Suhu 37,2 Derajat di Cirebon Picu Kekhawatiran Warga soal Karhutla dan Krisis Air Bersih
Suhu 37,2 derajat Celcius di Cirebon dan Majalengka memicu kekhawatiran warga terhadap karhutla dan krisis air bersih. BPBD mencatat 28 karhutla pada September dengan total 169,96 hektare lahan hangus.

Suhu udara di wilayah Cirebon dan sekitarnya masih bertahan di angka tinggi. Setelah sempat menyentuh 37,2 derajat Celcius di wilayah Jatiwangi, masyarakat kini menghadapi ancaman ganda: risiko kebakaran hutan dan lahan yang makin meluas serta kekhawatiran atas ketersediaan air bersih.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka mencatat 28 kejadian karhutla sepanjang September 2026. Dari data yang dihimpun sejak awal tahun hingga 2 Oktober 2026, total luas lahan yang hangus terbakar telah mencapai 169,96 hektare. Kondisi ini menempatkan karhutla sebagai jenis bencana paling dominan di wilayah Majalengka selama musim kemarau tahun ini.
"Karhutla masih mendominasi kejadian kebencanaan pada September lalu," terang Penata Penanggulangan Bencana Ahli Pertama pada Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Majalengka, Wawan Suryawan. Ia menambahkan bahwa api mudah sekali meluas ketika vegetasi kering bertemu angin kencang.
Kerentanan wilayah Cirebon dan Majalengka terhadap karhutla bukan muncul tiba-tiba. Berdasarkan pengamatan Stasiun Meteorologi Kelas III Kertajati, suhu maksimum di wilayah Jatiwangi sudah beberapa kali menyentuh angka 37,2 derajat Celcius dalam sepekan terakhir. Kondisi ini dipicu oleh posisi matahari yang sedang bergerak menuju garis lintang selatan, sebuah fenomena musiman yang rutin terjadi pada September hingga Oktober.
"Suhu tinggi tersebut lumrah di bulan September-Oktober karena posisi matahari menuju ke arah kita," jelas Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Kertajati, M. Syifaul Fuad, Senin (5/10/2026). Ia memprediksi kondisi panas ini akan bertahan hingga akhir Oktober, sementara hujan baru diprediksi turun pada November mendatang.
Bagi warga yang bermukim di kawasan dengan vegetasi kering, ancaman karhutla bukan sekadar potensi, melainkan kekhawatiran nyata. Beberapa waktu lalu, wilayah Bandung dan sekitarnya juga mengalami kondisi serupa ketika kelembapan udara menurun drastis dan warga diminta mewaspadai dehidrasi serta paparan suhu panas menyengat Kelembapan Bandung Capai 98 Persen, Warga Diminta Waspadai Dehidrasi dan Suhu Panas Menyengat. Pengalaman itu menunjukkan bahwa gelombang panas bukan hanya soal kenyamanan, melainkan juga dampak langsung terhadap kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Dua Pemuda Dirampok Saat Berkendara di Jalan Cimanuk Garut, Pelaku Ancam dengan Senjata Tajam
Di tengah musim kemarau yang belum berakhir, warga juga diminta bijak menggunakan air bersih. Fuad mengingatkan agar masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, memperbanyak konsumsi air putih, dan tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan.
"Waspadai potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah kering dan rawan terbakar," tegas Fuad. Ia menekankan agar warga tidak membuang puntung rokok sembarangan karena dalam kondisi kering dan berangin, percikan kecil bisa memicu kebakaran besar yang sulit dikendalikan.
BPBD Majalengka sendiri telah menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat. Koordinasi juga melibatkan TNI, Polri, dan instansi terkait untuk mencegah aktivitas yang bisa memicu percikan api di tengah vegetasi yang makin kering 28 Karhutla Terjadi di Majalengka September 2026, 4.707 Warga Terdampak.