golf, taman air, area perkantoran, dan apartemen tepi laut. Targetnya menjadi hub modern di perbatasan Malaysia-Singapura.
Namun pemerintah Malaysia tidak sepenuhnya mendukung proyek ini. Izin pembangunan bahkan sempat dipermasalahkan hanya enam bulan setelah groundbreaking. Country Garden juga tercatat memiliki beban utang yang sangat besar.
Pandemi COVID-19 memperparah situasi. Pembatasan perjalanan membuat kawasan yang sudah sepi semakin kehilangan penghuni. Until sekarang, pembangunan Forest City baru mencapai sekitar 15 persen dari seluruh rencana.
Reputasi Baru Forest City
Forest City kini menghadapi ironi besar. Proyek yang seharusnya menjadi simbol kota masa depan justru terpuruk sebagai kota hantu. Kekosongan yang menjadi masalah kini berubah menjadi daya tarik tersendiri bagi sindikat kriminal.
Polisi Malaysia belum mengungkap apakah ada korban dari Indonesia dalam jaringan penipuan ini. Namun temuan ini menambah daftar panjang proyek properti besar yang gagal di kawasan Asia Tenggara, sekaligus menunjukkan risiko keamanan yang muncul ketika perencanaan kota tidak berjalan sesuai visions.
Plt. Kepala Densus 68 Mabes Polri sebelumnya menyatakan koordinasi dengan kepolisian Malaysia terus berjalan terkait penanganan kasus-kasus penipuan berbasis online yang banyak melibatkan korban warga negara Indonesia.