Pergeseran Peran Wanita Sunda: Dari Bahasa hingga Mitologi Lokal
Telusuri bagaimana bahasa dan mitologi Sunda merekam pergeseran pandangan terhadap perempuan, dari figur sentral di naskah kuno hingga refleksi kemandirian dalam istilah modern.

Peran perempuan dalam suatu kebudayaan tidak pernah tunggal, melainkan dibentuk oleh bahasa, narasi, dan sistem pengetahuan yang hidup di dalamnya. Dalam konteks budaya Sunda, evolusi pandangan terhadap perempuan dapat ditelusuri melalui dua ranah krusial: bahasa dan mitologi. Keduanya menjadi cerminan bagaimana perempuan diposisikan, dimaknai, dan mengalami transformasi seiring dinamika zaman.
Perempuan dalam Naskah Kuno: Bukan Sekadar Figur Pinggiran
Dalam khazanah Sunda lama, posisi perempuan tidak selalu terpinggirkan. Sejumlah naskah kuno mengindikasikan bahwa perempuan kerap hadir sebagai figur sentral, baik dalam dimensi spiritual maupun sosial. Kajian naskah Sunda kuna yang dimuat dalam Jurnal Lopian (2021) mengungkapkan bahwa tokoh perempuan bisa tampil sebagai pertapa, pemegang kebijaksanaan, hingga penentu arah dalam alur cerita. Ini menunjukkan bahwa pada periode tertentu, perempuan memiliki posisi simbolik yang kuat dalam struktur budaya Sunda.
Namun, pergeseran sosial dan sejarah secara bertahap mengubah pandangan ini. Bahasa, sebagai penanda utama, merekam perubahan persepsi masyarakat terhadap perempuan.
Bahasa sebagai Cermin Pergeseran Makna
Bahasa Sunda memiliki beragam istilah untuk menyebut perempuan, seperti istri, pamajikan, geureuha, mojang, awéwé, dan wanoja. Istilah-istilah ini bukan sekadar sinonim netral, melainkan mengandung muatan makna sosial yang berbeda.
Seperti dikutip dari BandungBergerak.id (2021), istilah istri, pamajikan, dan geureuha sangat erat kaitannya dengan posisi perempuan dalam relasi rumah tangga. Identitas perempuan dipahami utamanya melalui hubungannya dengan laki-laki dan perannya di ranah domestik. Cara penyebutan ini merefleksikan pandangan yang menempatkan perempuan sebagai subjek relasional, bukan individu yang mandiri.
Perubahan signifikan mulai tampak seiring meningkatnya penggunaan istilah wanoja dalam media dan tulisan Sunda modern. Berdasarkan kajian linguistik yang dipublikasikan dalam Ranah: Jurnal Kajian Bahasa (2013), istilah wanoja tidak merujuk pada status pernikahan dan tidak memiliki padanan kata untuk laki-laki. Penggunaan wanoja mencerminkan cara pandang yang lebih menitikberatkan perempuan sebagai individu mandiri dan subjek sosial yang aktif. Pergeseran pilihan kata ini merupakan indikator penting dalam perubahan persepsi masyarakat Sunda mengenai peran dan posisi perempuan dalam kehidupan sosial.
Mitologi dan Sejarah: Bukti Otoritas Perempuan
Selain bahasa, mitologi Sunda juga menyimpan gambaran penting tentang pandangan terhadap perempuan. Dalam epik Lutung Kasarung, tokoh Sunan Ambu digambarkan sebagai pemimpin di kahyangan sekaligus figur ibu kosmis yang memegang otoritas dan kebijaksanaan tertinggi. Gambaran ini menunjukkan bahwa dalam alam simbolik dan spiritual, perempuan justru ditempatkan pada posisi yang sangat luhur. Representasi tersebut menjadi bukti bahwa dalam imajinasi budaya Sunda, perempuan tidak selalu berada di bawah bayang-bayang laki-laki.
Jejak serupa juga dapat ditemukan dalam kisah-kisah sejarah lokal, seperti legenda Galunggung yang mengisahkan figur Sang Batari Hyang sebagai pemimpin perempuan. Kajian sejarah budaya yang dimuat dalam Jurnal Humaniora (2020) mengindikasikan bahwa keberadaan tokoh ini menegaskan bahwa sistem patriarki bukanlah satu-satunya pola kekuasaan yang pernah hidup dalam masyarakat Sunda. Pada masa tertentu, perempuan bahkan menjadi pusat legitimasi kekuasaan.
Perempuan Sunda: Subjek yang Bernegosiasi dalam Perubahan
Pada masa kini, pandangan masyarakat Sunda terhadap perempuan terus mengalami proses tawar-menawar antara nilai-nilai tradisional dan realitas sosial yang dinamis. Bahasa dan narasi tidak hanya merefleksikan perubahan ini, tetapi juga turut membentuk perspektif baru. Dengan membaca ulang bahasa dan mitologi Sunda secara kritis, kita dapat memahami bahwa perubahan cara memandang perempuan bukanlah hal asing, melainkan bagian inheren dari dinamika budaya Sunda itu sendiri.
Perempuan Sunda, dalam sejarah dan kebudayaannya, tidak pernah sepenuhnya pasif. Ia hadir dalam bahasa, dalam cerita, dan dalam ingatan kolektif sebagai subjek yang terus menegosiasikan ruang, peran, dan maknanya di tengah perubahan zaman.